DUA GARIS MERAH GADIS BISU ( Za-Ga )

DUA GARIS MERAH GADIS BISU ( Za-Ga )
Bersikap Lembut


__ADS_3

...***...


Sam menghentikan mobilnya saat telah sampai di depan rumah Dirga.


Namun tak berani untuk turun dan menanyakan kabar Yeza saat ini.


"Bagaimana keadaanya?" batin Sam.


Jika ada Hellen. Pasti Sam akan membawa  Hellen untuk masuk. Namun  Hellen saat ini sedang keluar kota karena urusan pekerjaanya.


Sam memukul setir mobilnya denga  kuat. Hingga menimbulkan suara klakson yang begitu nyaring.


Sam kembali menatap rumah yang masih menyalakan banyak lampu.


"Sial kau Dirga.. Kau tidak bisa membedakan mana istri mana jal*ng." gumam Sam.


Lama sekali Sam berada di sana. Hingga Sam melihat salah satu lampu dari ruangan itu di matikan.


Sam yakin Yeza baik baik saja. Sam segera menyalakan mobilnya. Lalu segera meninggalkan rumah Dirga 


...***...


Yeza masih meringis saat merasakan  banyak luka di tubuhnya.


Air mata yang tadi keluar. Semakin mengalir deras.


Tak sanggup rasanya merasakan nyeri di kulitnya. Yeza segera merebahkan  tubuhnya di atas tempat tidur.


Matanya menatap atap yang putih. Yeza masih tetap belum bisa memakai bajunya. Karena saat tersentuh akan menimbulkan rasa perih lagi.


Yeza sudah mencoba memberi obat merah. entah sudah berapa lama Yeza tertidur.


Yeza terbangun saat ada yang menyentuh kulit nya.


Yeza segera membuka matanya. Dan segera bangun menjauhkan diri dari Dirga.


"Aku akan mengobati lukamu." ujar Dirga


"Tidak usah. Aku sudah mengobatinya." jawabnya sambil kepala tetap menggeleng yakin.


"Jangan membangkang. Cepat mendekat biar aku obati luka itu." ucap Dirga dingin


Yeza segera menggeser tubuhnya pelan. Setelah berdekatan Dirga segera mengoles dengan pelan. "Aku bisa lakukan sendiri." ucap nya lirih dengan bibir gemetar.


Isshhh.. Desis Yeza 


"Di tahan. Setelah ini kau tidak akan merasakan  sakit lagi." ucap Dirga


Setiap obat itu di tempelkan pada luka. Maka rasa perih itu semakin menusuk sampai ke relung hatinya 


Dirga melihat luka luka itu karena ulahnya. Apa yang di pikirkan Dirga.? Menyesal..? Tidak.. Dirga tidak menyesal. Dirga hanya berkeinginan untuk mengobati saja. Itu semua juga karena Yeza yang memancing Dirga untuk melakukan ini.


Setelah sselesei Dirga segera berdiri. Sedangkan Yeza segera mengambil pakaiannya.

__ADS_1


"Tidak usah di pakai. Biar tidak ttergores oleh gesekan pakaian." ucapnya


Yeza, menatap Dirga ragu.


"Tidurlah.. Aku akan menjagamu di sini." ucap Dirga lagi.


Yeza segera membaringkan tubuhnya  dan  Dirga segera memasang selimut sampai ke leher Yeza.


Dirga duduk di pinggir tempat tidur 


Tangannya terulur masuk ke selimut. Dan meraba perut Yeza yang semakin mbuncit.


Yeza tercekat saat merasakan kulit hangat itu kembali menjelajahi tubuhnya. Jantung yang belum kembali stabil. Kini sudah berpacu kembali lebih cepat.


"Tidurlah.. Aku tidak akan apa apain kamu.


Seperti ada kupu kupu yang berterbangan di dalam dadanya. Ingin sekali menjerit dan mengumpati Dirga. atas kekesalannya dan kecewanya pada Dirga  ingin segera di keluarkan semua.


Namun siapalah Yeza. Wanita yang bernasib memeliki suami tanpa ada proses pendekatan. Dan saling mengenal. Yeza hanya beralibi. Jika dirinya tidak beda dengan wanita malam yang hamil tanpa suami.


Yeza masih belum tau sifat asli Dirga. Entah itu lembut ataukah sifat aslinya adalah waktu dia menggauli Yeza dengan kasar. Yeza bergidik ngeri saat membayangkan emosi Dirga 


Yeza mengelus perutnya  dan seketika tangan mereka kembali bertemu di sana. Yeza segera, menyingkirkan tangannya dari tangan Dirga.


