DRAMA WIFE

DRAMA WIFE
Drama 33


__ADS_3

Tiba di parkiran. Wafi membawa kakinya melangkah dan menaiki anak tangga dengan cepat menuju lantai tiga. Diketuknya daun pintu dengan sedikit keras hingga pemilik tempat itu keluar.


“Hai.” Liora menyapa dengan wajah senang sekaligus bigung.


Wafi dengan aura dinginnya langsung masuk dan menarik wanita itu. “Kenapa kamu bohong?”


“Apa sih?” tanya Liora.


“Aku tanya kenapa kamu bohong,” tekan Wafi.


“Soal apa? Aku gak ngerti maksud dari pertanyaan kamu.” Liora menghindari tatapan tajam laki-laki itu.


“Tentang semuanya.”


“Semuanya yang mana sih, Waf?” Istri dari Reiki Alterio itu masih bingung dengan arah pembicaraan Wafi.


“Jangan pura-pura gak tau kamu,” seru Wafi. “Apa perlu aku tunjukkan bukti percakapan kamu dengan Sena tadi siang? Biar kamu mengakui semuanya?”


Liora tecekat Saliva. Wajahnya berubah pucat. Perasaannya cemas dan takut. 


“Kenapa? Gak bisa jawab?” geram Wafi. Ia pun menunjukkan video yang ada di laptop.


“A-aku.” Liora menjadi gugup.


“Jelaskan sekarang atau aku seret kamu ke kantor polisi.” Wafi mengancam dengan wajah dinginnya. Membuat Liora bersurut mundur. “Katakan!” bisiknya. 


Hal itu mampu membuat bulu kuduk Liora berdiri. “Oke, aku akan jelaskan semuanya.”


Wafi mendudukkan diri di sofa. 

__ADS_1


Liora pun menceritakan kejadian yang sebenarnya dengan perasaan yang campur aduk. Sama persis seperti pengakuan suaminya pada penyidik itu. Ia tersudut tak bisa lagi mengelak atau mencari alasan lain. Kini nasibnya ada di ujung tanduk.


“Maaf, Waf, kalau aku sampai mempermainkan kamu dalam masalah ini.” Liora berkata dengan kepala tertunduk.


Wafi menggeleng tak percaya sekaligus kagum dengan jalan pikiran wanita yang kini duduk di hadapannya. “Jadi apa yang dikatakan Reiki selama ini itu benar?”


Kepala Liora mengangguk. “Aku juga yang mengajak Sena bekerja sama dalam hal ini.”


“Jadi kamu yang sudah membocorkan gas di cafe ini ketika Reiki pergi dan kamu juga sengaja menjatuhkan diri di tangga waktu reka adegan?”


“Iya. Semua aku lakukan demi membuktikan kalau Reiki memang bersalah.”


“Terus bagaimana dengan Isti?” 


“Itu juga bagian dari rencana. Waktu itu aku yang mengarahkan Sena untuk tinggal di gedung apartemen dekat kos-kosan Susi, karyawanku. Dan membayar Istri agar dia mau meminjamkan ponselnya ketika Sena ingin berkomunikasi denganku.” 


“Semua ini aku lakukan bukan karena aku takut di penjara,” jelas Liora.


“Lalu karena apa?” geram Wafi. Meski emosi, pria itu tak pernah mengeluarkan nada tingginya di depan wanita.


“Karena aku bukan pembunuh dan aku gak sengaja. Aku hanya berusaha membela diri. Kalau seandainya waktu itu aku gak menendang Milen mungkin aku yang bakalan mati. Apa kamu akan mengusut kematian aku?” Liora menggeleng. “Pastinya tidak! Reiki dan istrinya itu akan mengubur aku layaknya seekor anjing dan melupakan kalau aku pernah hidup.”


“Tapi kenapa sampai membahayakan nyawa kamu sendiri?”


“Kalau gak begitu polisi gak akan yakin,” erang Liora.


