
Persidangan lanjutan dari kasus pembunuhan Milen masih berlanjut. Sidang untuk keadilan buat Sena sudah digelar sejak beberapa minggu yang lalu. Kini waktunya sidang pembuktian dan Liora diminta hadir sebagai saksi.
Ditemani sang suami, wanita hamil muda itu datang ke pengadilan. Ia pun sudah duduk di bangku kesaksian untuk disumpah.
“Apa betul saudara menyaksikan dengan mata kepala sendiri kalau malam itu terdakwa memukul dan menganiaya korban?” tanya Hakim Ketua.
“Betul, Pak Hakim. Terdakwa beberapa kali melayangkan kepalan tangannya pada korban. Juga beberapa tendangan.”
Hakim pun menunjukkan gambar-gambar luka yang didapat Sena waktu itu. “Benar ini luka yang diterima korban?”
“Betul, Pak Hakim. Gambar itu pun saya yang mengambilnya saat kami sampai di klinik pada malam kejadian.”
Merasa cukup, Hakim ketua pun mempersilahkan Liora kembali ke tempat semula.
Kali ini mantan kuasa hukum Reiki yang dulu dihadirkan sebagai saksi. Kani pun duduk di kursi kesaksian. Ia memberikan keterangan soal malam dimana mantan kliennya memang berencana untuk menemui dua saksi dan korban.
Setelah semua bukti dan saksi berbicara di persidangan, hakim pun memutuskan untuk melanjutkan sidang minggu depan. Semua orang keluar dari dalam gedung.
Lena yang merasa marah pada Kani, menumpahkan emosi ketika mereka berjumpa di luar gedung pengadilan. “Dasar gak tau terima kasih,” umpatnya.
Pengacara itu kaget saat kepalanya dipukul ibunda Reiki. “Loh, Buk, apa-apaan ini?” tanya Kani.
“Itu balasan karena kamu sudah memberatkan anak saya di persidangan,”ungkap Lena. “Lagian ngapain sih kamu ikut campur dalam hal ini? Kesal karena dipecat suami saya?” Wanita itu berkacak pinggang.
“Saya hanya membantu saksi yang butuh keterangan, itu saja,” jelas Kani.
“Halah, bilang aja kamu mau balas dendam karena gak terima dipecatkan!”
Kepala Kani menggeleng tak percaya. “Terserah ibu mau bilang apa. Tugas saya di sini hanya sebagai saksi dan tidak ada maksud untuk balas dendam atau apalah seperti yang Ibuk sangkakan.”
Malik berusaha menarik sang istri untuk tak lagi membuat keributan di depan gedung pengadilan. Ia sudah cukup malu setiap keluar dari persidangan istrinya itu selalu menarik para pemburu berita untuk menyoroti tingkahnya yang tak beretika.
“Sudah, Mah, malu dilihat orang. Kita ini jadi tontonan terus,” ujar Malik.
“Apa sih, Pa?” Lena melepaskan tangannya dari genggaman sang suami. “Mama bertingkah seperti ini demi anak kita. Ini bentuk pembelaan Mamam buat Reiki, Pa.”
“Iya, tapi jangan kayak gini, Ma,” bisik Malik. Pria paruh baya itu menyeret istrinya untuk beranjak dari sana dan segera masuk mobil.
Kali ini sesuai permintaan suaminya Liora tak lagi memainkan dramanya. Ia hanya menyaksikan keributan yang dibuat oleh mantan mama mertua dari kejauhan.
Hanya Sena yang dengan senang hati meluangkan waktu untuk menjawab pertanyaan dari pemburu berita.
Liora di bawa Wafi menuju parkiran dan mereka langsung pulang ke rumah.
“Mulai sekarang stop dan sudahi drama kamu. Jangan lagi bikin suasana tambah panas.” Wafi berkata sambil mengemudikan keretanya.
“Iya, Bee.”
Wafi menepuk tangan istrinya. “Nanti di rumah istirahat, ya. Aku langsung ke kantor.”
“Iya.”
“Udah jadi telpon Bi Idar buat kerja di rumah?”
“Astaga, aku lupa. Nanti deh aku telpon.”
“Kalau bisa besok langsung kerja, ya. Biar kamu gak kerepotan bikin sarapan.”
“Kalau bikin sarapan aja aku gak repot, Bee. Palingan beresin rumah mungkin ia, soalnya aku kadang masih suka pusing.”
“Ya, makanya awal-awal ini istirahat aja. Gak perlu turun ke dapur.”
Liora mengangguk setuju.
__ADS_1
...🐛🐛🐛🐛...
Kini Liora melewati waktu sambil menjalankan kehamilannya yang terbilang muda. Dia begitu sangat menjaga dan berhati-hati karena memang hal itu yang selama ini selalu dinantikan. Mengandung benih dari laki-laki yang dicintai.
Wafi sendiri juga sibuk dengan tugasnya, tapi ada hal yang berbeda ketika pulang. Ia akan disambut oleh istri tercinta dengan senyuman yang dapat menghalau rasa lelahnya.
Libur pun tiba. Hari ini mereka akan makan malam di rumah Fatih. Silaturahmi sekalian ingin membicarakan soal bantuan yang mereka butuhkan.
Pasutri itu tangah bersantai di ruang tengah sambil menikmati acara TV.
“Jam berapa kita berangkat, Bee?” tanya Liora.
“Habis ashar aja kali, ya.”
“Oke deh. Tapi nanti kita singgah di toko kue, ya. Buat anak-anaknya Pak Fatih.”
“Boleh.”
“Oh, ya, Bee, besok kita harus meeting sama pihak WO. Habis itu kita fitting baju.”
