DRAMA WIFE

DRAMA WIFE
Drama 40


__ADS_3

Tiba di gedung kepolisian, Wafi langsung menuju ruangan pimpinannya. Tiba di sana ia pun dipersilahkan masuk karena memang sudah ditunggu. Sebelum disuruh duduk ia memberi hormat.


“Duduk,” ajak AKBP Wahyudi.


Wafi pun mendudukkan dirinya di depan meja pria itu.


“Saya gak akan berbasa-basi, langsung saja. Sejak kapan kamu dekat dengan wanita ini?” Wahyudi memberikan foto-foto Liora bersama bawahannya itu.


“Kira-kira tiga bulan belakangan,” jawab Wafi.


“Saat kalian sering bertemu karena dia sebagai saksi dalam kasus yang kamu tangani?”


“Sebelum itu saya dan dia sudah bertemu dulu. Mungkin waktunya memang berdekatan.”


“Dan sekarang, apa hubungan kalian?”


“Teman dekat.”


Wahyudi menghempaskan punggungnya ke sandaran sofa. “Kali ini saya bicara sebagai abang. Gimana kabar kamu?”


“Baik, Mas.”


“Sudah berapa lama kalian menikah?”


Wafi tertawa. Ternyata dia tidak bisa menutupi sebuah kebenaran terhadap sang kakak sepupu.


“Teman dekat mana yang jalan-jalan di mal membeli kebutuhan rumah tangga lalu memilih pakaian dalam wanita bersama,” selidik Wahyu.


“Dua minggu,” jawab Wafi.


“Kenapa? Kenapa gak langsung mengurus pernikahan resmi kalau memang sudah kepepet?”


“Dia menolakku, Mas. Banyak alasan yang diberikannya.”


Sudut bibi Wahyudi terangkat. “Kamu ditolak? Siapa dia berani menolak kamu?”


“Justru karena siapa saya ini, Mas, dia menolak lamaran saya.”


Wahyu tersenyum mengejek.


“Dia gak mau karir saya rusak gara-gara kami dekat. Ya, tau sendirilah kalau keluarga Reiki pasti mengira saya membantu Liora dalam kasus.”


“Maka dari itu, Malik mengirimkan bukti-bukti kedekatan kalian. Biar saya bisa menegur kamu dan mungkin juga harapannya penyidikan bisa dilakukan ulang.”


“Tapi saya jamin, saya profesional dalam menangani semua kasus. Termasuk kasusnya Reiki. Kalau, Mas, gak percaya bisa tanya bawahan saya. Pemeriksaan semuanya dilakukan transparan. Pasti mereka tau itu.”


“Pasti. Sebagai atasan kamu hal itu akan saya lakukan untuk membantah tudingan Malik. Dan untuk pernikahan siri yang kamu lakukan akan saya beri teguran secara tertulis juga penundaan kenaikan pangkat paling lama satu tahun.”


“Siap, Komandan.”


Wahyudi hanya tersenyum. “Artinya masih pengantin baru dong. Gak bulan madu?”


“Mana bisa saya mengajukan cuti tanpa alasan yang jelas.”


“Lalu kapan kalian nikah resmi.”


“Dia lagi urus akta cerainya.”


“Kenapa gak bawa ke rumah?”

__ADS_1


“Dia gak mau, Mas. Takut kalian gak setuju karena statusnya yang janda.”


“Saya juga nikahin janda, anak satu lagi.”


“Nanti lah, Mas, kapan-kapan. Tapi jangan kasih tau Kak Vira.”


“Kenapa?”


“Istriku belum siap.”


“Ya, sudah kalau begitu.” Wahyu mengulurkan tangannya. “Selamat, sekarang sudah ada yang ngurusin. Kamu yang paling kecil sekarang sudah ada pendampingnya. Semoga jadi keluarga sakinah, mawadah, dan warahmah.” Nanti saya coba kasih kamu izin buat cuti tiga hari.”


“Aamiin.” Wafi membalas uluran tangan saudaranya itu. “Serius, Mas. Makasih banyak loh.”


“Gak janji tapi.”


Wafi mengangguk paham.


“Sana, balik kekantormu.”


Wafi bangkit dari kursi. Sebelum pergi dia kembali memberi hormat dan berkata,” Siap, Komandan.”


\=\=\=\=\=\=\=


Sorenya, Wafi pulang dari kantor dan ia pun menyinggahi sang istri di cafe. Dari sana mereka kembali ke apartemen bersama. Tiba di kediaman Liora langsung meletakkan makanan yang dimasaknya tadi.


“Gimana pertemuan kamu sama kapolres tadi, Bee?” tanya wanita itu.


“Ternyata tebakan kamu benar, Yank. Reiki mengirim orang buat mata-matai kita. Tadi aku disodorkan bukti pas kita jalan di mall.”


“Terus?” Liora tampak khawatir.


“Terus? Kamu dipecat gak?”


“Gak lah. Cuma dikasih surat peringatan sama penundaan naik pangkat aja.”


Nafas lega dihembuskan Liora. Mereka kini duduk di sofa ruang tengah.


Wafi menatap istrinya itu. “Aku udah bilang, gak ada yang perlu kamu takutkan. Semua akan baik-baik aja.”


