DUA GARIS MERAH GADIS BISU ( Za-Ga )

DUA GARIS MERAH GADIS BISU ( Za-Ga )
Membenci warna pink


__ADS_3

Yeza sudah membaringkan tubuhnya di atas tempat tidur.


Yeza sengaja menaikkan baju tidurnya hingga pada dada yang menonjol. Biasanya Dirga tidak tahan saat melihat perut yang seakan akan ingin meletus.


Dirga tak pernah melewati untuk mengelus perut Yeza yang menggemaskan.


Hingga waktu menunjukkan pukul 11 pm. Dirga belum memasuki kamarnya. "Apa dia tidur di ruang kerja?" batin Yeza.


Ceklek


Baru aja di pikirkan. Dirga nongol tanpa di minta.


Jantung Yeza berdegup begitu cepat. Padahal setiap hari tidur bersamanya, hanya kemarin malam saja mereka pisah ranjang.


Namun entah kenapa perasaan jantungnya selalu berdegup saat melihat atau merasakan ada Dirga di sampingnya


Dirga melihat perut Yeza yang menggemaskan. Namun Dirga segera menutup nya dengan selimut.


"Apa yang aku lakukan bodoh? Kenapa, memancing dia. Dia bahkan tak akan menyetuhku walau aku bug*l sekalipun kalau dia masih marah." batin Yeza


Dirga segera masuk ke kamar mandi. Untuk menggosok gigi dan mencuci mukanya 


"Ok.. Lihat saja besok. Siapa yang tidak akan tergoda, apa kau masih setia dengan marahmu? Atau kau ingin menerkam ku." batin Yeza. Yeza segera mengambil posisinya untuk memejamkan matanya. Yeza memasang bantal guling di tengah tengahnya agar Dirga tidak mendapat tempat.


Dirga keluar dari kamar mandi dan segera melepas pakaiannya. Semua pakaian sudah di tanggalkan tinggal boxer yang setia menutupi area bawah.


Dirga melihat ada guling di tengah tengah mereka.


Tanpa suara Dirga segera menyingkirkannya. Lalu merebahkan tubuhhya di samping Yeza.


Mereka saling memunggungi. Dirga menoleh ke arah Yeza, ingin rasanya mengelus perut buncit istrinya nya, namun sepertinya emang Dirga lebih mengutamakan gengsi dari pada hasrat.


...***...


Beda dengan Daniel.


Sudah dua malam ini Daniel merasakan kesepian. Kedua putrinya tidak ada di sampingnya.


Kekhawatiran pada Anggi kian besar. Ponselnya tidak bisa di hubungi, berkali kali Daniel mencoba untuk menelponnya. Namun nomer nya lagi lagi tidak aktif.


"Kemana kamu nak? Papa belum bisa tidur nyenyak sebelum tau keadaanmu baik baik saja." gumamnya

__ADS_1


Bagaimanapun Anggi adalah anaknya. Anak yang di besarkan dan selalu di timang timang dengan penuh cinta.


Daniel mengambil bingkai foto keluarga. Ada Desi, Daniel Yeza dan juga Anggi.


Foto yang begitu indah, kebahagiaan keluarganya dulu begitu sempurna. Namun tiba tiba datang musibah yang datang pada putri pertamanya.


Setelah itu datang lagi masalah secara bertubi tubi. Seolah keluarga ini pantas untuk di azab oleh Tuhan.


Entah dosa apa yang sudah keluarga ini perbuat, terutama dirinya. Daniel merenung, apa ada orang yang sudah pernah tersakiti oleh nya sehingga mendoakan yang terburuk untuk keluarganya.


Dertttt... Derrttt


Ponsel Daniel berdering.


"Ibu," gumamnya.


Selama ini memang Daniel masih berhubungan baik dengan ibunya. Walau tidak tinggal bersama namun ibunya selalu menanyakan kabar cucu dan menantunya. Terutama pada Yeza.


☎ " ibu sudah di bandara Daniel, jemput ibu ya."


☎ " mendadak sekali ibu," tanya Daniel


☎ " ibu merindukan kamu dan juga Yeza. Cepat jemput ibu" ucapnya lagi


...***...


Di penjara


Desi begitu frustasi dan sedih. Bagaimana tidak, keluarganya tidak ada yang menjenguknya di sini.


Sang suami yang mungkin kecewa pada Desi. Sehingga Dia tidak mau menemui lagi. Bahkan Pengacara yang Desi minta untuk membantunya pun. Sang suami tidak mengabulkan nya.


Dan lebih sedih lagi. Putrinya yang selalu di bela dan selalu di beri kasih sayang itu tidak menampakkan batang hidungnya.


"Anggi, kau keterlaluan sama mama. Tidak kah kau merindukan mama nak? Ini mama kandungmu. Tapi kau begitu abai pada mama."


Tiga hari hidup dalam jeruji besi, membuat Desi semakin tidak terurus, wajahnya yang dulu kinclong dan sangat menggoda. Kini sudah mulai terlihat memudar.


Pakaian mahalnya kini juga telah tergantikan oleh pakaian yang berwarna biru dongker dengan sablon yang bertuliskan TAHANAN miris memang


Dulu selalu membelikan Yeza pakaian murahan. Kini dirinya juga memakai yang lebih murah dari milik Yeza.

__ADS_1


"Maafin mama Za." gumamnya. Hanya itu yang bisa Desi ucapkan untuk penyesalannya


...****...


Mentari sudah menyapa


Yeza tengah sibuk dengan kebiasaan di dapur. Dengan di temani oleh bi Uci


Yeza menatap jam dinding.


"Bi, saya tinggal dulu ya." pamit Yeza. Yang di angguki oleh bi Uci


Yeza segera masuk kamar, dan tak melihat suaminya di tempat tidur 


Yeza mendengar suara gemericik air dari kamar mandi.


Yeza segera menyiapkan pakaian untuk suaminya.


Setelah beberapa saat, pintu kamar mandi di buka.


Terlihat Dirga sudah keluar, wajahnya begitu lebih segar dan jangan lupakan. Rambut hitamnya pasti basah yang menambah ketampanan pada Dirga.


Setelah kering Dirga segera meraih baju kantor yang sudah di siapkan.


"Apa apaan ini, kenapa Yeza menyiapkan jas, celana dan kemeja warna pink. Padahal Dirga paling benci warna itu." kesalnya 


"Yang benar saja, bagaimana karyawanku nanti jika melihat Diriku dengan pakaian alai kek gini." gumamnya


Namun sekali lagi, apa pun yang Yeza siapkan untuk Dirga. Dirga tidak pernah menolak.


Karena Dirga yakin ini adalah kemauan bayinya.


Yeza hanya cekikikan di balik pintu ruang ganti.


Yeza ingin ngerjain suaminya dengan pakaian itu. Jika Dirga masih bertekad memakainya.


Itu artinya hati Dirga sudah bisa berdamai dengannya 


Dirga menatap dirinya di cermin. "Tapi nggak jelek juga sih." gumamnya.


Dirga mulai memakai dasinya sambil bercermin. Dari pantulan cermin Dirga melihat bayangan Yeza.

__ADS_1


"Dmmm." umpat Dirga saat melihat pakaian Yeza


__ADS_2