DRAMA WIFE

DRAMA WIFE
Drama 53


__ADS_3

"Gimana persidangan tadi?” tanya Wafi. Selesai menyantap makan siang bersama, kini ia dan istri tengah duduk di ruang tengah untuk bersantai sejenak.


“Reiki mengakui kalau memang dia yang sudah mendorong Milen. Aku rasa itu ide pengacaranya untuk bisa membantu kliennya mendapatkan hukuman yang ringan," jawab Liora.


“Kalau memang seperti itu, bisa jadi sih. Reiki bakalan dijatuhkan pasal 359 KUHP membunuh tanpa sengaja cuma dihukum lima tahun penjara.”


“Kira-kira menurut kamu, Majelis Hakim bakalan mengabulkan pembelaan Reiki gak?”


“Ada kemungkinan besar. Apalagi dia sudah mengakuinya.”


Liora tampak kecewa.


“Ya, kan memang tidak ada bukti kuat kalau dia melakukan pembunuhan itu dengan sengaja.”


“Benar juga, pengacaranya Reiki juga bilang begitu.”


“Pasti dia menang.” Wafi mengelus lengan istrinya. “Udah, ngapain kamu kecewa. Memang itu hukuman yang pantas buat dia toh dia juga gak melakukannya.”


Liora mengangguk.


“Tapi kalau soal KDRT yang dilakukannya terhadap kamu dan penganiayaan terhadap Sena, dia bisa dihukum berat juga.”


“Kira-kira berapa lama?”


“Kita ambil hukuman paling ringan aja, ya, kalau kasus KDRT biasanya lima tahun. Tapi kalau untuk penganiayaan aku yakin Reiki bakalan dihukum delapan lima tahun juga dan bisa lebih.”


“Artinya kalau digabung dia bisa mendekam di penjara selama 15 tahun dong.”


Wafi mengangguk.” Kira-kira begitu lah.”


“Tapi nanti pasti papanya bakalan ajukan penangguhan.”


“Bisa jadi. Tapi mungkin sulit, mengingat Reiki pernah menyerang kamu dan Sena. Salah, maksudku lebih tepatnya Sena aja sih.” Polisi itu tertawa.


“Iih, jangan di ungkit-ungkit dong. Nanti ada yang dengar lagi.”


“Siapa?”


“Dinding.”


“Kamu sindir aku?”


“Ya, siapa tau kameranya belum dicopot.”


Wafi menggelitik pinggang istrinya. Membuat Liora menggelinjang geli dan tertawa lebar. 

__ADS_1


“Bee, udah,” pinta Liora.


Wafi pun menghentikan gelitik nya. “Kameranya udah aku copot, Sayang. Khawatir amat sih.”


“Iya, lah. Cuma kamu yang tau soal itu. Kalau sampai ada yang tau, pasti kamu yang bocorin.”


“Loh, kok aku sih? Sena juga bisa kan?”


“Iya, tapi aku yakin kalau Sena gak berani buka mulut karena dia juga bisa terseret.”


“Oh, jadi kamu lebih percaya orang lain daripada suami sendiri?”


“Bukan gitu, Bee. Sebagai suami aku percaya sama kamu, tapi disisi lain kamu itu polisi, ya, pasti aku waspada lah.”


“Ya, aku gak mungkin membuka belang istriku sendirilah.”


“Mudah-mudahan.”


“Kok mudah-mudahan sih?”


“Ya, siapa tau aja nanti kamu berubah pikiran. Atau aku bikin kamu kesal terus kamu ungkap deh kejahatan aku.”


Wafi menggeleng. Istrinya itu masih saja tak percaya akan kesetiaannya. Tak mau perdebatan itu nantinya menjadi panjang ia memilih kembali ke kantor. “Aku berangkat.”


“Loh, katanya tadi gak balik.”


“Kamu marah sama aku?” Liora berdiri.


“Gak, Sayang.” Wafi memeluk istrinya itu.


“Ya, udah kalau gitu. Hati-hati nyetirnya.”


“Iya.”


...🐛🐛🐛🐛...


Dari apartemen, Wafi menuju kantor sang sahabat. Ingin bertemu dan bercerita sekaligus meminta saran dan pendapat. Setibanya di sana ia langsung disambut Fatih dengan senang.


“Tumben,”  ujar pengacara itu.


Wafi tersenyum simpul sambil mendudukkan dirinya di sofa. “Gue mau cerita sedikit sama lo. Sekalian minta masukan.”


