
Dua bayi gembul dengan rambut tebal itu tampak senang di ajak keluar dari kamar. Mereka mengayun-ayunkan kaki dalam gendongan sang ibu dan Liora.
“Nah ini dia udah bangun,” sambut Fatih.
Liora bersama baby Farhan menghampiri Wafi. “Gemes, ya, Bee.”
“Anak lo, Tih?” tanya Wafi.
“Bukan! Anak tetangga,” kesal Fatih.
Polisi itu tertawa lebar sambil mengambil alih baby Farhan dari gendongan istrinya. “Gila anak-anak lo lucu abis. Gak kayak lo, suka bikin kesal.”
“Buruan cetak, biar saingan kita.”
“Udah jadi dong,” tutur Wafi. “Tapi belum lahir.”
“Oh, ya?”
“Baru jalan dua bulan.”
“Pantes lo buru-buru pengen nikah resmi.” Fatih mengambil sang putri dari istrinya.
“Waktu gue daftar di kantor, kita belum tau kalau Liora udah isi. Tapi jujur emang gue khawatir soal itu makanya buru-buru.”
“Oh, terus kapan sidang BP4R?”
“Minggu depan.”
“Udah lengkap syaratnya?”
“Nah itu, gue butuh foto kopi KK wali dari Liora. Kalau boleh kalian bersedia buat jadi wali dari istri gue.”
“Aku sih gak masalah,” jawab Kaina. “Ya, anggap aja kita saudara jauh.”
“Alhamdulillah, Makasih, Mbak,” ujar Wafi.
Fatih mengangguk. “Nanti kita bahas lagi. Kita ke meja makan dulu habis itu kita sholat magrib berjamaah.”
Liora dan Wafi pun setuju.
...🦋🦋🦋🦋...
__ADS_1
Jam delapan malam Wafi dan Liora berpamitan. Fatih dan Kaina melepas kepergian mereka sampai halaman rumah.
“Ternyata seru, ya, Bee,” ujar Liora. “Istrinya Pak Fatih juga baik banget loh.”
“Iya, beruntung banget Fatih bisa sama dia. Mantan istrinya yang dulu itu agak sombong.”
“Hhmm. Sama istrinya yang sekarang kamu gak kenal?”
“Gak, Yank. Aku kan harus siap ditugaskan dimana aja. Jadi pindah-pindah gitu. Nah baru kemarin aku bebas memilih mau ditugaskan dimana. Makanya aku kembali ke sini.”
“Ooh. Jadi beru ketemu lagi ama Pak Fatih.”
“Iya.” Wafi menjawab dengan tatapan fokus ke jalanan. “Kamu mau jajan dulu gak nih? Nanti di rumah kelaparan lagi.”
“Boleh. Kita beli apa, ya, enaknya?”
“Aku lagi pengen makan yang asem-asem deh, Yank.”
“Ih, udah malem ini. Nanti sakit perut loh.”
“Gak papa deh. Gak enak banget rasanya lidahku dari tadi.”
“Ya, udah. Kita cari toko buah.”
“Sekarang kemana?” tanya Wafi.
“Aku kayaknya beli roti ama kue kecil aja deh, Bee. Buat cemilan malam.”
“Oke, kita ke supermarket dekat sini aja.”
Liora mengangguk setuju. Setelah mendapatkan apa yang dicari, Liora membawa suaminya pulang. Sampai di rumah Wafi pun meminta sang istri untuk mengupas nanas muda yang tadi di beli.
“Nanti sakit perut loh, Bee,” ujar Liora.
“Dikit aja, Yank. Biar lebih segar.”
Liora meringis melihat sang suami melahap nanas muda dengan santainya. Pria itu tampak biasa saja. “Gak asem?”
“Iya, tapi enak.”
“Kamu aneh.”
__ADS_1
“Iya, ya, biasanya aku gak begitu suka nanas loh.”
Sang istri hanya mengedikkan bahu. “Aku ke kamar mau cuci muka ama ganti baju.”