“Ternyata ribet juga, ya, urus pernikahan.”
“Iya, lah.”
Wafi yang bergolek di paha Liora, mengelus perut istrinya itu sambil berkata, “Anak kita gimana? Kamu juga, gak kecapekan?”
“Aman kok. Aku kadang lupa kalau lagi hamil. Mungkin karena perutnya masih rata kali, ya.”
“Baru juga dua bulan.”
“Mudah-mudahan nanti pas resepsi gak kelihatan.”
“Tiga bulan aku rasa belum gede lah. Lagian aku cuma mau ikutin sarannya Kak Vira. Katanya di usia segitu kandungan kamu lebih kuat.”
“Iya.” Liora melirik jam di dinding. “Udah mau adzan. Kita mandi dulu, yuk! Habis itu sholat baru berangkat.”
“Aku bilangin Kak Vira nih,” acam Liora.
“Ya, udah deh. Gak jadi. Sana kamu mandi dulu.”
Ibu hamil itu tersenyum sambil menggoda suaminya.
...🐞🐞🐞🐞...
Wafi dan Liora tiba di kediaman Fatih dan Kaina. Mereka disambut dengan ramah oleh pasangan itu.
“Ayo masuk,” ajak Kaina.
Wafi dan Liora mengikuti langkah kaki si tuan rumah. Mereka duduk di ruang tamu.
“Gede juga rumah lo Tih,” ujar Wafi.
“Alhamdulillah. Ini rumah buat anak dan istri. Biar rame, rencana nanti mau nambah anak lagi,” jawab si pengacara.
“Oh, ya ngomong-ngomong anak-anak lo mana?”
“Yang gede lagi di rumah ayahnya,” jawab Kaina. Anak bawaan aku. Kalau yang kecil lagi pada tidur.”
“Umur berapa, Mba?” tanya Liora.
“Jalan delapan bulan.”
“Pasti lagi gemes-gemesnya, ya.”
__ADS_1
Kaina tertawa. “Iya. lagi hobi makan juga.”
“Aku gak sabar pengen lihat.”
“Gimana kalau kita ke kamar mereka?!” tawar Kaina. “Tinggalin cowok-cowok biar mereka ngobrol dengan santai. Nanti kita juga ngobrol-ngobrol soal cewek.”
Liora mengangguk setuju. Ia bangkit dari sofa bersamaan dengan Kaina. “Aku lihat anaknya Pak Fatih dulu,” izinnya pada suami.
Wafi mengangguk.
Kepergian para istri, polisi itu membuka percakapan. “Jadi, gini, Tih. Maksud kedatangan gue sama istri, kami mau minta tolong sama lo dan istri. Kalau bisa sama keluarga besar lo lah, buat jadi wali untuk Liora. Dia udah gak punya keluarga. Kalaupun ada, udah pada jauh. Belum tentu mereka masih pada ingat dan kenal.”
“Ya, gue paham lah. Persyaratan nikah di kantor nanti gak mungkin istri lo gak ada keluarganya.”
“Nah itu dia.”
“Nanti coba geu bicara ama istri deh. Tapi kayaknya Kaina pasti mau bantu. Lagian istri lo kayaknya gampang bergaul. Baru ketemu aja dia udah langsung akrab ama istri gue.”
“Syukur kalau gitu.”
Obrolan di ruang tamu pun berlanjut, sedangkan di kamar baby kembar, Liora tampak gemas dengan kedua anak Fatih.
“Gembulnya mereka. Ini ASI eksklusif atau pakai susu formula, Mbak?” tanya Liora.
“Enam bulan kemarin ASI eksklusif aja. Nah dua bulan ini mereka sudah MP ASI,” jawab Kaina.
“Repot gak sih, Mbak?”
“Ya, pasti. Tapi dijalani dengan hati senang. Bahkan tingkah lucu mereka itu jadi hiburan buat aku.”
“Katanya mau nambah lagi? Benar, Mbak?”
Kaina mengangguk. Sambil mengganti popok si kembar dia berkata, “Suamiku sempat dinyatakan mandul jadi dia ditinggal istrinya. Pas nikah sama aku dia di kasih rejeki. Jadi aku gak mau nolak kalau nanti di kasih lagi. Kita juga udah konsultasi sama dokter.”
“Mudah-mudahan jadi, ya.”
“Aamiin. Mau gendong?”
“Boleh?”
“Boleh dong.”
“Duh aku gugup. Gak pernah gendong bayi soalnya.”
“Aku contohin dulu nanti dicoba, ya.” Kaina menggendong baby Farah. Dihadapkan ke depan dengan tangan kanan memangku sang anak dan tangan kiri menyangga pantannya. “Nih, gampang kok.”
“Oke, aku coba.”
“Mau yang cewek apa cowok?”
“Hhmm cowok aja. Biar nanti anakku juga cowok.”
“Hahaha. Kata suamiku kalian sudah nikah siri.”
“Iya, Mbak. Sekarang aku lagi hamil dua bulan.”
“Oh, ya. Selamat kalau gitu.”
“Makasih, Mbak.”
“Beneran mau gendong nih? Takutnya nanti suami kamu marah lagi. Biasanya laki suka overprotektif kalau istrinya hamil.”
“Gak papa lah. Lagian kan berat anaknya Mbak gak sampai dua puluh kilo.”
__ADS_1
“Iya juga sih. Nih.” Kaina menyerahkan baby Farhan pada Liora. “Yuk, kita bawa ke depan, biar suami kamu juga bisa lihat anak sahabatnya.”
“Ayuk!”