DRAMA WIFE

DRAMA WIFE
Drama 44


__ADS_3

“Aku gak nyangka kalau kejadiannya bakalan kayak tadi,” kata Liora. 


Wafi pun menyusul istrinya yang sudah duduk di sofa. Mereka baru saja sampai di apartemen. “Aku gak tega lihatnya.”


“Kenapa? Karena kamu tau dia gak bersalah?”


“Ya, begitulah.”


“Terus apa? Kamu mau mengungkapkan yang sebenarnya?”


“Kok kamu jadi sensi sih, Li?”


“Ya, siapa tau aja hati nurani kamu tergerak. Secara kamu kan pembela kebenaran.”


Nafas panjang dibuang Wafi. “Sebagai orang lain aja deh, emangnya kamu gak kasihan melihat dia diperlakukan seperti tadi?”


“Kasihan, tapi detik itu juga aku merasa senang karena dia mendapatkan balasan atas perbuatannya.”


“Li, sebaiknya jangan pelihara dendam. Lama-lama kamu bisa jadi sakit jiwa. Sekarang kita udah nikah. Kenapa kamu gak mencoba ikhlas lalu memulai hidup baru sama aku.”


“Itu pasti, tapi tujuanku yang terakhir belum tercapai.”


“Apa? Mau gugat harga gono-gini seperti yang kamu bilang tadi?”


“Iya. Karena itu termasuk rencanaku dari awal.”


“Menurut aku gak perlu.”


“Kenapa?”


“Aku mampu menghidupi kamu. Bahkan aku punya penghasilan lain. Jadi, gak usah lakukan itu. Cukup urus surat cerai saja.”


“Kalau aku gak mau?”


“Li, aku suami kamu.”


“Mau kamu setuju atau gak, aku tetap akan menggugat harta Reiki.”


“Kamu keras kepala, ya.”


“Iya, karena itu hak aku dan juga aku gak mau rugi.”


Dahi Wafi mengerut. “Rugi karena apa sih?”


“Bisa aja kan kamu ninggalin aku. Kita cuma nikah siri gak ada bukti nyata.”


“Ada saksi Liora. Ada Pak ustad dan juga istrinya.”

__ADS_1


“Kalau mereka bohong?” Manusia itu bisa saja berkilah, seperti apa yang aku lakukan. Lalu aku dapat apa? Kamu pergi terus aku kembali memulai semuanya dari nol.”


Wafi mengeleg tak percaya akan jalan pikiran istrinya. “Kamu kenapa? Oke, anggap kamu trauma dengan pernikahan. Tapi aku gak akan pernah ninggalin kamu.”


“Alah, omongan itu hanya angin lalu.” Liora bangkit dan berjalan menuju kamar.


“Li, kenapa sih kamu sulit percaya sama aku?” Wafi mengikuti istrinya dari belakang.


“Kita kenal tiga bulan, Waf dan itu juga gak intens. Kamu tau rahasiaku dengan begitu kamu memanfaatkan aku. Mau gak mau aku terpaksa nikah sama kamu malam itu. Gak ada alasan kuat buat kamu bertahan sama aku nantinya. Bisa aja kita nikah buat kamu melampiaskan nafsu.”


Wafi tak terima ia dituduh begitu. Ia mendekati sang istri lalu menatap matanya dengan dalam. “Setiap malam kita menyatu di atas ranjang ini. Apa sedikitpun kamu gak merasakan cinta lewat semua sentuhan yang aku berikan?”


Liora memalingkan wajahnya. “Itu hanya sentuhan kenikmatan.”


“Oh, jadi kamu pikir itu hanya nafsu belaka.” Wafi melepas kemejanya. “Sekarang kamu boleh lihat dan rasakan bagaimana aku melampiaskan nafsu.” Didorongnya sang istri hingga terhempas ke atas kasur. Sedikit kasar Wafi ******* bibir istrinya dan melepaskan semua pakaian yang menutupi tubuh Liora.


“Aku harap dengan begini kamu bisa membedakan mana cinta dan nafsu.” Wafi menghentak dengan kasar. Membuat Liora meringis menahan sakit.


Tak seperti biasa, semua dilakukan polisi itu dengan cepat dan kasar. Tanpa kenikmatan sama sekali. Hingga ia melepaskan benihnya Wafi menarik diri dengan cepat. 