“Oke, nanti aku susul.”
...🐠🐠🐠🐠...
Sidang putusan atas kasus penganiayaan yang dilakukan Reiki pada sang mantan selingkuhan akhirnya digelar. Pagi ini iya kembali duduk di kursi terdakwa dengan kepala tertunduk.
Hancur sudah kepercayaan dirinya yang selama ini begitu yakin menentang mantan istri pertama. Ia benar-benar sudah kalah dalam pertaruhan. Tak ada lagi sisa-sisa keyakinan diri untuk ditunjukkan depan orang-orang.
“Menyatakan terdakwa Reiki Alterio bersalah melakukan tindak pidana penganiayaan berat terhadap korban dan saksi. Barang siapa dengan sengaja melakukan penganiayaan sebagaimana diatur dan diancam pidana dalam Pasal Pasal 351 ayat (1) KUHP pidana sebagaimana Dakwaan. Kedua, menjatuhkan pidana terhadap terdakwa berupa pidana penjara selama lima tahun penjara dengan dikurangi selama terdakwa berada dalam tahanan sementara, dan dengan perintah terdakwa tetap ditahan.” Hakim ketua pun mengetukkan palu sebanyak tiga kali setelah membacakan putusan pengadilan.
Mantan suami Liora itu terus saja melihat ke arah lantai keramik putih yang di pijaknya. Ia tak lagi peduli dengan apa yang disampaikan hakim. Dodi sang kuasa hukum menghampiri dan menepuk bahunya untuk menyadarkan pria itu dari lamunan.
Hakim Ketua pun bertanya, “Saudara terdakwa mengerti dengan putusan yang dibacakan?”
“Mengerti, Pak Hakim,” jawab Reiki.
Karena laki-laki itu menerima keputusan pengadilan dengan pasrah maka hakim ketua menutup persidangan pagi ini. Majelis hakim meninggalkan ruang sidang.
Malik dan Lena segera menghampiri sang putra sebelum kembali ke tahanan.
“Papa akan cari cara agar kamu dapat bebas dalam waktu cepat,” ujar Malik.
Reiki mengangguk.
“Mama gak rela kamu dipenjara dalam waktu yang lama, Rei,” jelas Lena. “Kamu masih muda dan masa depan kamu masih panjang. Kami akan berusaha. ”
“Terima kasih, Ma, Pa.” Reiki meminta kepada petugas untuk segera membawanya. “Aku kembali dulu. Berikan aku waktu untuk sendiri.”
Kedua orang tua itu menatap kepergian sang anak dengan sendu. Rasanya tak tega membiarkan putra semata wayang menjalani hidup di balik jeruji besi.
...🐽🐽🐽🐽...
Hari ini Wafi dan Liora menghadiri sidang nikah bersama para calon pengantin anggota polri lainnya yang akan segera menikah.
Sidang BP4R adalah sidang untuk pemberian izin nikah pada anggota yang akan melaksanakan pernikahan. Sidang nikah ini wajib dilaksanakan bagi seluruh personel Polri beserta calon pasangan yang akan melangsungkan pernikahan karena merupakan syarat yang harus dipenuhi untuk melangsungkan pernikahan.
Banyak pesan dan petuah yang diberikan oleh Kapolres serta Kabag untuk para calon pengantin dalam membina rumah tangga yang sakina, mawadah, dan warahmah. Juga arahan serta petunjuk dari Wakil ketua Bhayangkari tentang peran seorang istri dalam melaksanakan tugas kepolisian.
__ADS_1
Sementara itu, Kasi Propam mengatakan, setelah dilakukan pengecekan terhadap calon yang akan disidangkan, kedua anggota Polri ini tidak memiliki permasalahan terhadap kedinasannya. Kemudian Kasiwas, memberikan arahan agar kedua pasangan ini dalam berumah tangga tetap dalam pengawasannya. Acara Sidang ditutup dengan Do’a bersama.