
"Kurang ajar,” sentak Joko. “Ma, kita pulang sekarang dan segera bicara dengan kuasa hukum untuk memecah perusahaan kita dengan Malik.” Ayah Milen itu langsung berdiri dari duduknya.
“Nak Sena, terima kasih banyak atas penjelasan kamu. Kalau gak, kami pasti akan terlihat bodoh di mata keluarga Reiki sebab tidak tau apa-apa,” kata Puri.
“Hanya ini yang bisa saya lakukan,Tante. Anggap saja sebagai penebus rasa bersalah sudah menyebabkan Milen meninggal,” sendu Sena.
“Gak, bukan kamu penyebab putri saya meninggal. Tapi laki-laki kurang ajar itu yang sudah membunuhnya.”
“Saya akan berikan keterangan yang sebenarnya di pengadilan nanti.”
“Terima kasih. Kalau begitu kami permisi pulang dulu. Silahkan kamu nikmati menu di restoran ini. Kami sudah membayarnya.”
“Sama-sama, Tante.”
Puri dan suaminya meninggalkan ruangan privasi di restoran itu. Sena yang merasa puas dengan aktingnya tersenyum lebar.
\=\=\=\=\=\=
Setelah mencari tau tentang tempat tinggal baru mantan selingkuhannya. Reiki pun bersiap mengenakan pakaian serba hitam tak lupa memakai topi dan masker untuk menutupi wajahnya. Malam ini dia akan mengintai Sena dari kejauhan.
Tepat pukul sembilan malam dia keluar dari rumah menaiki taxi online yang dipesan pakai akun baru. Tiba di depan gedung apartemen, dia duduk di taman sambil mengamati orang-orang yang keluar masuk di sana. Lima belas menit kemudian, dia melihat Sena baru saja turun dari mobil.
Gegas dia pun mengikuti wanita itu dari belakang. Tiba di unitnya, Sena pun membuka kunci pintu. Reiki dengan gerakan cepat mendorongnya masuk dan menendang pintu agar tertutup.
“Heh, siapa kamu?” Sena bertanya dengan raut wajah takut.
Reiki membuka maskernya.
Wanita yang berprofesi sebagai model itu langsung mundur karena takut dirinya akan dicelakai. “Mau apa kamu?”
“Aku cuma mau kamu mengubah keterangan di kantor polisi,” jelas Reiki.
“Maaf, aku gak ngerti.”
“Kenapa kamu menghianati aku?”
“Menghianati bagaimana?” Sena pura-pura tak tau akan arah pembicaraan Reiki.
“Bukannya kamu sudah berjanji akan berada di pihakku?! Lalu kenapa kamu malah mengungkapkan kesepakatan kita pada polisi.”
“Maaf, Rei, aku gak bisa bohong. Aku sudah ketakutan. Polisi itu tau, dia bisa membaca raut wajahku.”
__ADS_1
Reiki melepas topi lalu di lemparnya ke lantai. “Tapi kamu tau sendiri kalau bukan aku yang menyebabkan Milen meninggal.”
“Aku sudah memberikan keterangan sesuai apa yang aku ketahui.”
“Lalu kenapa aku bisa dijadikan tersangka? Apa kamu bekerja sama dengan Liora?”
Sena tertawa kecil. “Setelah kejadian malam itu aku gak ketemu dia lagi. Lagian untuk apa aku bekerja sama dengan dia, apa keuntungannya?” Merasa aman, wanita itu mendudukkan diri di sofa. “Rugi dong aku mencampakkan penawaran yang kamu berikan. Tapi sekarang aku juga ga dapat apa-apa.”
Reiki pun ikut menghempaskan badan di sofa hadapan Sena. “Ya, itu karena kamu bodoh. Ngapain pakai jujur segala.”
“Kamu pikir aku gak ketakutan saat di introgasi,” kesal Sena.
“Oke, sekarang aku mohon kamu untuk bisa menjelaskan sama polisi kalau bukan aku yang mendorong Milen.”
“Aku sudah katakan seperti itu. Mungkin karena kesepakatan kita itu mereka jadi curiga.”
Suami Liora itu mengusap kasar wajahnya. Dia frustasi karena Sena tak bisa diharapkan.
“Sorry, Rei. Aku gak bermaksud nipu kamu.”
Kepala Reiki mengangguk. “Sini ponsel kamu.”
“Buat cari bukti kalau kamu beneran gak berkomunikasi sama Liora.”
