DRAMA WIFE

DRAMA WIFE
Tamat & Terima kasih


__ADS_3

Sore ini, Liora baru saja memandikan hasil buah cintanya dengan Wafi yang sudah berumur tiga bulan. Bayi laki-laki berparas tampan itu kini sudah wangi dan juga tampak menggemaskan dalam balutan baju tidur nan lucu.


“Sekarang waktunya kita tunggu Abi pulang di depan rumah.” Wanita nan semakin cantik setelah melahirkan normal kemarin, kini menggendong anaknya keluar dari kamar.


Tak lama, sebuah mobil sedan putih memasuki halaman rumah. Sudah pasti itu si penyidik Wafi yang pulang dari kantornya. Melihat anak istrinya sudah menunggu di depan teras, ia gegas keluar dari dalam mobil.


Bibirnya tersenyum lebar. Begitu pula dengan Liora. Tampak mereka begitu bahagia. Wafi mendaratkan satu ciuman di dahi sang istri kemudian ia mengambil alih sang anak dari pangkuan Liora. Tak lupa ia juga melabuhan kecupan sayang di pipi gembul anaknya.


“Udah wangi anak Abi,” kata Wafi.


“Udah, dong, Bee, Aminya juga udah wangi,” balas Liora.


Mereka melangkah bersama memasuki rumah.


“Sayang, aku punya kabar gembira.”


“Apa?” Liora menanti dengan raut wajah penasaran.


“Aku naik pangkat.”


"Oh, ya?" 


Wafi mengangguk cepat. 


"Selamat kalau gitu." Liora langsung memeluk sang suami. 


"Makasih, ya. Semua berkat kamu.”


“Juga karena usaha kamu.”


Senyum lebar terlukis di bibit penyidik itu. “Oh, ya, upacara peresmiannya bakalan dilakukan bulan depan."


"Udah kasih tau Kak Vira?"


"Belum. Nanti kita kesana, ya."


"Boleh. Sana kamu mandi. Aku sama Noah siap-siap." Liora mengambil sang anak dari pangkuan suaminya. 


Putra pertama mereka itu diberi nama Noah Ferdinand yang artinya adalah anak laki-laki pintar dan gagah berani. Ia dilahirkan dengan penuh perjuangan oleh sang ibu. Dimana Liora harus menahan rasa sakit sehari semalam demi bisa melahirkannya lewat jalan normal. 


Sang ayah pun tak kalah lelah dalam menjaganya ketika malam mulai datang. Namun, baik Liora dan Wafi benar-benar bersyukur atas kehadiran bayi itu. Membuat hidup keduanya terasa lebih lengkap dan penuh warna. 


Hari-hari dijalani dengan melihat tumbuh kembang sang putra yang terasa begitu cepat. Membuat mereka tak berhenti mengucapkan syukur pada sang pencipta.


 


Keluar dari kamar mandi, Wafi memakai baju yang disiapkan istrinya. “Makasih, Sayang.”


Liora membalasnya dengan senyuman.


Selesai berkemas keperluan si kecil, mereka berangkat menuju rumah sang kakak. Tiba disana mereka disambut gembira. Kedua anak Vira sangat senang bisa bertemu dan bermain dengan Baby Noah begitu pula dengan Vira dan suaminya.  


Keluarga besar itu menyantap makan malam mereka dengan canda dan tawa juga rasa syukur atas kabar gembira yang dibawa oleh Wafi.  Sempurna sudah kehidupan mereka. Masa lalu yang kelam berusaha untuk dilupakan dengan menciptakan masa depan yang begitu indah.  


Semoga tak ada lagi drama atau sandiwara yang dapat merusak kebahagiaan itu hingga ajal menjemput untuk menerima hukuman dari hakim yang paling adil.


...🍒🍒🍒🍒...


Liora sudah rapi dengan pakaian serba pinknya. Rambutnya di sanggul rendah. Tak lupa wajah cantiknya di poles dengan sedikit make-up bernuansa pink. Sebagai pelengkap ia mengenakan heels rendah. Sempurna sudah penampilan wanita itu sebagai seorang Ibu Bhayangkari.


