
...***...
Anggi sedang berdiri didepan jendela. Pandangannya menatap orang orang yang berjalan berlalu lalang
Mereka menikmati kehidupannya begitu bahagia. Seolah tidak ada masalah apapun di kehidupan mereka.
Berbeda dengan dirinya. Hidupnya sudah hancur semenjak dirinya di perkosa oleh Rendy.
Ditambah lagi dirinya sekarang menjadi tawanan pria Tua, dan pria itu adalah ayah dari kekasihnya.
Entah dendam apa yang Hasta salurkan untuk diri nya. Sehingga Hasta dengan na*su dan gai*ahnya begitu tak bisa di kendalikan, seolah Anggi adalah permainan baru untuk pelampiasan kemarahan yang pernah Anggi pebuat pada keluarga Hasta.
Pemandangannya tiba tiba mengabur, airmata nya kembali menutupi penglihatannya
Anggi segera mengusap kasar air matanya.
"Aku tidak boleh menyerah aku harus bisa keluar dari sini. Bagaimanapun keadaanku nanti. Aku harus bisa lepas dari Hasta, aku tidak mau di jadikan budak se* seumur hidup ku untuk dia." tekadnya
Penglihatannya tidak sengaja menatap sosok pria yang sangat di kenal. Pria yang berjalan beriringan dengan seorang pria. Anggi tidak mengenal pria satunya. Yang Anggi tau itu adalah papanya. Papa nya baru saja keluar dari kantor pengacara.
"Papa" gumam Anggi. Harapan untuk bisa lepas semakin besar. Anggi segera memanggil papanya dari atas.
"PAPAAA..." panggil Anggi
"PAPAAA.." panggilnya lagi. Namun pria yang di panggil itu tidak mendengar.
Anggi lemas saat melihat papa nya memasuki mobil bersama dengan pria satunya
"Papa, Anggi di atas pa. Tolong mendongak lah pa." teriak Anggi frustasi
Mobil itu sudah pergi meninggalkan Anggi. Tentu sang papa tidak bisa mendengar teriakan Anggi. Karena suara deru mobil yang berlalu lalang saling bersahutan.
Dari bawah ada sepasang mata yang mengawasi penampilan Anggi. Anggi lupa jika dirinya hanya memakai lingerie dan tanpa memakai penutup. Sehingga bentuk tubuh dan payu*ara nya begitu terlihat.
Pria itu tersenyum menyeringai, seolah mendapat mangsa baru.
Anggi terduduk lemas, air matanya tak bisa untuk di tahan lagi.
lalu memasuki kamarnya. Hatinya tambah hancur saat tidak ada harapan lagi untuk terbebas.
...****...
Dirga sudah berada di depan kantornya.
Candra segera membuka pintu belakang untuk bos nya, lalu beralih membuka yang sebelah untuk istri bosnya.
Dirga berjalan lebih dulu meninggalkan Yeza yang masih bingung, lalu menatap Dirga yang sudah agak jauh darinya.
__ADS_1
Dirga segera berhenti setelah sadar tidak ada langkah kaki yang mengikutinya. Dirga berbalik lalu menatap Yeza yang masih berdiam di samping mobil.
"Za.." panggil Dirga
Yeza diam lalu menggeleng.
Dirga segera menghampiri istrinya. "Kenapa?" tanya nya
"Kau masuk menduluiku. Apa kau kira aku itu sudah terkenal di kantor mu yang semuanya asing bagiku?" tanya nya
Dirga hanya membalas dengan senyum. "Tidak ada yang berani mengusirmu. Mereka semua pegawaiku." jawabnya
"Memangnya mereka mengenalku? Tidak kan? Jadi jika aku di tinggal oleh suamiku pasti banyak pasang mata yang akan menatapku dengan sebelah mata." ujar Yeza
Dirga segera meraih tangan Yeza. Lalu menautkan jemarinya dan segera melangkah dengan menuntun Yeza menuju gedung yang di pimpin olehNya.
