
Sebelum makan siang mereka berpindah lokasi. Menuju Pos Piaynemo untuk snorkeling dan memberi makan hiu. Ada rasa takut juga penasaran. Keduanya sempat merasa tegang ketika kapal yang mereka naiki mulai dekat dengan beberapa Hiu.
Namun, ketika melihat pemberian makan pada hiu oleh seorang petugas penangkaran mereka jadi tertarik. Atraksi unik untuk diabadikan dalam foto. Ketika daging-daging kecil dilemparkan ke air, ikan-ikan hiu dengan sigap menerkam daging-daging itu dan dalam sekejap habis tak bersisa. Sensasi yang sangat luar biasa sekaligus menghibur juga menyenangkan. Liora dan Wafi tak hentinya berdecak kagum sebab itu merupakan pengalaman pertama bagi mereka.
Tepat jam dua belas mereka sampai di daratan. Waktunya makan siang keduanya menuju restoran yang menyediakan seafood segar. Rasanya sungguh memanjakan lidah. Bahkan Liora makan dengan lahapnya tanpa ada rasa malu di depan sang suami.
“Makannya belepotan, Sayang.” Wafi berkata sambil menyeka saus di mulut sang istri.
“Gak papa, Bee. Namanya juga sekali-kali makan enak.”
“Emang selama ini gak pernah makan seafood?”
“Pernah, yang di restoran. Kadang gak enak. Ada udang atau apalah gitu yang sudah basi.”
“Ya, udah. Makan sepuasnya.”
Setelah mengisi tenaga. Pasutri itu siap mendaki puncak Wayag 1 dan 2. Pemandangan yang begitu bagus seakan menyihir keduanya untuk terus mendaki. Di setiap tanjakan baik Wafi dan Liora tak berhenti menoleh kebelakang, melihat bukit-bukit karang di tengah-tengah laut biru yang jernih.
Begitu sampai di puncak, mereka terpesona akan keindahan alam pulau Indonesia bagian Timur itu. Pantai dengan ombaknya yang tenang, lautnya jernih, pasir putih, dan bukit karang di sekitarnya. Sungguh membuat hati terasa damai dan tenang.
Wayag 2 memiliki beberapa spot dengan pemandangan yang berbeda. Tinggal pilih mau menikmati yang mana. Wafi dan Liora ternyata paling suka dengan pemandangan ke arah pantai tempat kapal datang. Lautnya bergradasi, kelihatan pasir dan karang di sekitar pantai itu.
Mereka menikmati waktu sore di sana hingga langit pun mulai kemerahan barulah keduanya turun dan kembali ke hotel.
\=\=\=\=\=
Hari ketiga di Raja Ampat, pagi ini mereka kembali bersiap untuk berkeliling. Menjelajahi area wisata di pulau timor ini.
Diawali dengan snorkeling di pulau Sawinggrai. Kemudian melihat telaga bintang lalu makan siang di Arborek. Terakhir, mengunjungi batu pensil dan batu wajah.
Jam lima sore keduanya kembali ke hotel. Bersih-bersih dan makan malam.
Tiba di kamar keduanya sama-sama merebahkan badan di kasus. Lelah pun mulai terasa, tapi senangnya tak terkira. Tiga hari mereka menghabiskan waktu disini, seakan mendapatkan semangat baru untuk kembali menjalankan rutinitas dan kehidupan di Jakarta.
“Besok kita pulang jam berapa, Bee?” tanya Liora
“Jam delapan kita sudah checkout, Sayang,” jawab Wafi. Pria itu menumpu kepalanya dengan tangan yang menyiku.
“Artinya kita sampai di Jakarta malam dong.”
__ADS_1
“Iya.”
“Besoknya kamu langsung kerja.”
Wafi mengangguk sambil memainkan rambut istrinya.
“Gak kecapekan kamu nantinya?”
“Gak lah. Di pesawat kan bisa tidur.”
Liora memeluk suamiya. “Makasih, ya, udah bawa aku jalan-jalan.”
“Senang gak?”
“Happy bangget.”
“Nanti kalau kita udah nikah resmi kita honeymoon lagi. Tapi keluar negri.”
“Aku sih ikut kamu aja.”