Sena mengeluarkan ponselnya dari dalam tas lalu menyerahkan pada sang mantan pacar. Reiki memeriksa dan memasukkan nomor istrinya di kontak telepon Sena. Ternyata dia tak menemukannya. Tak hanya itu, dia juga memeriksa panggilan masuk dan keluar siapa tau ada nomor asing. Ternyata juga tidak ada sama sekali.
Kemudian dia memeriksa aplikasi chatting yang ada di HP itu juga tidak ada apa-apa. Semua diperiksa Reiki dan dia tak menemukan bukti apapun. Dia masih tak percaya kalau sang mantan selingkuhan berkata jujur. Benda pipih itu kembali diserahkan pada si pemiliknya.
“Kalau begitu aku pergi dulu.” Reiki bangkit dari posisinya.
“Iya.” Sena pun menatap laki-laki itu berjalan keluar dari huniannya.
Tiba di luar, Reiki menengadahkan kepalanya melihat langit malam yang begitu gelap. Perasaan yang berkecamuk membuatnya sulit untuk berpikir dengan jernih. “Sebaiknya gue temui Liora,” ucapnya seorang diri. Ia pun langsung menghentikan taxi yang lalu. “Ke cafe dan resto Liora, Pak,” katanya pada supir.
\=\=\=\=\=\=\=
Semua pengunjung di cafe sudah pada pulang. Liora di bantu karyawan mengemasi piring kotor di setiap meja. Hingga dia pun tak mendengar kalau ponselnya yang ada di meja kasir berbunyi. Wanita itu tampak sibuk menyelesaikan semua pekerjaan agar ia dan karyawan bisa istirahat dan pulang.
Akhirnya, tepat jam sebelas malam semua pekerjaan pun beres. Dibantu Aldi, calon janda itu menutup dan mengunci semua pintu. “Udah, Al, kamu kalau mau pulang gak papa. Yang satu ini biar saya aja yang tutup,” kata Liora.
“Mbak, yakin?”
__ADS_1
“Iya. Nanti kalau di tutup semua kamu lewat mana? Mau lewat belakang. Jauh muternya ke depan.”
“Iya juga sih. Ya, udah kalau gitu saya pulang dulu, ya, Mbak.”
“Iya. Sampai jumpa besok pagi.”
“Pasti.” Aldi mengacungkan jempolnya.
Kepergian pria itu, Liora menutup pintu utama cafe. Namun, seseorang menahannya dengan kaki. “Maaf, cafe saya sudah tutup. Jadi tolong Anda pergi,” usir Liora.
Reiki menarik maskernya. “Aku mau bicara.”
Mata Liora terbelalak kaget saat tau kalau calon mantan suaminya yang memaksa masuk. “Mau apa kamu kesini?” Ia bertanya sambil mendorong pintu agar bisa di kunci. Namun, Reiki jauh lebih kuat. Hingga membuatnya terdorong ke belakang saat pria itu menerobos.
“Rei, sebaiknya pergi sebelum aku telpon polisi,” ancam Liora. Dia gegas berlari ke arah meja kasir untuk mengambil ponsel.
Namun, sang suami pun mengejarnya. Meraih tangannya dan dicengkram dengan kuat. “Jangan berani-berani kamu telpon polisi kalau kamu gak mau berakhir seperti Milen,” ancam Reiki.
“Oh, ya? Bunuh aja sekarang. Dengan begitu kamu akan membusuk lebih lama di dalam penjara.”
“Aku bukan pembunuh,” tampik Reiki.
“Lalu siapa yang membunuh Milen?”
“Kamu.”
“Buktinya?”
Reki menggertakkan gigi hal itu tampak dari rahangnya yang mengeras.
“Sebaiknya kamu pergi sekarang juga. Gak ada hal yang perlu kita bicarakan. Aku sudah buktikan kalau kamu yang membunuh Milen. Artinya, aku menang dan terima kekalahan kamu.” Liora berkata dengan angkuhnya.
Reiki semakin mengeratkan tangannya di lengan sang istri. “Apa yang membuat kamu begitu yakin? Padahal persidangan belum juga dimulai. Masih ada waktu dan aku akan membuktikan kalau aku bukan pembunuh.”
“Silahkan! Tapi sekali lagi aku katakan, aku menang dan kamu kalah.”
...----------------...
Mampir juga, ya, di karya temanku satu ini sembari menunggu DRAMA WIFE up date. Dijamin ceritanya bagus bgt loh... Tinggalkan jejak jga di sana.
__ADS_1