" jika saja mereka menikah karena cinta. Sudah pasti kehidupan ini akan bahagia. Namun pernikahan ini karena adanya anak. Kemungkinan Cinta tidak akan pernah menghampirinya. " batin Yeza


Bisa bisanya dia bersikap lembut seperti itu. Setelah melakukan kekerasan padaku  seolah tidak terjadi sesuatu pada dirinya. batin Yeza


Beberapa menit kemudian Dirga mendengar nafas yang teratur. Pertanda jika Yeza sudah menajamkan matanya dengan nyenyak.


"Jangan ulangi lagi untuk memancing emosi." lirih Dirga.


Dirga, menyusul berbaring di sebelah Yeza. Dan tangan tetap mengelus perut buncit Yeza.


...***...


Mount Elisabeth london Hospital


Selama satu minggu lebih. Keluarga Rendi berada di London. Tidak semua.. hanya Rendi juga mamanya. Sedangkan papa nya harus mengurus bisnisnya.


Rendi menginap di rumah tantenya. Adek dari mamanya. Karena tidak mungkin akan menginap di hotel selama mamanya sakit.


Tangannya kembali terkepal saat mengingat Desi. Mama dari kekasihnya. Benci pada wanita itu. Tapi tidak pada anaknya. Rendi dan Anggi sama sama saling mencintai.


Sebenarnya tanpa Desi mendatangi rumahnya. Rendi pasti akan bertanggung jawab.


Rendi tersadar dari bayangan Desi saat beberapa dokter dan suster berlari memasuki ruang rawat di mana Leni berada 


Tubuh Rendi menegang. Belum siap jika harus terjadi sesuatu pada mamanya.


"Bagaimana Ren?" tanya Jenna tante Rendi


Rendi menggeleng tidak tau keadaanya.

__ADS_1


Jenna segera mendekat dan mengelus punggung keponakan satu satunya ini.


"Tenang yang Ren.. Tante yakin mama akan baik baik saja."


Rendi segera mendongak dan melihat wajah lesu dari dokter yang menangani mama Rendi.


"Bagaimana dokter?" tanya Jenna yang langsung menghampiri dokter.


"Mohon maaf.. kami sudah berusaha selama lebih satu minggu. Namun  Tuhan sudah menetapkan garisnya." jawab Dokter


Rendi ambruk seketika. "Mama... Mamaaa..." teriaknya. Rendi memang sangat menyayangi mamanya. Hanya kepada mama nya Rendi bisa terbuka. Dari hubungannya dengan Xena ataupun dengan Anggi.


Leni sangat mengenal Xena. Namun selalu memberi lampu kuning untuk Rendi saat mendekati Xena. Berbeda dengan  Anggi. Leni selalu memberi lampu hijau untuk pertemanan mereka. .


"Sabar Ren." ucap Jenna 


Jenna segera menelpon kaka ipar nya. Jika Leni sudah tiada.


Obrolan yang di dominasi dengan duka itu  segera berakhir.


Hasta menginginkan Leni di makamkan di London saja. Mengingat kedua orang tua nya yang juga di makamkan di London.


...***...


Yeza menggeliat saat matahari yang begitu hangat menyinari wajah putihnya.


Yeza merasakan sulit bernafas, sebelum menyadari tangan kekar milik pria yang sudah membuatnya sakit masih berada di perutnya 


Yeza berusaha menyingkirkan tangan itu. Namun sang pemilik malah semakin mengerat.


"M.. Mass.. Aku mau bangun." ucap Yeza sedikit masih mrasa takut pada Dirga.


"Nanti saja. Aku masih mau di posisi seperti ini." jawabnya


Oooee.. Yeza segera turun dengan hanya memakai ****** *****. Masuk kekamar mandi. Untuk mengeluarkan isi perutnya 


Tidak ada yang berhasil keluar. Hanya cairan kuning yang sangat pahit.


Yeza, menatap dirinya di depan cermin. Dan melihat tubuhnya yang masih banyak bekas gigitan Dirga.


Yeza segera menyentuhnya.tersenyum bahagia saat Yeza tidak merasakan sakit lagi.


"kau tidak apa apa?" tanya Dirga.


Yeza menggeleng. "aku baik baik saja." jawabnya


"kita akan kerumah sakit pagi ini." ucap Dirga yang terkesan perintah.


"tidak perlu.. ini hanya biasa bawaan wanita hamil." jawab Yeza. Yeza tak ingin terlalu melibatkan Dirga dalam urusan dirinya dan anaknya. Yeza tak ingin hanya dia memperlakukan dengan baik dan memenuhi kebutuhan nya. Dirga aka semena mena pada diri Yeza.


"selama kau hidup bersamaku. kau tak boleh membangkang apapun yang aku katakan" tekan Dirga dengan tatapan yang menghunus


'tuhh kan.. belum apa apa sudah mengatur apa yang tidak aku mau. dan apa yang aku mau." batinnya.

__ADS_1


Yeza hanya meringis saat membayangkan kehidupan yang lebih lama lagi dengan Dirga.


__ADS_2