“Kenapa kamu gak cerita yang sebenarnya?”


“Apa kamu akan percaya? Kalau seandainya aku yang ada di posisi Reiki sekarang dan dia di posisiku, apa yang akan kamu lakukan?”

__ADS_1


Si penyidik terdiam.


“Apa kamu akan mencari bukti kalau aku tidak bersalah? “Belum tentu. Belum tentu kamu akan mendengarkan ucapanku. Bahkan mungkin kalau aku sampai memohon dan bersujud pun aku akan tetap di penjara.”


Wafi mengusap kasar wajahnya.


“Sekarang apa lagi yang mau kamu dengar? tantang Liora. “Soal kedekatan kita belakangan ini? Ya, aku memang memanfaatkan kamu di awal. Tapi semakin kita kenal aku pun mulai suka sama kamu. Dan soal lamaran kamu yang aku tolak, aku hanya gak mau kamu jadi busuk karena ulahku.”


Liora menghempaskan badannya di atas sofa. Diri yang dipikirnya kuat ternyata lemah juga. Wanita itu menutup wajahnya dengan kedua telapak tangan lalu menumpahkan air mata. 


Wafi tak tau harus berbuat seperti apa. Di satu sisi ia iba dan disisi lain ia sadar kalau apa yang diperbuat wanita itu salah dan melanggar hukum. Hal itu tidak bisa dibenarkan.


“Aku ini hidup sebatang kara, Waf. Berharap setelah menikah bisa hidup bahagia bersama suami yang bisa dijadikan sebagai teman, sahabat, saudara, dan tempat sandaran ternyata tidak. Aku dicampakkan, dihina, dicaci, dimaki bahkan tak segan aku dipukuli.” Liora berkata dalam isaknya.


“Lalu ketika kesempatan untuk membalaskan rasa sakit itu datang, apa aku harus melewatkannya? Gak! Aku bukan malaikat, aku bukan orang yang suci, aku bukan orang yang memiliki hati nurani penuh.”


Disekanya dengan kasar air mata yang membasahi pipi lalu di hampirinya sang polisi yang kini mengisi relung hati. Liora menyerahkan kedua tangannya pada pria itu. “Sekarang keputusan ada di tangan kamu. Kalau kamu mau membawa aku ke kantor polisi silahkan dan aku akan menjelaskan semuanya.”


Wafi menatap tangan yang pernah membelai lembut rambutnya lalu menatap wajah yang pernah menyapa paginya dengan indah. Bagaikan berdiri di dua persimpangan. Ia dilema. Jika membawa wanita itu ke penjara otomatis cintanya akan berakhir sadis. Kalau tidak berarti ia sudah melanggar sumpah dalam menjadi abdi negara yang baik dalam menegakkan kebenaran. 


Pria itu beranjak ke balkon. Menyalakan sebatang rokok di sana lalu dihisapnya dalam-dalam. Liora yang pasrah memilih duduk di atas sofa sambil menunggu penyidik itu membuat keputusan. Sesekali disekanya tetesan lara yang masih saja jatuh di pipi. Padahal ia sudah tak ingin menangisi apa yang diperbuat.


Hal itu tak luput dari mata Wafi. Entah apa yang ada di pikirannya saat ini. Dalam waktu singkat ia dituntut untuk segera mengambil keputusan sebelum hal itu terungkap ke permungkaan.


Kemudian ia pun melakukan satu panggilan. Entah pada siapa ia bicara, Liora tak dapat mendengar percakapannya denga jelas. Dari posisi, Wafi kembali masuk dan menarik tangan Liora keluar dari rumahnya.


“Aku akan mempertanggung jawabkan perbuatanku,” ucap Liora.


Wafi hanya diam dan menuntun wanita itu masuk kedalam mobilnya. Roda empat itu melaju dengan kencang di jalanan malam. 

__ADS_1


__ADS_2