DRAMA WIFE

DRAMA WIFE
Drama 22


__ADS_3

Semalam, Lena dilarikan ke Rumah Sakit. Wanita itu kena serangan jantung akibat mendengar penuturan Malik tentang sang putra. Kini keadaannya kritis dan disarankan oleh dokter untuk segera dioperasi. 


“Lakukan yang terbaik untuk istri saya, Dok,” pinta Malik.


“Baik, Pak,” jawab Dokter.


Malik pun menantikan kedatangan kuasa hukum keluarganya yang sudah dihubungi sejak tadi. Sambil duduk di pinggir ranjang istrinya, laki-laki itu mengurut kapala yang terasa berat.


“Pak,” sapa Kani yang baru tiba.


Malik berdiri dan mengajak pengacara itu duduk di sofa. “Urus penangguhan penahan Reiki secepatnya. Kalau bisa sertakan alasan mamanya lagi sakit. Saya yakin polisi gak bisa menolak.”


“Baik, Pak.”


“Lalu apa ada kabar dari kuasa hukumnya Pak Joko tentang perusahaan?”


“Untuk saat ini belum, Pak. Nanti akan saya coba cari tau.”


“Terima kasih.”


“Bagaimana kabar Ibu, Pak?”


“Kata dokter harus operasi. Hari ini saya mau ke kantor dulu untuk melihat perkembangan. Siapa tau Joko datang ke sana.”


“Lalu Ibuk?”


“Nanti akan ada suster yang bakalan jagain.”


“Akan saya usahakan membawa Pak Reiki pulang.”


“Harus, biar dia bisa ketemu mamanya dan urus perusahaan. Setidaknya sampai persidangan digelar.”


Kani mengangguk. “Kalau begitu saya jalan sekarang, Pak.”


“Baik.”


\=\=\=\=\=\=

__ADS_1


Penangguhan penahanan Reiki pun dikabulkan dengan jaminan uang karena sang bunda sedang terbaring di Rumah Sakit setelah menjalani tindakan operasi.


“Jika perkara ini sudah dilimpahkan ke pengadilan maka status Pak Reiki akan berubah menjadi terdakwa,” ujar Kani.


Reiki yang duduk di samping ranjang Lena hanya diam sambil memegangi tangan ibunya.


“Apa gak ada cara lain untuk bisa membuktikan kalau Reiki tidak bersalah,” tanya Malik.


Kani pun menatap Reiki. “Sesuai dugaan Pak Reiki kalau kedua saksi bekerja sama maka kita harus mencari buktinya. Dengan begitu saya rasa status Pak Reiki akan berubah.”


Malik memanggil sang putra untuk ikut bergabung bersamanya.“Sekarang gimana? Apa kamu bakalan diam saja, pasrah menerima tuntutan.”


“Pak, jangan pancing Pak Reiki untuk melakukan suatu tindakan yang dapat merugikannya.” Kani memberikan masukan.


“Diam kamu,” bentak Malik. “Sebagai kuasa hukum kamu sama sekali tidak bisa membantu.”


Kani pun menundukkan kepala.


“Papa, tenang aja. Aku akan coba temui Sena dan bujuk dia untuk bisa memberikan keterangan yang sebenar-benarnya. Kalau dia gak mau, aku akan cari bukti tentang kerja samanya dengan Liora.”


“Baik.Tapi kamu harus hati-hati. Papa gak mau polisi nantinya tau.”


“Gila kamu, ya.” Malik naik pitam. “Meringankan hukuman kata kamu? Yang saya mau anak saya dinyatakan tidak bersalah,” katanya dengan suara sopran. “Mulai sekarang kamu saya pecat.”


Raut wajah Kani langsung memerah.


“Dasar pengacara gak becus. Percuma kamu saya bayar mahal-mahal, bisanya cuma  meringankan hukuman. Apa itu namanya. Jelas-jelas anak saya tidak bersalah.” Malik berkata sambil berkacak pinggang.


“Baik kalau begitu.” Kani berdiri dari duduknya. “Silahkan cari pengacara lain yang bisa membebaskan Pak Reiki. Saya jamin mau Bapak bayar sepuluh kali lipat pun mereka belum tentu bisa.”


