
Ibunda Reiki itu langsung mengambil dua amplop tadi dan dimasukkannya ke dalam tas.
“Loh, kok uangnya diambil, Tante?” tanya Sena.
“Gak jadi,” jawab Lena ketus. “Sebenarnya saya gak sudi minta maaf sama kalian berdua.”
Liora tercengang. “Jadi Mama dari tadi bicara baik, manis, lembut itu ternyata biar kami mau mencabut laporan? Gitu.”
Istri Malik Alterio itu memalingkan wajah sambil mengerlingkan mata.
“Wah, aku pikir Mama tadi beneran sudah berubah dan sadar, ternyata Mama cuma pura-pura aja.” Liora menggeleng tak percaya.
“Kalau anak saya akhirnya harus di penjara lama, buat apa saya minta maaf sama kalian dan kasih uangnya. Rugi dong saya.”
Tawa istri Wafi pun pecah. “Ternyata Mama sama Reiki gak berubah, ya. Gak sadar setelah ditimpa kasus seperti ini kalian masih aja tetap sombong, angkuh.”
“Terserah saya, dong.”
“Mah, Mama sadar gak sih kalau musibah yang sedang menimpa keluarga Mama itu hukum karma karena dulu kalian jahat sama aku.”
“Gak ada yang namanya hukum karma. Memangnya kamu siapa? Sampai keluarga saya dapat karma. Apa kamu wanita ahli surga,” ledek Lena.
Nafas panjang dibuang Liora, sedangkan Sena menggeleng tak percaya.
“Ma.”
“Jangan panggil saya Mama. Saya bukan mertua kamu lagi,” tegas Lena.
“Oke, Tante. Awalnya saya kasihan melihat keluarga kalian. Tapi dengan sikap Tante yang seperti ini, rasa simpatik saya jadi hilang.”
“Saya gak butuh rasa simpatik kamu.”
“Oh, oke. Kalau begitu siap-siap aja nanti setelah persidangan kasus ini selesai saya akan tuntut Reiki atas harta gono-gini. Bagaimanapun saya berhak atas harta yang didapatnya karena saya yang menemaninya berjuang dari bawah,” tantang Liora.
“Cih, jangan harap kamu. Sepeser pun gak akan kamu dapatkan,” cibir Lena.
“Kita lihat saja nanti.” Liora berkata dengan penuh keyakinan. “Saya bisa bikin anak Tante masuk penjara lalu kenapa saya gak bisa mendapatkan hak saya.”
“Apa maksud kamu?” Lena bertanya dengan mata terbelalak.
“Gak ada maksud apa-apa.” Liora berdiri. “Sepertinya urusan kita sudah selesai jadi saya pergi.”
__ADS_1
“Heh,” Lena menghadang mantan menantunya. “Jelaskan dulu maksud perkataan kamu yang sudah membuat anak saya masuk penjara.”
“Gak ada yang perlu dijelaskan.” Liora keluar dari ruangan itu disusul Sena.
Namun, Lena mengejarnya dan menarik rambut mantan menantunya itu.” Dasar nenek lampir, katakan apa maksud perkataan kamu,” jerit Lena. Ibu mana yang terima jika ternyata anaknya memang dijebak. Apa yang selama ini Reiki katakan benar adanya hanya saja mereka tak memiliki bukti.
“Aw, sakit,” Liora menjerit. Para pengunjung di restoran itu pun berhamburan melihatnya. Mereka berdiri dan mengeluarkan kamera ponsel demi mengabadikan momen itu.
“Kamu sengaja membuat anak saya dipenjara, hah?” Lena menggila dia terus menjambak rambut mantan menantunya dan meremas pipi Liora. Tak peduli dengan kerumunan orang.
Sena pun berusaha melepaskan Liora dari wanita tua itu. “Tante, udah stop. Malu dilihat banyak orang.”
Plak…
Satu tamparan dilayangkan Lena di pipi model itu. Membuat Sena terpaku di posisi saking kagetnya.
