DUA GARIS MERAH GADIS BISU ( Za-Ga )

DUA GARIS MERAH GADIS BISU ( Za-Ga )
Nama Yang Lain


__ADS_3

Daniel melajukan mobil berbalik arah. Karena ada sesuatu yang tertinggal.


Namun Daniel melihat sesosok wanita yang sangat sangat di kenal. Berjalan dengan menjinjing tas besarnya dengan langkah yang sedikit terseok Seok karena beban yang ada dalam tas.


"Yeza.." gumamnya 


Daniel segera menghentikan mobilnya dan segera turun, Setelah menepikan mobilnya di pinggir jalan.


"Za.." panggil Daniel.


Yeza menoleh dan melihat papanya berlari kearahnya.


"Yeza.. Tunggu...!!" teriak Danil saat melihat Yeza berlari menjauhinya 


Bugghhh..


Tubuh Danil merosot kebawah. Saat kakinya tersandung 


"Papa" gumam Yeza dalam hati. Bagaiman pun Yeza tidak tega melihat orang tuanya terjatuh.


Yeza segera berbalik arah dan menghampiri papa nya


"Mau kemana nak?" tanya Danil.


"Kau mau pergi meninggalkan papa hemm.?" tanya Lagi


Yeza menuduk.


"Tolong sayang.. Jangan lakukan ini. Baiklah kita akan bicara sama mama." ucap Danil kemudian


Yeza, mendongak menatap papanya. Matanya, mulai berlinang lagi. Ada senyum kebahagiaan di bibir Yeza. Yeza segera, memeluk papanya.


"Jangan tinggalin papa nak. Papa akan mengurus bayi ini. Kita hadapi bersama sama ya." ucap Danil. Dan mengelus punggung Yeza lembut 


"Maafin papa sudah memaksa kehendak papa. Papa tidak apa apa jika harus mendengar gunjingan orang orang. Yang penting kamu tidak ninggalin papa." ucap Danil lagi


Danil segera membingkai wajah Yeza. Lalu mengecup kening nya.


"Kita pulang yaa.." ajak Danil. Yang di angguki oleh Yeza.


Daniel segera mengambil tas besar yang Yeza bawa. Lalu tangan kirinya menautkan jemarinya pada Jemari Yeza.


Mereka segera memasuki mobilnya.


...***...


"Nyonya. Non Za tidak ada" lapor bik Ndari.


"Nggak ada gimana sih bik. Dari tadi Yeza, belum keluar loh." ucap Desi sedikit panik


"Benar nyonya. Di kamar Non Za tidak ada siapa siapa" jawabnya 


Desi segera berdiri lalu segera berlari ke kamar Yeza. "Jangan sampai gadis itu pergi. Bisa batal rencanaku kalo begini." gumamnya lirih


Setelah memasuki kamar Yeza, Desi segera membuka almari nya.


"Ya Tuhaaannnn..." teriak Desi. Saat melihat almari Yeza kosong.


"Ini tidak mungkin. Ini tidak boleh terjadi.. Yeza tidak boleh pergi" teriaknya.


Desi segera mengambil ponselnya lalu segera, menelpon  sang suami.


Tutttt... Tuuttttt...

__ADS_1


Dalam deringan kedua Danil sudah menjawab.


"Ada apa mam?" tanya Daniel


"Paaa.. Yeza pa.. Yeza pergi dari rumah." jawabnya


"Tenang ma.. Tenang.." Jawab  Danil menenangkan istrinya.


"Papa tau kan. Jika mama sangat menyayangi Yeza. Mama hanya ingin yang terbaik buat Yeza,  tapi apa? Yeza malah ninggalin mama." ucapnya


"Tenang ma.. Yeza bersama papa saat ini." jawab Daniel.


"Apa??? Yeza bersama papa. Kok bisa?" tanyanya


"Nanti papa cerita kan. Ini papa dan Yeza sedang menuju ke rumah. Mama tunggu saja di rumah." jawab Danil


Danil segera menutup kembali ponselnya. Lalu melirik ke wajah Yeza. Melihat wajah putrinya semakin hari semakin pucat. Sungguh tidak tega. banyak sekali beban yang harus di hadapi. belum nanti setelah menikah. akankah Yeza bahagia? atau malah sebaliknya.


"Kamu tenang ya nak. Semua akan baik baik saja. Papa hanya ingin melihat kamu bahagia bersama papa.' ucap Danil


Yeza, mengangguk lalu kembali menatap samping luar jendela. Hatinya benar benar rapuh saat ini.


Harapanya cuma satu. Mama nya mau membatalkan pernikahannya.


...***...


"Ga.  Semuanya sudah beres. Tinggal menunggu hari H nya" ucap Sam. Sambil menyerahkan dokumen yang di pegangnya 


Dirga segera mengambilnya. Lalu membuka satu persatu Dokumen itu. Wajahnya kembali datar. Tak ada senyuman sedikitpun di wajahnya 


Braakk... Pintu ruangannya kembali di buka dengan keras .