“Nantangin kau, ya,” hardik Malik. Dadanya tampak naik turun akibat emosi.


“Pa, sudah,” lerai Reiki. “Ini rumah sakit, kasian Mama.”


“Usir dia.”


“Gak perlu, saya bisa pergi sendiri,” sahut Kani. Tanpa permisi pengacara yang merasa dirinya dicampakkan itu melenggang pergi.

__ADS_1


Malik yang tadinya berdiri, kembali duduk di sofa ruang inap sang istri. Matanya melirik Lena di ujung sana lalu memijat kepala yang seakan mau pecah. “Besok Papa akan panggil pengacara hebat untuk menangani kasus kamu ini. Selama kamu masih di luar segera cari cara untuk membuktikan kalau kamu tidak bersalah.”


“Baik, Pa. Malam ini aku akan temui Sena.”


\=\=\=\=\=\=


Sena yang merasa bersalah menundukkan kepala di hadapan kedua orang tua Milen. “Maafkan saya, Om, Tante. Saya sudah merusak rumah tangga putri kalian.”


Joko dan istrinya saling tatap. “Kami tak merasa kalau putri kamu suci. Kami pun sadar kalau Milen juga salah sudah menikah dengan suami orang,” tutur Puri.


“Dan kesalahan juga gak sepenuhnya ada di kamu,” tambah Joko. “Reiki juga salah. Jadi kami tak akan menghakimi kamu.”


“Terima kasih.”


“Maksud kami ingin bertemu dengan kamu hanya ingin menanyakan soal kejadian malam itu,” terang Joko. “Liora memang sudah menceritakannya pada kami, tapi kami juga ingin mendengarkan versi kamu.”


“Baik, saya akan menjelaskannya.” Mengalirlah cerita hasil karangan Liora dari bibir Sena. Sama persis seperti apa yang disampaikannya di kantor polisi waktu itu. Membuat Joko dan Puri meyakini kalau sang menantulah yang sudah mencelakai putri mereka.


“Saya menyesal, Om, Tante. Kalau saja malam itu saya gak datang lagi kerumah Reiki, pasti kejadiannya gak akan seperti ini.Anak kalian gak akan meninggal,” isak Sena. “Terlepas dari apa yang saya lakukan dengan Reiki, saya gak pernah membenci Milen.”


Kedua orang tua itu ikut hanyut dalam suasana yang diciptakan Sena.


“Kami mengerti. Kamu mungkin hanya memanfaatkan Reiki saja,” kata Puri.


“Iya, hanya sebatas itu saja, Om, Tante. Satu lagi saya ingin kalian tau. Berapa hari setelah kejadian, Reiki datang menemui saya di kampung. Dia menawarkan saya sejumlah uang demi bisa memberikan keterangan palsu untuk memberatkan Liora.”


“Apa?” Joko tak percaya. Dia baru saja mendengarkan hal ini. Bahkan Wafi tak mengatakannya sama sekali.


“Iya, dia akan menjamin hidup dan karir saya asalkan saya memberikan keterangan palsu pada pihak yang berwajib. Menjadi saksi kunci untuknya dan menutupi perselingkuhan kami dari kalian.”


Merasa geram, Joko menepuk meja dengan sangat keras. “Dasar bajingan. Dia benar-benar busuk.”


“Lalu apa kamu terima?” Puri yang merasa penasaran pun bertanya.


“Saya memang terima, Tante. Bahkan kami sampai membuat surat perjanjian di atas materai. Tapi saat saya dipanggil polisi, saya jelaskan itu pada penyidik dan memberikan surat perjanjian kami sebagai bukti.”


Ibunda Milen itu menggelengkan kepala mengetahui kelakuan bejat menantu yang selama ini sudah dianggap sebagai anak sendiri. “Benar-benar kelewatan. Apa sih maksudnya melakukan itu?”

__ADS_1


Sena menarik nafas dalam setelah meneteskan air mata palsu. “Katanya dia gak mau Om sama Tante tau soal perselingkuhan kami. Dia takut kalau hal itu terjadi kalian akan memutuskan kerja sama. Dia ingin menjaga kepercayaan kalian agar saham perusahaan kalian diwariskan kepadanya.”


__ADS_2