“Kamu juga pasti ikut-ikutan menjebak anak saya kan!” geram Lena. “Katakan kalau kalian bersekongkol,” jeritnya.
Petugas keamanan pun datang untuk memisahkan keributan. “Buk, Anda bisa kami tuntut karena sudah membuat keributan di restoran kami dan membuat pengunjung tidak nyaman.
Dada Lena tampak naik turun menahan emosi yang masih membara. Rasanya ia belum puas memberi pelajaran pada dua wanita yang pernah mengisi hari-hari putranya. Namun, atas ancaman dari security tadi ia memilih pergi.
“Mbak, gak papa?” tanya Sena pada Liora.
“Tolong,” teriak si model.
Petugas restoran langsung melarikannya ke Rumah Sakit terdekat.
...🐸🐸🐸🐸...
Setelah mengobati sedikit lukanya di pipi, Liora diperbolehkan pulang oleh pihak Rumah Sakit. Bagian yang bertanggung jawab dari restaurant tadi pun mengantarnya pulang ke apartemen di temani Sena. Atas persetujuannya dengan si model, pihak Restoran tidak akan menuntut Lena.
“Gila, Mbak, masih aja berakting,” ujar Sena. Mereka sama-sama mendudukkan diri di sofa ruang tamu.
“Ya, kapan lagi. Mumpung ada kesempatan jadi dimanfaatkan. Biar orang-orang tau gimana Mama Lena itu yang sebenarnya.” Liora tampak masih kesal dengan sikap mantan mertuanya.
“Benar. Aku gak nyangka lo, Mbak, ibunya Reiki begitu.” Sena memegangi pipinya yang masih terasa panas.
“Kamu baru itu. Lah saya, bertahun-tahun makan hati.”
“Kenapa gak kita laporin aja sih. Padahal tadi pihak restorannya bersedia loh.”
__ADS_1
“Emangnya kamu gak capek bakalan hadir di persidangan terus?”
“Iya, juga sih. Habis ini katanya sidang buat kita yang bakalan digelar.”
“Nah, makanya.” Liora meringis ketika ia mencoba menyisir rambutnya dengan jari. “Lihat, saking kuatnya tarikan Mama Lena rambutku jadi banyak yang rontok.”
Sena pun bergidik ngeri. “Harus ke salon deh, Mbak, biar nanti gak botak.”
Liora mengangguk.
Tiba-tiba Wafi pun datang. Polisi itu tampak cemas saat menghampiri istri sirinya. “Kamu gak papa kan?”
“Loh kok kamu pulang? Katanya banyak kerjaan.” Liora pun balik bertanya.
“Aku khawatir pas lihat video kamu diserang Ibunya Reiki.” Wafi memeriksa luka kecil di pipi istrinya. Ia juga melihat seonggok rambut di genggaman Liora.
“Aku gak papa, Bee.”
“Gak papa gimana. Ini rambut kamu kenapa bisa begini.”
“Cuma dijambak, tapi kuat.” Liora masih saja terkekeh.
“Gak bisa, aku bakalan laporkan masalah ini.”
“Eh, udah gak usah main-main laporan lagi. Aku udah capek berurusan sama polisi dan persidangan.”
“Aku gak terima, Yank.”
“Gak papa.”
Sena yang berada di sana merasa bagaikan seekor nyamuk. Ia pun berdiri hendak berpamitan. “Kalau gitu aku pulang, ya, Mbak.”
“Duh, maaf, ya, Sen. Aku gak bermaksud mengabaikan kamu.”
“Hahaha, gak papa. Namanya juga Pak Wafi lagi khawatir sama istrinya. Aku juga mau istirahat. Capek habis pisahin Mbak sama Tante Lena tadi.”
“Makasih, ya, kamu udah nolong aku tadi.”
“Santai aja, Mbak. Mbak juga pernah menolong saya.”
“Saya juga berterima kasih,” tambah Wafi.
__ADS_1
Sena mengangguk dengan senyuman. Model itu pun beranjak dari sana.