
Sore mulai menjelang. Dua insan manusia sedang menunggu sebuah kabar dari pasangan masing-masing di sela-sela kesibukan. Sama-sama melihat ponsel berharap akan ada satu panggilan atau pesan dari yang tercinta.
Namun, harapan itu menjadi rasa kecewa ketika notifikasi lain yang muncul. Liora memutuskan untuk pulang ke rumah terlebih dahulu. Berusaha berpikir positif, siapa tau suaminya memang sedang sibuk.
“Mbak,” sapa Susi.
“Ya.” Liora yang hendak keluar dari cafe menghentikan langkahnya.
“Ada pembalut gak di atas?”
“Buat apa? Tamu bulanan kamu datang?”
“Iya, biasanya gak tanggal segini.”
Ia pun teringat akan jadwal menstruasinya. “Hhm gak ada. Tapi kamu tunggu di sini biar saya beli di Mini Market depan.”
“Oke, makasih, ya, Mbak.”
Wanita itu mengangguk. Ia gegas menyebrang jalan dan membelikan pembalut untuk karyawan. Namun, hatinya tergerak untuk membeli alat tes kehamilan. Setelah disadari jadwal tamu bulanannya sudah lewat dua minggu.
Akhirnya, istri penyidik itu memantapkan hati untuk memeriksa kemungkinan dirinya tengah hamil. Setelah dibayar, Liora kembali ke cafe dan menyerahkan kebutuhan Susi tadi. Setelahnya ia pulang menaiki taxi online.
Tiba di rumah, wanita itu langsung menyiapkan makan malam. Masakannya beres ia pun membersihkan diri dan menunaikan solat magrib. Entah kenapa tumben sekali Wafi belum juga pulang. Tak mau lagi mengikuti rasa gengsi di cobanya menghubungi nomor sang suami.
Ternyata tak aktif sama sekali. Liora terduduk lemas di tepi kasur. Menumpahkan tangis akibat rasa bersalahnya pada sang suami. Tak seharusnya tadi pagi dia berkata seperti itu.
Lelah meneteskan laranya, wanita itu pun terlelap dengan mukenah yang belum di buka. Hingga pagi pun datang menjelang. Azan subuh membangunkannya.
Liora lekas duduk berharap sang suami sudah pulang, ternyata tidak sama sekali. Ia hendak menghubungi Wafi, tapi ternyata ponselnya pun sudah mati akibat lupa di charge semalam.
Ia bangkit dari kasur, mengisi daya ke ponsel lalu mengambil wudhu untuk menunaikan sholat subuh.
...🍆🍆🍆🍆...
Liora tengah bersiap untuk berangkat menghadiri persidangan pagi ini. Sebelum keluar rumah, hatinya ragu-ragu untuk memakai alat tes kehamilan yang kemarin dibeli. Karena rasa penasaran yang terus mengusik ia pun mengambil satu tespek dari laci meja rias dan dibawa ke kamar mandi.
Saat sedang menunggu hasilnya keluar, ponselnya yang sedang di cas berdering. Wanita itu gegas untuk menjawab karena berharap sang suami yang memanggil. Namun, hatinya kecewa melihat nama Fatih nan tertera di layar.
__ADS_1
Dengan berat hati ia geser tombol hijau. “Ya, Pak Fatih.”
“Mau berangkat bareng saya, Mbak?”
“Boleh. Tapi saya sudah pindah sih. Gak tinggal di apartemen lagi.”
“Oke, kirim aja alamatnya nanti saya samperin.”
“Baik.”
Telepon ditutup Liora langsung mengirim lokasinya pada sang pengacara. Dari kamar, wanita itu gegas keluar dan mengunci rumah. Ia sampai lupa untuk kembali melihat hasil dari alat tes kehamilan tadi.
Hanya menunggu lima menit mobil Fatih tampak menuju ke arah rumahnya. Wanita itu sengaja menunggu di depan gerbang.
“Ternyata rumah kita gak terlalu jauh.” Fatih berkata ketika kliennya itu duduk di bangku penumpang.
“Oh, ya? Kayaknya saya jadi mudah ke rumahnya Pak Fatih deh.”
“Harus itu. Ketemu sama istri saya biar dia ada temannya.”
