
Tiba di ruang rawat Sena, Liora duduk di pinggir ranjang. Memberikan rantang makanan yang dibawanya sambil berkata,” Nasi kari ayam buat kamu.”
“Wah, makasih banyak, ya, Mbak,” kata Sena.
“Aku cuma kepikiran aja makanan di sini pasti gak enak. Kebetulan lagi masak jadi aku lebihin buat kamu. Di makan.”
Sena membuka tutup kotak makanan itu. “Hhhuumm, wanginya bikin aku laper.”
“Alhamdulillah kalau kamu suka.”
“Saya makan, ya.”
Liora mengangguk. “Gimana kata dokter soal kepala kamu?”
“Ada sedikit pendarahan di otak. Tapi gak perlu sampai operasi sih cuma terapi obat aja.”
"Iya, tadi Wafi juga bilang kayak gitu.”
“Wafi?”
Liora melihat petugas yang berdiri di dekat pintu sepertinya percakapan mereka tak terlalu didengarnya. “Untuk sementara aku tinggal di apartemennya. Tadi dia datang buat memastikan keadaanku aja.”
Sena menelisik wajah wanita yang duduk di depannya itu. “Jangan bilang Mbak jadi baper,” bisiknya.
“Enggak kok,” elak Liora.
“Terus itu buktinya.” Sena menunjuk tanda merah di leher Liora membuat calon janda itu menutupinya dengan kedua tangan.
“Jangan bohong sama aku, Mbak. Aku sudah berpengalaman dalam menjerat pria biar masuk perangkap. Cuma Mbak kayaknya perlu belajar lagi untuk gak pakai hati.”
“Apa sih,” sungut Liora.
“Aku doakan semoga kalian berjodoh.”
Tawa Liora pun pecah. “Oh, ya, kapan kamu boleh keluar Rumah sakit?”
“Kata dokter sih satu hari lagi.”
“Jadi besok kamu gak ikut rekonstruksi dong?”
“Kayaknya gak deh, Mbak. Katanya bisa pakai pemeran pengganti, ya?”
__ADS_1
“Iya. Tadi aku juga ditawari Wafi, tapi aku bilang bakalan ikut.”
“Kenapa?”
Liora kembali melirik petugas yang ada di pintu. Sepertinya orang itu sudah lelah berdiri dan memilih duduk di bangku luar. Merasa aman barulah dia berkata dengan suara kecil, “Buat memastikan adegannya seperti yang kita ceritakan. Reiki pasti menolak melakukan adegan itu. Dia akan bersikeras melakukan adegan versi dia.”
Sena yang mengunyah makanan menganggukkan kepalanya. “Terus nanti gimana lagi caraku buat menghubungi Mbak?”
“Nanti aku cari cara lain. Oh, ya, aku mau kamu buka masalah ini di sosial media juga publik.”
“Buat apa?” bisik Sena.
“Biar publik tau dan Reiki akan semakin tersudut. Dengan begitu netizen akan menghakiminya. Hal itu akan semakin menguntungkan kita.”
“Oke, nanti aku hubungi managerku.”
“Bagus.” Liora membuang nafas panjang. “Kalau gitu aku pulang, ya.”
“Sekali lagi terima kasih makanannya.”
“Iya.”
\=\=\=\=\=\=\=
“Ayo, kita mulai saja,” ajak Wafi. Semua orang masuk ke dalam rumah menuju TKP utama, yaitu ruang kerja.
“Kita mulai dari sebelum Milen datang,” ujar Wafi.
Reiki duduk di meja kerjanya sedangkan Liora berdiri di depan. Adegan di mana mereka mengobrol pun dilakukan hingga kedatangan Milen yang menyeret Sena dan Reiki yang membujuk istri keduanya itu. Sampai ia dan sang istri pertama bertengkar.
Namun, Reiki menolak ketika Liora mengatakan kalau dirinyalah yang sudah mendorong sang istri pertama hingga terkena kaca pajangan.