Sontak Dirga maupun Sam menatap wanita yang tiba tiba masuk.


"Maaf Pak. Tadi saya sudah melarangnya. Namun ibu ini malah memaksa, masuk." ucap Wanita sekretaris Dirga 


Mendengar Nara menyebut nama "ibu" Dirga seketika tertawa.


"Ok.. Biarkan dia masuk. Kau boleh keluar Ra." ujar Dirga


Nara pun keluar dengan menatap wajah Dirga  yang masih menampakkan  gigi putihnya. Karena tertawanya juga sangat menarik perhatian Nara. Selama jadi sekertaris nya. Baru kali ini Nara melihat bosnya tertawa keras seperti itu.


"Apa yang ingin kau bicarakan bu.?" tanya Dirga.


"Whaatt.. Ibu..?" ucap Tania tak percaya 


Sam yang mendengar pun juga tak kalah kaget. Sam pun juga ikut tertawa.


"Kalo tak ada yang penting silahkan keluar. Saya masih banyak pekerjaan." ucap Dirga lagi


"Kenapa kau tidak datang?" tanya Tania dengan menyentak tangan Dirga yang memegang tangan Tania. menuntun ke pintu keluar.


"Aku tidak janji akan datang. Jadi jangan mengharap aku akan kembali padamu." ucap Dirga


"Apa kau sudah memiliki wanita lain selain aku?" tanya Tania geram. Bisa bisanya Dirga menolak dirinya 


"Itu bukan urusanmu. Dan kau bukanlah siapa siapa dalam hidupku. Jadi berhentilah mengejarku." ucap Dirga lagi.


"Sam.. Tolong seret wanita ini keluar. Aku masih banyak kerjaan." titah Daniel.


Sam pun segera membawa Tania keluar.


"Lepaskan tangan motormu dari tubuhku. Aku bisa sendiri" ucap Tania. Lalu segera pergi meninggalkan ruangan Dirga

__ADS_1


...***...


"Nyonya.  Ada tamu dari calon suaminya Non Yeza. " ucap Mbak Rusni


"Baik mbak. Suruh tunggu sebentar." jawab Desi.


Desi tidak setuju rencana pernikahan Yeza dan Juna di batalkan. Setiap hari Desi merayu dan memberi pengertian pada Yeza.


Dengan terpaksa Yeza menurutinya. Karena juga di ancam  jika Yeza tak mau menuruti perintahnya. Maka jangan berharap Yeza bisa bertemu dengan papa nya lagi.


Desi keluar dengan anggun menuju ruang tamu. Desi segera menyalami tamunya 


"Ini Nyonya.. Berkas berkas dari mempelai prianya." ucap Candra. Sebagai utusan Dirga 


"Kemana Juna? Kenapa bukan dia saja?" tanya Desi. Desi tidak tau jika mempelai pria nya sudah di ganti


"Maaf bos kami sedang sibuk. Dan kami berharap nyonya jangan pernah mengecewakan bos kami.", ucap Candra lagi


" kurang ajar.. Memang siapa Juna itu. Berani beraninya mengancamku." batin Desi


"Aku sudah janji. Akan membayarnya jika dia sudah berhasil melakukan pekerjaannya. Kau tenang saja." jawabnya.


Setelah itu Candra pamit. Karena masih banyak pekerjaan dari Dirga 


...***...


Sore hari.


"Ma.. Ini berkas apa?" tanya Daniel.


"Itu tadi.. Orangnya Juna mengirim itu. Itu yang harus di serahkan pada penghulu pa." jawab Desi


Daniel membuka berkas itu. Lalu membaca suratnya dari deretan nama teratas 


"Ma.. Ini kok namanya ARYA GUSTI DIRGANTARA emang siapa namanya?" tanya Daniel.


Desi mengerutkan keningnya  "masak sih pa?" tanya nya  lalu segera duduk di samping suaminya dan membaca deretan nama itu.


"Iya yaa.. apa mereka salah ketik?" tanya Desi


Daniel hanya mengedikkan bahunya tidak tau.


Desi segera mengambil ponselnya dan menekan nomer kontak milik Anita.


"Halo Nit " sapa Desi


"Ia Des.  Ada apa?" tanyanya


"Ini namanya Juna siapa sihh?" tanya Desi


"Emmm.. Emang kenapa?" tanya Anita


"Kok di sini tertera nama lain.?" tanyanya


"Emm.. Ya itu namanya jeng. Emang kamu mengharap siapa lagi yang mau menikahi gadis yang sudah tidak perawan dan hamil lagi. Mending janda ada statusnya. Inii...?" ujar Nita mengejek.


Danil mengepalkan kedua tangannya. Marah saat mendengar putrinya begitu di pandang rendah oleh teman Desi. Istrinya sendiri.


Danil segera merampas ponsel milik Desi.


***


"Saudara Arya Gusti Dirgantara saya nikahkan anda dengan putri saya yang bernama Dyeza Ghinara Alienzki binti Daniel Alienzki dengan mas kawin...... "

__ADS_1


__ADS_2