Hari ini ia akan mendampingi sang suami yang akan menjalankan upacara kenaikan pangkat bersama anggota lainnya. 


Wafi sendiri pun sudah gagah dengan seragam kebanggaannya. Sebelum pergi pasangan itu mematut diri mereka di depan cermin. Polisi itu mengembangkan bibirnya dengan lebar begitu pula dengan istrinya.


“Siap?” Wafi menatap sang istri di pantulan cermin.

__ADS_1


Liora mengangguk. “Siap.”


Si penyidik mengulurkan tangannya pada sang istri dan Liora menyambutnya dengan senang hati. Mereka keluar dari kamar sambil bergandengan tangan dan senyum bahagia. Di ruang tamu Vira dan suami serta anak-anaknya sudah menunggu. begitu juga dengan Baby Noah yang terlihat tenang dalam strollernya.


Keluarga itu langsung berangkat menuju lapangan tempat acara berlangsung. Setengah jam di perjalanan mereka pun sampai. Mereka mulai mengambil posisi. Tak lama acara pun berlangsung. Kapolres pun menyampaikan amanatnya pada Anggota Polri yang mengikuti upacara Korps Raport.


Kagiatan pun dilanjutkan dengan penyiraman bunga sebagai wujud syukur atas anugerah yang telah diberikan dilanjutkan dengan penyematan tanda dan pemberian selamat pada personel yang menerima kenaikan pangkat. Salah satunya Wafi. Pria itu kini menerima simbol satu bunga melati emas (Komisaris Polisi) yang disematkan di bahunya. 


Rasa bangga pun menyeruak dalam hatinya juga sang istri yang mendampingi serta keluarga yang ikut menyaksikan. Setelah acara selesai mereka tak lupa mengabadikan momen lewat jepretan kamera. Berfoto dengan keluarga besar, sahabat, serta teman yang datang memberi selamat.


Wafi pun mengajak para kerabat untuk merayakan keberhasilannya di cafe dan resto Liora. Di sana mereka semua menikmati hidangan diiringi canda tawa juga rasa syukur yang teramat dalam. Hingga sore menjelang satu persatu dari mereka memutuskan untuk pulang.


...🥭🥭🥭🥭...


“Haahh … capek, ya, Bee,” kata Liora.


“Lumayan.” Wafi membantu sang istri yang menggendong sang anak turun dari mobil. 


Pasangan itu baru saja sampai di kediaman mereka tepat pukul tujuh malam. Keduanya langsung masuk rumah dan menuju kamar sang putra.


“Bee, aku mau lap dan gantiin bajunya Noah dulu,” ujar Liora. “Kamu duluan ke kamar sana. Pasti juga mau mandi “kan!?”


“Gak papa kalau gak aku bantu?”


“Gak papa. Habis ini Noah juga langsung tidur. Kasihan seharian tadi dia pindah-pindah tangan. Tidurnya gak nyenyak deh.”


Wafi tersenyum. “Namanya keluarga sekali ketemu pasti kangen, Yank. Apalagi Noah makin gendut, mereka pasti gemes.”


“Iya, juga sih.”


“Ya, udah aku duluan ke kamar. Nanti Noah bobok sini aja, ya.”


“Sendirian?”


“Gak papa, sekali-sekali. Lagian kan ada cctv.” Polisi itu mengedipkan matanya.


“Ayolah. Aku kangen kamu tau.”


Sebagai ibu tentu Liora merasa tak tega membiarkan anaknya tidur sendirian. Namun, belakangan ia sedikit melupakan dirinya yang juga merupakan seorang istri. Pasti suaminya itu begitu merindukan waktu berdua dengannya.


“Ya, udah. Tapi tolong anterin baju ganti aku ke sini. Aku mandi di sini aja.”


“Oke.”


Kepergian sang suami, Liora membersihkan putranya dengan lap yang sudah dibasahi air hangat. Noah tampak begitu tenang. 


“Malam ini anak Ami bobok sendiri dulu, ya.” Wanita cantik itu mengajak sang putra bicara. Meski tak paham bayi lucu dan menggemaskan itu menatap sang bunda dengan dalam.


