
Pagi ini Wafi datang menemui Reiki di tahanan. Ada beberapa hal yang ingin ditanyakannya pada pria itu.
“Mau apa, Anda?” Reiki bertanya dengan tampang jutek.
“Duduk,” ajak Wafi.
Suami Liora itu duduk di depan si penyidik.
“Saya sudah selidiki nomor yang kamu maksud dan ternyata itu bukan milik Sena,” terang Wafi.
“Kenapa bisa? Sudah diselidiki benar-benar belum?”
“Tim saya sudah melakukan yang terbaik. Bahkan saya sampai meminta keterangan dari si pemilik nomor. Memang dia yang menghubungi Liora malam itu, bukan Sena. Lagian dia juga gak kenal dengan Sena.”
“Gak mungkin,” tampik Reiki. “Jelas-jelas saya mendengar Sena yang bicara.”
“Apa katanya?”
Reiki mengulang ucapan Sena di telpon malam itu. “Sampai sekarang saya masih mengingatnya dengan jelas. Dari suaranya saya tahu betul kalau itu memang Sena.”
“Kenapa gak Anda rekam?”
“Itulah bodohnya saya. Karena emosi saya sampai lupa.”
Wafi membuang nafas panjang. “Saya sudah membantu Anda untuk mencari bukti yang diminta. Ternyata hal itu gak ada. Jadi, maaf.”
“Please, saya mohon. Tolong, saya.” Reiki meminta dengan wajah mengiba. “Jangan biarkan saya mendekam di penjara karena kesalahan yang tidak saya lakukan. Saya akan mengkui semua kebohongan saya, tapi tidak dengan membunuh Milen karena memang bukan saya yang membunuhnya.”
“Maaf, Pak Reiki, saya sudah melakukan apa yang Anda minta. Tapi bukti mengatakan sebaliknya. Jadi, saya gak bisa berbuat apa-apa lagi.”
“Liora itu licik, jahat. Dia pasti sudah merencanakan ini semua dengan baik. Bahkan untuk soal kejadian cafenya saya gak melakukan hal itu sama sekali.”
“Tapi dia bilang Anda mengancam akan membunuhnya.”
“Hanya sekedar ancaman saja. Asal Anda tahu, sebelum saya pergi dia melemparkan kursi ke dinding kaca cafe dan menendang semua kursi dan meja. Itu semua demi menjebak saya.”
“Tapi sekali lagi apa yang Anda katakan itu tidak memiliki bukti,” tekan Wafi.
“Lalu bagaimana dengan Liora? Apa dia juga punya bukti kalau saya yang melakukan hal itu?”
__ADS_1
“Memang tidak. Tapi dari rekaman CCTV cafe bagian luar, Anda menerobos masuk. Dengan begitu ucapannya bisa dibenarkan.”
Reiki mengusap wajahnya dengan kasar hingga ke rambut. Dia benar-benar terjebak dan sekarang tak ada jalan keluar sedikit pun.
“Kalau memang apa yang Anda katakan itu benar. Artinya, Anda berada di waktu yang salah. Di tambah dengan Anda mencelakai Sena maka keterangan Liora akan semakin mendapatkan kekuatan mesti tanpa bukti,” tutur Wafi.
Setetes air mata akhirnya jatuh juga membasahi pipi Reiki. Ia tak tahu harus berkata apa lagi agar Wafi bisa membantunya. Meminta dan memohon sudah ia lakukan, tapi sepertinya memang dewa keberuntungan sedang berpihak pada sang istri yang selama ini dizalimi.
“Terima kasih, Anda sudah datang,” pinta Reiki.
Wafi mengangguk. “Saya pastinya akan profesional dalam kasus ini. Kalau saya menemukan sedikit kejanggalan, saya pasti akan mengusutnya.”
“Semoga kebenaran segera ditemukan.”
Reiki kembali dibawa oleh petugas kedalam tahanannya sedangkan Wafi masih tetap di sana. Untuk sementara ia ditahan oleh rasa bimbang antara kata hati nurani atau bukti yang ada.
\=\=\=\=\=\=
Wafi menepati janjinya untuk datang ke apartemen pas jam makan siang. Tiba disana Liora menyambutnya dengan wajah yang berseri serta senyuman lebar.
“Aku masak makanan yang waktu itu kamu makan pas kita ketemu pertama kalinya,” jelas Liora.
Liora membawa sang penyidik menuju meja makan dan duduk di sana. Mengisi piring dan memberikannya pada Wafi. “Nasi kari ayam spesial buat detektif Wafi.”
“Makasih, ya.” Wafi berkata sambil memeluk pinggang ramping Liora. “Kamu duduk dan kita makan.”
Liora pun mengangguk lalu mendudukkan diri di sebelah pria itu. “Oh, ya, habis ini aku boleh jenguk Sena gak? Kebetulan aku sudah masak lebih buat dia.”
“Boleh, nanti aku antar. Kenapa izin segala sih?”
“Kamu tau sendiri lah kalau Reiki curiga aku dan Sena bersekutu untuk menjebaknya.”
“Kamu takut aku curiga?”
“Aku sih gak takut. Cuma nantinya dengan kami sering bertemu hal itu dianggap benar.”
Wafi tertawa kecil. “Kalau kamu mau aman nanti kalian ngobrolnya di temani satu petugas.”
“Itu lebih baik.”
__ADS_1
Keduanya menikmati hidangan sambil bercengkrama. Setelahnya Wafi pun membatu Liora mengemasi meja makan dan mencuci piring kotor.
“Beres,” ujar istri Reiki. “Aku ganti baju dulu, ya.”
“Aku tunggu di ruang tengah,” kata Wafi. Kepergian wanita itu, ia mulai memasang beberapa kamera kecil di tempat-tempat tersembunyi dan juga perekam suara. Wafi hanya ingin membuktikan apakah benar apa yang dibilang Reiki tentang wanita yang kini bertahta di hatinya.
Setelah dirasa cukup, ia pun duduk di sofa besar sambil memainkan ponsel. Mengecek kamera tadi apakah berfungsi dengan baik. Nantinya akan ia hubungan dengan laptop yang ada di rumah. Kali ini dia harus melakukan penyelidikan sendiri.
“Yuk, jalan.” Liora pun keluar dari kamarnya.
Wafi pun berdiri. “Aku cuma bisa antar kamu sampai RS. Soalnya aku harus balik kantor lagi. Ada beberapa hal yang harus dipersiapkan untuk rekonstruksi besok.”
“Besok?”
“Iya. Besok kita bakalan rekonstruksi adegan di rumahnya Reiki.”
Liora membulatkan mulutnya.
“Kamu gimana? Kalau gak siap kita bisa pakai pemeran pengganti.”
“Gak perlu. Aku siap kok.”
“Aman kalau ketemu Reiki?”
“Kalau ada kamu aku pasti aman.”
“Oke.”
Mereka pun keluar dari gedung itu menuju Rumah sakit. Menurunkan Liora di sana dan Wafi melanjutkan perjalanan ke kantor polisi.
...----------------...
Kira-kira Liora bakalan ketahuan gak ya..?
Pada penasaran kan..
Kasih jempolnya dulu dong 👍 komen 💬 hadiah 🎁 vote 🔖 dan bintang 🌟 lima
Terima kasih 😊🥰
__ADS_1