“Oke, nanti saya kabari.”
“Udah, tadi dia buru-buru soalnya ada meeting gitu sebelum ke TKP.” Liora sengaja berbohong.
“Oh.”
Dua puluh menit perjalanan mereka sampai di pengadilan agama. Liora dan Fatih pun langsung memasuki ruang sidang.
Di dalam sana ternyata orang tua Reiki sudah duduk di bangku pengunjung. Mereka hadir untuk memastikan soal gugatan harta yang diajukan mantan menantu.
Lena melayangkan tatapan sinisnya pada Liora yang duduk di bangku depan bersama pengacaranya.
Majelis hakim pun memasuki ruangan dan persidangan pun dimulai. Karena Reiki sudah terbukti melakukan tindakan kekerasan dalam rumah tangga maka tanpa berlama-lama hakim ketua pun mengabulkan gugatan pisah yang dilayangkan Liora.
“Majelis Hakim telah memutus perkara perceraian karena kekerasan dalam rumah tangga yang ada di dalam putusan nomor 0445/Pdt.G/2014/PA. Dengan mengabulkan gugatan Penggugat, karena gugatan perceraian tersebut telah memenuhi syarat-syarat perceraian yang ada di dalam Pasal 39 Undang-Undang Nomor 1 tahun 1974 tentang Perkawinan, serta alasan-alasan Perceraian yang diajukan Penggugat telah memenuhi alasan dimana perceraian dapat terjadi, dimana kasus perceraian tersebut memenuhi unsur yang ada di dalam Peraturan Pemerintah Nomor 9 Tahun 1975 Pasal 19.” Hakim ketua pun mengetukkan palu sebanyak tiga kali.
“Dan dalam persidangan ini Majelis Hakim telah menjatuhkan putusan atas perkara gugatan Pembagian Harta Bersama ( gono gini) yang diajukan oleh pihak :PENGGUGAT, umur 32 tahun, dalam hal ini memberikan kuasa kepada MA dan Rekan, pekerjaan Advokad. Telah mengajukan gugatan pembagian harta bersama dengan alasan alasan yang pada pokoknya sebagai berikut:
__ADS_1
Bahwa Penggugat dan Tergugat dahulu suami istri yang sah dan sekarang sudah bercerai.
Bahwa selama dalam pernikahan antara Penggugat dan Tergugat kurang lebih 3 tahun tidak mempunyai anak atau keturunan.
Untuk gugatan harta gono-gini yang dilayangkan akan digelar dalam persidangan terpisah.”
Liora menghembuskan nafas lega seraya mengusap kedua telapak tangannya di wajah juga mengucapkan rasa syukur, sedangkan Lena dan Malik tertunduk lesu di belakang sana sebab putusan hakim tak sesuai harapan.
Sidang itu pun ditutup dan Majelis hakim meninggalkan ruangan. Liora berdiri bersamaan dengan Lena dan Malik yang hendak keluar dari ruang sidang. Mereka berpapasan di depan gedung, di mana para awak media dan wartawan sudah menunggu untuk memintai keterangan.
“Mbak Liora, bagaimana hasil persidangan tadi?” tanya seorang wartawan.
“Alhamdulillah, gugatan saya dikabulkan majelis hakim. Begitu juga dengan gugatan pembagian harta.” Liora menjawab dengan senyum sumringah.
“Berapa nominal yang Anda ajukan?” tanya media.
“Lima Milyar.” Kembali, istri penyidik itu tersenyum lebar ke arah mantan mertua yang menatap tak suka padanya.
“Lalu apakah Anda yakin akan memenangkan gugatan itu?”
“Yakin! Saya sangat yakin sekali majelis hakim dapat memutuskan dengan adil.”
__ADS_1
Beberapa wartawan pun menghampiri kedua orang tua Reiki. “Bagaimana pendapat Anda tentang gugatan yang dilayangkan mantan menantu?”
Malik berusaha menghindar. Ia menarik sang istri untuk segera masuk ke mobil, tapi Lena sepertinya masih tak terima. Wanita itu pun menjawab,” Saya akan pastikan kalau wanita iblis itu tidak akan mendapatkan sepeserpun harta anak saya.”