“Bukan aku yang melakukannya, tapi Milen,” terang Reiki.
“Jangan bohong kamu,” tampik Liora.
Wafi dan anak buahnya memisahkan dua orang itu. “Oke. Lalu kapan kamu dipukul Milen dengan stik golf?”
“Dari sini aku keluar dan Reiki mengejarku,” jelas Liora. “Tapi Milen juga mengejar kami lalu memukul kakiku.”
Wafi memerintahkan pemeran pengganti Milen mereka adegan itu. Liora pun pura-pura terjatuh.
__ADS_1
“Lalu apa?” tanya Wafi.
“Milen dan Reiki bertengkar di pangkal tangga.”
“Apa-apaan ini,” protes Reiki. “Hanya kamu dan Milen yang keluar dari ruangan itu.” Reiki menunjuk ruang kerjanya. “Sedangkan aku dan Sena tetap di dalam.”
“Kita lakukan reka adegan versi Liora dan versi Anda nantinya,” ujar Wafi.
Reiki yang mulai tersulut emosi mencoba mengalah.
“Oke sekarang bagaimana tersangka mendorong korban?”
Liora yang tadinya duduk di lantai berdiri di dekat tangga. “Di sini mereka adu mulut. Milen sempat menampar dan memukul Reiki. Karena emosi Reiki pun mendorongnya.”
Tak terima dituduh, Reiki mendekati istri pertama yaitu. “Heh, dasar wanita licik. Ular kamu, ya, bisa-bisanya kamu mengarang cerita seperti itu.”
Anak buah Wafi berusaha menjauhkan Liora dari tersangka. Pemeran Milen pun berdiri di dekat tangga dan Reiki diminta berpura-pura mendorong wanita itu untuk diambil fotonya.
“Oke. Sekarang kita lakukan reka adegan versi Pak Reiki,” ujar Wafi. Ia dan anak buahnya kembali ke ruang kerja.
Liora melihat ada kesempatan saat Reiki ditinggal sendirian oleh pengawas di dekat tangga. Ia mendekati laki-laki itu. “Bagaimana aktingku?”
“Dasar wanita iblis,” umpat Reiki.
Liora tersenyum sinis. “Memang. Karena kamu yang mengubah aku menjadi iblis. Bukan begitu?”
Reiki mendekati istrinya lalu berkata dengan gigi yang bergemeretak. “Memangnya apa yang sudah aku perbuat sampai kamu melakukan ini?”
“Sudah mau membusuk di penjara tapi belum juga sadar akan kesalahanmu? Ternyata hal ini gak cukup untuk membuat kamu sadar.” Sesekali Liora melirik ke ruangan kerja takut-takut kalau polisi kembali. Namun, benar saja daun pintu pun terbuka tampak Wafi hendak keluar. “Iblis ini akan membuat kamu menderita di neraka," ujarnya. Dengan gerakan cepat Liora membawa kedua tangan sang suami menyentuh dadanya dan ia pun menjatuhkan diri di tangga.
“Liora,” sorak Wafi. Ia gegas mengejar sang pemilik hati hingga berhasil ditangkap.
Reiki yang tak tau apa-apa hanya diam dan terpaku di posisi. Semua terjadi begitu cepat. Ia tak menyangka kalau istri pertamanya bisa senekat itu.
Wafi menatap si tersangka dengan tajam. Semua anak buahnya keluar dan menghampiri.
“Hei.” Wafi menepuk pelan pipi Liora.
“Aku pusing, Waf,” ucap wanita itu dengan lemah.
“Kita ke Rumah Sakit.” Wafi mengangkat Liora dari anak tangga dan di gendongnya keluar dari rumah masuk kedalam mobil. Ternyata beberapa awak media juga wartawan sudah berkumpul di sana.
__ADS_1
Ia pun tak peduli. Hal yang paling penting sekarang adalah keselamatan Liora. Polisi itu membunyikan klakson mobilnya dengan keras agar kerumunan orang-orang pencari berita memberinya jalan keluar.