DUA GARIS MERAH GADIS BISU ( Za-Ga )

DUA GARIS MERAH GADIS BISU ( Za-Ga )
DVD


__ADS_3

Yeza menunggu kedatangan Dirga di dalam kamar.


Tapi wajah tampan suaminya itu belum juga menampakkan akan pesonanya di kamar ini.


Yeza menatap jam dinding, waktu sudah menunjukkan pukul 12 pm. Yeza segera mematikan televisi nya. Dan beranjak dari sofa untuk menyusul suaminya di ruang kerja.


Yeza berjalan  tanpa suara. Karna Yeza sudah melepas alas kakinya 


Sesampainya di depan ruang Kerja, Yeza menyembulkan kepalanya lewat celah pintu yang terbuka sedikit.


Yeza melihat Dirga duduk dengan bersandar kursi. Owhh.. Dirga tertidur di sana.


Yeza segera masuk dan menghampiri suaminya.


"Mas, mas Dirga" panggilnya lirih. Karena tidak ingin suaminya kaget dengan  suaranya.


"Mas" sekali lagi Yeza menepuk pipi suaminya dengan lembut.


Eungghhh.. Lengkuhnya


"Hemm.." jawab Dirga, dan berusaha membuka matanya 


"Kok tidur disini?" tanyanya


"Emm.. Kelelahan pasti." ucap Yeza


"Iya, sebentar aku matiin laptop dulu. Kau tunggu di kamar saja ya." ucapnya dengan suara berat.


"Bener ya," sahut Yeza


"Ya udah tungguin di sofa kalo nggak percaya." balas Dirga


Yeza segera duduk di sofa menunggu suaminya membereskan pekerjaanya.


Yeza mulai menguap beberapa kali. Suaminya yang katanya akan mematikan laptopnya ternyata masih ngecek kembali.


Dirga membuka line yang sudah lama tidak pernah di tengok.


Biasanya disana Dirga akan menemukan berita berita lama yang tidak pernah ter publish lagi.


Saat Dirga ingin men scroll beritanya. Di sana ada berita yang 33 tahun yang lalu.


Berita tentang kebakaran mobil ambulans, dan memakan korban jiwa.


"Mas, masih lama?" tanyanya


"Iya sebentar." jawabnya


Dirga segera menutup kembali line nya.  Line itu hanya berisikan. Tentang perusahaan mesran figsell. Perusahaan. Yang di kelolanya.


Dirga menatap Yeza yang sudah mulai memejamkan matanya.


"Za.." panggilnya


"Hmmm.."


Dirga segera membawa Yeza kekamarnya.

__ADS_1


"Kau masuk dulu, biar aku matikan lampu depan." ucap Dirga


...***...


Pagi telah tiba.


Dirga terbangun saat cahaya matahari menembus kamarnya. Tepat pada pencahayaan matanya.


Dirga menoleh ke samping dan tidak mendapati istrinya di sini. Dirga melihat arlojinya.


Dirga segera bangun dan duduk untuk mengembalikan kesadarannya sesaat.


Dirga segera masuk ke kamar mandi. Dan segera membersihkan tubuh hya dengan air dingin.


Setelah ritual mandi selesei. Dirga segera memakai pakaian yang udah Yeza siapkan


"Za" panggilnya


"Hmm" jawabnya


"Oh nggak jadi. Bisa lakukan sendiri." katanya kemudian


"Ada apa sih mas?" tanya Yeza


Namun Yeza melihat jika Dirga tengah melepas perban yang melilit di lengannya.


"Biar aku bantu." ucapnya


Dirga membiarkan tangan mungil istrinya yang melepas perban nya. Matanya menatap lekat setiap lekuk wajah Yeza,


Dirga mencium bibir Yeza lagi.


"Mas, diam ah." ucap Yeza


"Entah kenapa. Walau bibirku diam tapi jantungku tidak bisa diam saat berada di dekatmu. Rasanya ingin mengurungmu di kamar. Dan menghabiskan waktu untuk benci*ta setiap waktu setiap hari bersamamu." ucap Dirga


"Nggak usah lebay gitu deh. Ingat umur" sahut Yeza


Dirga tertawa saja menanggapi omelan Yeza, sangat menggemaskan saat menampakkan wajah juteknya.


Mereka tengah menikmati sarapan berdua. Tak ada obrolan hanya terdengar suara dentingan sendok yang bersahutan.


...***...


Dirga sudah berada di kantor


"Nara, panggil Pak Robet untuk keruangan saya." ucap Dirga


"Baik Pak." jawabnya


Robert adalah orang kepercayaan  perusahaan. Yang bertugas untuk mentransfer gaji para karyawan. Semua di bidang keuangan Robert yang harus bertangung jawab.


Tak berapa lama, ruangan Dirga diketuk dari luar.


"Masuk" ucapnya


Munculah pak Robert yang sudah di tunggu oleh Dirga

__ADS_1


"Selamat pagi pak Dirga,"


"Duduklah" ucapnya


"Saya ingin tau keuangan untuk bulan ini dan 2 bulan yang lalu." ucapnya


"Baik Pak. Saya akan segera siapkan laporan keuangan nya." jawabnya


"Saya tidak ingin ada kesalahan sedikitpun. Kalo sampai itu terjadi dan ketahuan, jangan harap saya masih mempekerjakan anda." tekannya.


"Baik Pak." jawabnya lagi dengan gugup.


"Silahkan tinggalkan ruangan saya."


Pak Robert segera beranjak dari kursi panasnya, dan meninggalkan ruangan yang sempat membuat diri nya tegang.


Dirga segera berdiri lalu segera mengambil berkas yang ada di atas almari.


Krek,


Suara benda jatuh dari atas almari. Dirga baru ingat, jika ada dirinya pernah mendapat kan kiriman paket. Namun belum sempat di lihat.


Dirga segera membukanya. Dan ternyata berisi DVD.


Dirga segera menyalakan laptopnya untuk melihat apa isi rekaman yang di dalam DVD tersebut


Namun laptopnya tidak memungkinkan untuk melihat video nya.


Dirga segera berdiri dan melangkah menuju ruangan papanya. Karena laptop yang sering di gunakan untuk urusan luar kerjaan ada di ruang papanya.


Langkah nya terhenti saat berada di luar ruangan milik Arka.


Terdengar dengan sangat jelas. Siapa pemilik suara itu.


"Pa. Tyo tak bisa di hubungi. Sudah dari tadi malam. Tyo seperti meninggalkan jejak deh pa." ucap Arka


"Kamu itu bodoh mencari orang. Lihatlah kita susah mengeluarkan bayak duit untuk dia. Tapi dia.." ucapnya terhenti saat Dirga memasuki ruangan Arka.


"Dirga.." gumam Arka panik. Begitu juga dengan Papanya


"Kenapa diam pa. Ada yang salah dengan pekerjaan Dirga?" tanya nya yang memancing.


Dirga ingin tau sejauh mana mereka mampu berbohong padanya.


"Ohh iya pa, kemarin ada orang yang ingin menghancurkan perusahaan ini. Apa papa tau?" tanya nya


"Ohh iya jelas tau. Kan papa yang standby di sini." jawabnya seolah mbanggakan Dirinya


"Dan ternyata mereka adalah yang dekat dengan kita." ucap Dirga


"Apa yang kau maksud adalah Ramos?" tanya Arka


Dirga hanya berdecihh pelan, lalu tak ingin membuang waktu terlalu lama disini.


"Oh iya pa, Dirga mau ambil laptop yang ada diruangan papa."


"Ohh. Iya bisa. Ayo keruangan papa." ajaknya

__ADS_1


__ADS_2