“Aku gak akan tenang, Bee, kalau kamu sampai dipecat.”


“Buktinya gak kan, Sayang.”


Liora mengangguk.


“Bahkan aku bakalan dikasih cuti tiga hari biar bisa pergi bulan madu.”


“Oh, ya? Baik banget atasan kamu.”


“Iya lah. Soalnya kan dia kakak sepupu aku.”


Liora ternganga. “Pantesan kamu yakin dan tenang-tenang aja, ya.”


“Hahaha, lagian kita memang gak salah, Sayang.”


“Syukurlah kalau gitu.”


“Kamu mau kita honeymoon kemana?”

__ADS_1


Liora mengangkat kedua bahunya. “Gak tau.”


“Keraja ampat aja mau?”


“Buat aku mau dimana dan kemana pun semua sama aja sih. Ujung-ujungnya bakalan habisin waktu di ranjang. Di sini juga hampir tiap hari. Itu kasur kalau boleh ngomong mungkin dia udah nyerah kali.”


“Hahaha.” Wafi mencium gemas istrinya itu. “Mandi, yuk! Sebelum makan malam.”


“Tuh kan. Baru juga di omongin. Kayak gak puas aja.”


“Puas sih, Sayang. Tapi aku ketagihan.”


Liora mencibir. Dengan sekali angkat, Wafi membuat istrinya melayang menuju kamar.


\=\=\=\=\=\=


Sidang Pembacaan Putusan atas Nota Keberatan oleh Majelis hakim sudah digelar. Karena nota keberatan yang diajukan oleh Penasehat Hukum terdakwa tidak dikabulkan Majelis hakim maka sidang akan dilanjutkan pada tahap Pembuktian Oleh Penuntut Umum. Sidang pun akan digelar minggu depan.


Tentunya Reiki merasa kecewa begitu pula dengan kedua orang tuanya. Sebelum kembali ketahanan, mereka diizinkan bertemu.


“Bagaimana dengan bukti yang dikirim pada kapolres itu, Pa?” tanya Reiki.


“Keluhan kita diterima dengan baik, Pak Reiki. Tapi beliau juga membuktikan kalau anak buahnya bekerja dengan baik dan profesional. Jadi tuduhan yang Anda layangkan pada penyidik itu tidak benar dan tidak beralasan,” terang Dodi.


Merasa kesal, Reiki memukul meja dengan keras.


“Terus sekarang kita harus gimana?” sela Lena. “Besok sidang pembuktian dan kita gak punya bukti apa-apa untuk menunjukkan kalau Reiki tidak bersalah.”


“Mau tidak mau Pak Reiki harus mengakui tuduhan. Tapi dengan alasan ketidak sengajaan. Dengan begitu beliau bisa mendapatkan hukuman ringan,” tutur Dodi.


“Apa? Mengakui Anda bilang? Ck, sampai kapan pun saya gak akan sudi,” tukas Reiki.


“Ya, kalau tidak maka Anda akan dituntut pasal 338 KUHP:Barang siapa dengan sengaja merampas nyawa orang lain, diancam karena pembunuhan dengan pidana penjara paling lama lima belas tahun.”


Reiki merasa geram dengan keadaan yang tak berpihak kepadanya. 


“Sedangkan kalau Anda mengaku atas ketidak sengajaan, Anda hanya akan dikenakan Pasal 359 KUHP, yang rumusannya sebagai berikut: Barang siapa karena kealpaannya menyebabkan matinya orang lain, diancam dengan pidana penjara paling lama lima tahun atau kurungan paling lama satu tahun,” tambah Dodi. “Bayangkan berapa jauhnya perbedaan hukumannya. Sekarang tinggal Anda pilih, dipenjara lima belas tahun atau lima tahun.”


Pria yang kini sudah resmi menyandang status duda itu menatap kedua orang tuanya. Bagi Reki ia ingin bebas bukan dipenjara. Namun, semua bukti mengarah padanya dan ia tak punya apa-apa untuk digunakan sebagai pembelaan.


“Menurut Papa, sebaiknya kita ikuti sarannya Pak Dodi,” ujar Malik.


“Pah,” sela Lena. “Mama gak bisa terima anak kita dipenjara.”


“Lalu apa Mama punya bukti kalau Reiki tidak bersalah?”


Lena terdiam.


“Bagaimana, Pak Reiki?” tanya Dodi. “Jika di nota pembelaan besok Anda mengakuinya, maka bisa jadi sidang putusan akan segera digelar. Karena Anda sudah ditahan selama tiga bulan kurang. Nanti tujuh bulan kedepan akan saya ajukan penangguhan tahanan.”


“Gimana, Pa?” Reiki meminta pendapat ayahnya.


“Menurut Papa itu keputusan yang terbaik. Daripada kamu terus menyangkal, gak akan ada gunanya karena kita gak memiliki bukti apapun.”


Nafas panjang di hembuskan mantan suami Liora. “Oke, Pak, saya setuju.”


“Baiklah kalau begitu. Besok saya siapkan surat tertulis pengakuan Anda.”


“Baik, terima kasih.”

__ADS_1


Reiki pun kembali dibawa ketahanan.


__ADS_2