Liora menangis sejadi-jadinya dan Wafi pun membawa sang istri kedalam dekapan.


“Maafin aku,” isak Liora.


Wafi hanya diam sambil mengelus rambut sang istri. Ia pun menarik selimut untuk menutupi tubuh mereka.


“Aku salah, aku minta maaf, ya, Bee. Gak seharusnya aku nuduh kamu kayak gitu.”


“A-aku.” Liora tersedu-sedu.”


“Ssshhuut, udah tenangin diri kamu dulu. Aku bakalan tetap disini.”


\=\=\=\=\=\=


Karena cutinya kemarin berhasil di undur, jadilah sekarang Wafi membawa istrinya bulan madu ke Raja Ampat. Semua juga demi sang istri agar dapat refreshing atas masalah yang sedang dialami. 


Meski rencana Liora berjalan dengan sempurna, pasti wanita itu merasa tertekan. Bagaimana tidak, jauh di hatinya yang paling dalam ia mengakui apa yang dilakukannya sudah termasuk kejahatan dan itu sangatlah tidak baik.


Malam ini mereka pun berangkat menuju Bandara Soekarno-Hatta. Lama waktu yang ditempuh adalah sekitar 6 jam 40 menit keduanya dapat istirahat dalam pesawat dengan nyaman.


Kurang jam tujuh pagi burung besi yang membawa mereka pun mendarat di Bandara sorong. Disana keduanya menyempatkan sarapan pagi baru berangkat menuju pelabuhan feri. Menyebrang ke Waisai Raja Ampat dengan kapal expres.


Dari sana mereka ditransfer ke hotel untuk check in dan makan siang. Keduanya pun dapat beristirahat sebentar sebelum nanti keliling kota dan belanja souvenir.


Liora langsung menghempaskan tubuhnya di atas ranjang yang berhiaskan kelopak mawar juga handuk angsa.


“Mandi, yuk, Yang,” ajak Wafi.”

__ADS_1


“Benar lagi deh, Bee. Pas mau berangkat aja kita mandinya.”


“Ya udah.” Wafi pun ikut membaringkan tubuh di atas tubuh sang istri setelah menaruh koper mereka di dekat lemari.


“Berapa hari kita disini?”


“Tiga hari. Kenapa?”


“Gak papa. Kalau lama-lama takutnya nanti kita ketahuan.”


“Kan udah sah, Sayang.”


“Buktinya?”


“Ada. Aku dikasih satu lembar surat sama Pak Ustad yang menyatakan kita sudah menikah. Jadi santai aja.”


“Terus kamu bilang apa sama Kak Vira?”


“Kita kesini foto prewed biar dia gak curiga.”


“Pinter juga kamu bohongnya.”


“Emang kamu aja yang pinter bohong.” Wafi berkata sambil mengelus perut rata istrinya. “Yank.”


“Hhmm …”


“Kapan, ya, anak kita jadi?”


Liora terdiam sejenak. “Bee?”


Wafi mengangkat kepalanya untuk menatap sang istri.


“Kalau nanti kita gak dikasih keturunan gimana?”


“Ya, gak papa. Mungkin bukan rejeki kita.”


“Kamu nikah lagi, ya?”


“Apaan, sih Li.” Polisi itu mendudukkan dirinya.


“Ya, bisa aja kan. Kalau iya, aku ikhlas kita pisah.”


“Kamu ngomong apa sih. Ngerusak suasana tau gak. Kita kesini mau bulan madu. Artinya bermanis-manis. Jadi nikmati dan jalani aja. Gak perlu kamu pikirkan. Lagian tadi aku cuma sekedar tanya biar kamu mau sering bikinnya.”


Nafas panjang dihembuskan Liora.


“Mending mandi bareng yuk. Itu bathupnya sudah dihias loh. Pasti seru.” Wafi menarik sang istri.

__ADS_1


Dengan lemas Liora bangkit dari baringnya. Tanpa berlama-lama polisi itu sudah polos dan ia juga membantu sang istri melepas pakaian. 


Wafi pun menggendong Liora ke kamar mandi. Mereka tertawa. Sejenak lupakan dulu masalah yang ada. 


__ADS_2