“Anak Ami jangan rewel, ya. Kasihan Abinya belakangan selalu Ami tinggal pas bobok soalnya Ami harus jagain kamu.” Noah pun tersenyum.


“Anak pintar.”


Wafi pun kembali membawakan pakaian ganti untuk istrinya.


“Bee, tolong Noah minum susunya dulu, ya. Aku belum mandi jadi gak bisa nyusu sama aku.”


“Oke, Sayang.” Polisi itu mengambil botol susu sang anak yang sudah dipanaskan istrinya di atas meja. 


“Jangan digendong. Taruh aja Noah di bouncernya kamu juga belum mandi.”


“Iya, kamu lebay banget sih, Yank.”


“Kasihan Noah, Bee. Kita pasti bawa bakteri dan kuman dari luar dia kan udah bersih.”


“Iya. Nanti kalau dia udah tidur aku tinggal, ya.”

__ADS_1


“Oke. Aku mandinya gak lama kok.”


“Ya, udah sana. Yang bersih dan wangi.”


Liora mengangguk sambil tersenyum.


...🍋🍋🍋🍋...


“Bee.” Liora masuk ke kamarnya. 


Wafi pun menghampiri sang istri. Membawa Liora berdiri di depan cermin.


“Ada apa sih?”


“Aku punya sesuatu.”


“Apa.”


“Ya, hadiah kecil karena kamu sudah bawa Noah dan kebahagiaan dalam hidup aku.” 


Sebuah anting berlian di pasangkan Wafi di telinga istrinya. Melihat Hal itu Liora pun tersenyum lebar.  


“Aku gak tau mau kasih kamu apa. Rencananya mau beli kalung, tapi udah biasa. Jadi aku pilih anting aja.”


“Makasih, ya.”


Keduanya sama-sama mematut pantulan diri mereka di cermin besar itu.


“Suka gak?”


“Simpel dan aku suka. Tapi tumben-tumbennya kamu romantis gini.”


“Emangnya salah?”


“Gak juga sih.”


Wafi melingkarkan tangannya di leher sang istri. “Sebagai seorang polisi mungkin aku akan dikasih tanda penghargaan atas jasa dan juga tugas yang sudah aku emban. Dan sebagai suami aku juga ingin memberikan sebuah penghargaan pada istri aku atas semua yang sudah kamu lakukan. Urus Noah, aku, juga sibuk pantau cafe.”


Liora membalik tubuhnya menghadap sang suami. “Oke, kalau gitu aku juga mau kasih sebuah penghargaan buat kamu.”


“Apa?”


“Aku.”


“Serius?” 


Dengan sedikit gaya menggoda, Liora melingkarkan tangannya di leher sang suami. “Tadi aku udah bilang sama Noah kalau Abinya lagi kangen sama Aminya. Jadi malam ini Abi bisa lepas kangen sama Ami.”


Wafi tertawa lebar. “Emang Noah ngerti? Kalau dia nangis gimana?”


“Hhhmm, kayaknya Noah ngerti deh.”


Dengan sekali angkat, Liora kini sudah melayang menuju pembaringan. “Oke, kalau gitu aku akan memanfaatkan waktu ini dengan baik untuk bikin adik buat Noah.”


Liora yang sudah berbaring langsung mendudukkan diri.”Hah. Bee, Noah masih kecil loh.”


“Gak papa, biar Noah ada temannya dan gak ganggu kita.”


“Oke, tapi berliannya nanti lebih besar dari yang tadi, ya.”


Keduanya pun tertawa lebar dan mereka menghabiskan malam syahdu dengan penuh kehangatan.


...----------------...


Mau ngucapin terima kasih buat yang sudah mampir juga buat yang sudah baca cerita ini sampai akhir.

__ADS_1


Meski pembacanya bisa di hitung jari, tapi aku senang bisa menulis cerita ini sampai akhir.


Terima kasih atas dukungannya. Sampai jumpa di tahun depan. Semoga kalian mau mampir di karya-karyaku selanjutnya 😉😊👋👋👋💐😍🥰😘


__ADS_2