Yeza segera melepas tautan jemarinya dan berhenti untuk brbalik.
"Ada apa lagi?" kesalnya
"Langkahmu terlalu lebar, aku tak bisa mengimbanginya, lebih baik aku di sini menunggumu untuk pulang." jawab Yeza
"Baru juga masuk udah di ajak pulang. Yang benar saja Za." cebik Dirga
"Makanya tunggu aku, pelan kan langkahmu jika aku tetep masih ingin di ajak masuk" protesnya
Di dalam banyak pasang mata yang menatap Dirga dan juga Yeza.
"Siapa wanita hamil itu? Apakah dia istri pak Dirga?" bisik seorang karyawan permpuan
"Aku mana tau, pak Dirga kan belum menikah setauku" jawabnya seorang lagi
"Lalu siapa wanita itu?'
Yeza menoleh pada wanita yang sedang membicarakan dirinya. Lalu memberikan senyum untuk mereka. Mereka pun membalas senyuman Yeza. Karena Yeza berada di samping bos mereka, tentu mereka akan memperlakukan dengan sopan.
Beda kalo Yeza berjalan sendiri. Sudah pasti mereka akan membuang muka saat Yeza memberi senyuman.
" sayang, kau mau makan apa? Biar Nara yang siapin untukmu" tanya Dirga
"Emm.. Nanti saja mas," jawabnya
Nara yang mendengar sebutan "sayang" itu ternganga. "Sejak kapan bos nya seromantis itu." tanya Nara dalam hati.
Tangan Nara di tarik oleh seorang wanita
"Bu Nara, siapa wanita hamil yang bersama si bos?" tanya Vivie
__ADS_1
"Mana aku tau. Aku juga baru lihat ini." jawabnya
Terdengar desas desus mulut yang membicarakan Dirga dan Yeza. Namun mereka tak ambil pusing. Mereka tetap melanjutkan langkahnya.
Dirga segera membuka pintu lift menuju lantai 3.
...***...
Yeza duduk di sofa ruangan Dirga. Matanya sibuk bermain dengan ponsel. Sesekali Yeza tertawa lepas saat melihat video lucu dari apk yang sedang di bukanya.
Dirga jadi terganggu fokusnya.
Pekerjaan yang sudah menumpuk belum selesei di revisi lagi karena fokusnya selalu buyar,
"Za, kau bisa tenang nggak sih. Aku terganggu." ujar Dirga
"Jangan bicara seperti itu. Aku biasanya juga begini kalo dirumah. Salah sendiri membawaku kekantor." jawabnya
Dirga menghela nafas jengah. Lalu segera berdiri menghampiri Yeza yang masih sibuk dengan apknya
"Nonton apa sihh?" tanyanya sambil dagunya Dirga taruh pada punggung Yeza.
"Lihatlah mas. Wajah ini mirip kamu ya?" jawabnya
Dirga menatap tajam Yeza. "Kurang ajar sekali. Suaminya yang tampan begini di samain dengan pelawak yang sedang kau tonton."
"Tunggu dulu. Jangan marah marah. Mirip sekali tuu kalo lagi marah. Makanya denger dulu kalo istrinya bicara." ucap Yeza
Mendengar kembali ucapan istrinya yang begitu mengena di hatinya. Dirga segera menggigit ceruk leher Yeza yang putih. Lalu tangannya mengelus perut buncit istrinya
"Mas, katanya mau kerja, kenapa duduk disini."
"Iya" jawabnya
"Ternyata aku salah membawa istriku ke kantor bukannya fokus tapi malah mataku tidak ingin lepas dari wajah Yeza." batinnya
...***...
"Bagaimana keadaan putra saya dok? "
"Sejauh ini kami masih memantau pak. Kepergian mamanya membuatnya begitu shok. Jadi terkadang dia masih meracau tidak jelas." jelas dokter
"Nak. Cepat sembuh yaa, papa merindukan senyum dan tawamu."
...💗💗...
saya merasakannya, part ini agak membosankan.
__ADS_1