“Capek gak kakinya?”
Kepala Liora mengangguk.
“Eh, gak usah. Kamu kan juga capek, Bee.”
“Gak papa.”
“Beneran gak usah deh. Oh, ya, Bee, nanti pas sampai Jakarta aku mau cabut laporan.”
“Kenapa?”
“Gak papa. Gimanapun aku salah sudah berbohong dan menuduh Reiki. Aku gak mau nanti dapat karma. Setidaknya dia gak dihukum berat.”
“Mau kamu cabut laporannya, proses hukum tetap berjalan.”
“Kok gitu?”
“Apa yang dilakukan Reiki sama kamu dan Sena itu termasuk tindak pidana dan kalian merupakan korban juga saksi dari kasus pembunuhan. Jadi, Reiki bakalan dihukum. Nanti akan ada sidang terpisah untuk kamu dan Sena.”
__ADS_1
“Jadi, aku dan Sena bakalan dapat keadilan juga?”
Wafi meganguk. “Yah, mungkin memang ini hukuman buat dia kali. Bahkan ketika kamu ingin menyudahi drama ini, Tuhan malah mau melanjutkannya.”
“Kasihan juga Reiki.”
“Ya, gimana lagi. Aku rasa dia pantas mendapatkannya setelah aku tau gimana perlakuannya ke kamu.”
“Tapi nanti aku dipanggil ke persidangan lagi gak?”
“Hhmm kalau itu belum tau sih. Soalnya kamu tuntut dia atas kasus KDRT. Bisa jadi kamu bakal cuma jadi korban aja.”
“Aku takut jadi saksi dan disumpah lagi. Aku takut Allah marah.”
“Tuhan itu tau alasan kamu kenapa melakukan itu. Nanti pas persidangan untuk Sena kamu akan memberikan keterangan yang sebenarnya. Jadi gak perlu takut lagi.” Wafi mengelus kepala istrinya.
Liora bernafas lega. “Makasih, ya, Bee, kamu bikin aku merasa aman dan nyaman.”
“Sudah tugas aku. Suami itu payung, atap, rumah, benteng, peluru, bahkan juga bisa jadi pisau untuk melindungi istrinya. Bukan untuk melukai istrinya.”
Liora tersenyum lebar. “Ternyata kamu dewasa juga.”
“Dewasa itu gak bisa dilihat dari umur, Yank.”
“Aku setuju itu.”
“Sekarang kita tidur, yuk! Besok pagi kita harus buru-buru ke bandara.”
Keduanya sama-sama merebahkan kepala di atas bantal dan tak lupa Wafi menarik selimut untuk menghangatkan tubuh mereka.
\=\=\=\=\=\=
Wafi dan Liora sudah mendarat di Jakarta. Mereka pun kembali memulai hari seperti biasa, menjalankan rutinitas yang menyibukkan. Tak terasa waktu persidangan Reiki kembali digelar. Namun, keduanya memilih untuk tak menghadiri.
Sekitar jam sembilan pagi persidangan sudah dimulai. Majelis hakim pun sudah membacakan agenda, yaitu pembacaan tuntutan untuk Reiki oleh jaksa penuntut umum.
Kedua orang tua Milen melalui pengacaranya sudah meminta keadilan bagi putri mereka pada penuntut umum. Berharap Reiki dihukum dengan berat.
Secara garis besar, surat tuntutan pidana mulai dibacakan. Memuat nama Reiki sebagai terdakwa serta identitas lengkapnya juga disertai surat dakwaan. Kemudian uraian fakta hukum. Meliputi keterangan saksi, keterangan terdakwa, dan petunjuk. Petunjuk ini bisa dalam bentuk Berita Acara Penyidikan, Berita Acara Rekonstruksi dan lainnya.
__ADS_1
Analisa fakta hukum. Pada bagian ini, berita fakta yang diperoleh di persidangan akan disusun menjadi kesimpulan Jaksa Penuntut Umum. Bagian analisa ini berisikan pembuktian atas tindak pidana yang dilakukan oleh terdakwa.
Terakhir, tuntutan pidana. Inilah yang ditunggu-tunggu Reiki dan keluarga juga kedua orang tua Milen dan semua orang yang terlibat.