“Oke. Soal apa? Kalau gue bisa bantu pasti gue bantu.


Mengalirlah cerita tentang pernikahan sirinya dengan Liora tanpa mengungkapkan kejadian malam dimana ia mengetahui rahasia sang istri. Sang sahabat pun dibuat kaget olehnya. Tak menyangka kalau Wafi berani mengambil keputusan secepat itu.

__ADS_1


“Jadi, sekarang permasalahannya dimana?” tanya Fatih.


“Liora masih ragu sama gue,” resah Wafi.


“Kalau kita lihat rumah tangganya dengan Reiki, gue rasa wajar aja dia masih ragu sama lo. Sebenarnya bukan sama lo sih, tapi mungkin sama pria. Bisa dibilang Liora mencoba membentengi dirinya, akhirnya dia gampang curigaan.”


“Ya, gue juga ngerasa gitu. Tapi dia gak bisa menganggap semua laki-laki itu sama kayak mantan suaminya.”


“Bagaimanapun kalian baru kenal, jadi wajar istri lo masih ragu. Ya, saran gue sih lo harus sabar aja kalau emang lo pengen rumah tangga lo ini bertahan. Banyak yang bilang awal-awal nikah itu gak ada masalah. Itu kalau kalian sudah kenal lama. Tapi lo sama Liora sepertinya butuh waktu untuk saling mengenal dan menyesuaikan diri.”


Wafi membuang nafas panjang.


“Lagian lo juga gak bisa salahin dia. Namanya dia juga baru lepas dari suaminya tiba-tiba langsung lo ajak nikah. Tanpa ada waktu untuk dia menata hatinya agar bisa kembali percaya dalam menjalin hubungan.”


“Jadi maksud lo gue salah gitu?”


“Gak juga. Intinya itu resiko yang harus lo tanggung.” Fatih berpindah duduk ke samping temannya itu lalu menepuk pelan bahu Wafi. “Liora itu wanita yang punya prinsip dia juga wanita kuat, jadi mungkin terkesan keras kepala.”


“Itu yang gue takutkan. Karena umur dia yang lebih tua dari gue, kadang gue ngerasa Liora bertindak seenaknya.”


“Waf, selama ini dia dihadapi dengan kekerasan oleh suaminya. Jadi mungkin wajar kalau Liora juga keras mempertahankan pendapatnya. Gue harap lo bisa membimbing dia dengan cara lunak, sentuh hatinya, kasih nasehat pelan-pelan. Gue rasa nanti Liora pasti bisa nurut.”


Polisi itu mengangguk paham. “Thanks, ya. Gue gak tau mau cerita sama siapa. Jujur masalah ini bikin gue bertanya-tanya, apa gue salah udah ambil keputusan ini.”


“Tapi lo gak nyesalkan nikah sama dia?” selidik Fatih.


Bibir penyidik itu langsung megembang sempurna. “Ya, gak lah. Sebenarnya gak ada masalah yang terlalu besar. Cuma kadang kalau pembahasannya udah menyangkut prinsip dia, kita yang awalnya baik-baik aja bisa berantem.”


“Nah, makanya lo coba kenalin dia dulu. Gue yakin Liora itu istri yang baik kok.”


Wafi mengangguk setuju. “Untuk soal itu gue acungin jempol. Tanpa gue minta dia tahu tugasnya sebagai istri. Gak hanya soal urus rumah, lidah gue dimanjakan sama masakannya, tiap pagi ama pulang kantor udah di siapin baju, bahkan untuk soal ranjang pun gue dibuat melayang.”


Fatih tertawa. 


“Tapi, ya, itu gue kadang ngerasa gak dihargai sebagai suami kalau dia mau ambil keputusan. Kayak urus gugatan cerai. Sampai sekarang dia masih nunda. Katanya tunggu sidang KDRT selesai biar dia bisa tuntut harta gono-gini.”


“Ya, dia sudah sampaikan hal itu sama gue.”


“Buat gue sih ya, gak usah. Gue bisa nafkahin dia, gue juga punya penghasilan lain.”


“Dia gak tau soal usaha lo?”


“Gak, gue belum cerita.”


“Ya, pantes Liora masih ragu sama lo. Lo nya aja gak membuka diri. Udah berapa lama kalian nikah?”

__ADS_1


“Dua bulan lah.”


“Lo tau soal masalahnya, hidupnya gimana sama mantan suaminya, tapi masak sih lo gak cerita soal hidup lo sama dia.”


__ADS_2