DUA GARIS MERAH GADIS BISU ( Za-Ga )

DUA GARIS MERAH GADIS BISU ( Za-Ga )
Kegelapan


__ADS_3

Hasta sedang mengunjungi Rendy, semenjak Leni meninggal karena serangan jantung yang di akibatkan oleh kelakuan Desi.


Hidup Rendi jadi berubah, ibunya adalah semangat hidupnya, segala sesuatu Rendi selalu bergantung pada ibunya.


Rendi benar benar kehilangan wanita yang sangat di cintai


Hasta sudah berusaha memberi perawatan yang terbaik buat kesembuhan Rendi. Namun sudah selama berbulan bulan ini Rendy belum juga bisa di sembuhkan


Hasta segera mengusap kedua matanya. Kemudian kedua tangannya terkepal. Tekadnya semakin bulat untuk memberi perhitungan pada keluarga yang sudah membuat keluarganya hancur.


...***...


Jam sudah menunjukkan pukul 8 pm.


Anggi sedang duduk sambil makan makanan yang Hasta siapkan di dalam kulkas.


Malam ini Hasta tidak mengunjungi Anggi. Karena Hasta sedang berada di luar negeri.


Hasta tidak bilang apapun pada Anggi. Sehinga Anggi tidak tau akan pulang atau tidak Hasta malam ini


Anggi melihat kulit pahanya yang kebiruan, saat di tekan Anggi sedikit merasakan ngilu. Anggi kembali mengingat ingat asal muasal memar di tubuhnya.


"Persaan tidak terbentur apapun. Tapi kenapa banyak sekali memar kebiruan ini ada di tubuhku." batinnya


Terdengar suara pintu di ketuk. Anggi tak peduli karena Anggi tidak tau kata sandi pintu ini. Kemarin kemarin Anggi tau, namun semenjak 4 hari ini Anggi sudah tidak bisa membuka dengan sandi yang Anggi ketahui.


Mungkin Hasta sudah mengganti sandi pintunya.


Ketukan itu kembali terdengar. "Siapa sihh," batinnya


"Ini jam,, kenapa Hasta brengsek itu belum pulang? Tapi baguslah aku tidak perlu melayaninya malam ini. Aku bisa bernafas lega." gumamnya


Anggi segera menikmati kembali makanan yang di bawanya.


Semakin malam ketukan itu semakin terdengar. Tidak ingin terjadi sesuatu lagi pada diri nya. Anggi segera masuk ke kamar dan menguncinya dari dalam.


...***...


"Yeza sayang. Nenek merindukan kamu." ucap Bu Ratna, saat Yeza sudah di antar oleh Dirga kerumah orang tuanya. Ratna segera memeluk cucunya yang sebentar lagi akan menjadi ibu.


Sepulang kerja Dirga langsung mengantar Yeza pada orang tuanya.


"Pa, kemana mama dan Anggi? Kok mereka tidak terlihat?" tanya nya


Ketiga orang dewasa itu saling memandang saat Yeza menanyakan keberadaan Desi dan Anggi.


"Emmm.. Nanti papa ceritakan, sekarang kau makan dulu, ini bi Ndari sudah memasak makanan kesukaanmu." ucap Daniel


Yeza mengangguk lalu segera menikmati masakan bi Ndari yang sangat di rindukan.

__ADS_1


"Bagaimana kabar cicit nya nenek. Apa dia tidak menyusahkanmu?" tanya Ratna


"Banyak gerak nek, kadang terasa kram yang berlebihan." jawabnya  saat ini mereka sedang menikmati makan malam


"Pasti dia laki laki. Dulu papamu juga begitu, banyak geraknya." sahutnya


"Mama Cantika juga pernah bilang begitu. Dulu waktu mengandung mas Dirga, mama Cantika lebih sedih karena tidak ada yang ikut menjaganya." ucapnya


"Mama bilang begitu?" tanya nya.


Yeza mengangguk.


Raut wajah Dirga berubah mendengar cerita dari istrinya. Setelah kejadian itu Dirga tidak lagi mengunjungi mamanya. Rasa kecewa itu semakin besar saat mengingat usia yang sudah 32 tahun baru tau kebenaran.


Setelah makan malam selesei Yeza segera duduk di depann layar televisi bersama ayahnya


Sedangkan Dirga sedang di luar karena harus mengangkat telepon.


Ibu Ratna sedang di kamarnya sedang beberes pakaian, karena besok harus kembali ke tempat putrinya yang selama ini di ikuti oleh Ratna.


"Pa, di mana mama dan Anggi?" tanya Yeza


"Sayang, papa tidak ingin menutupi apapun dari kamu. Papa akan ceritakan semuanya padamu." kata Daniel


Daniel mulai menceritakan tentang Anggi. Kehidupan Anggi yang sekarang liar, Daniel tak bisa menemukannya. Dan yang lebih membuat Daniel sakit hati. Adalah kenyataan jika Anggi bukanlah putri kandungnya.


Kesedihan nya, dikala tau putri yang selama ini di sayang dan di beri cinta ternyata bukan putri kandungnya.


Tapi bagaimanapun juga Daniel sudah sangat menyayangi Anggi sebagaimana Daniel menyayangi Yeza putri kandungnya.


Jika suatu saat Anggi datang padanya Daniel tetap akan menerima dengan senang hati..


"Papa, kenapa keluarga kita jadi begini?" tanya Yeza. Dari tadi Yeza melihat wajah papanya yang menyembunyikan banyak luka.


Bicaranya begitu datar. Tatapannya terlihat sangat hampa.


"Papa tidak apa apa nak, papa sudah Terima semua yang sudah Tuhan berikan


Papa bahagia jika melihat anak anak papa bahagia." ucapnya kemudian


"Oh iya nak, papa berencana akan menjual rumah ini. Papa ingin pindah dari sini. Papa tidak ingin selalu teringat akan kelakuan Desi. Bagaimana menurutmu nak?" tanya Daniel


"Jika itu yang terbaik, Yeza akan dukung papa. Asal papa bahagia Yeza juga akan bahagia." jawabnya


"Terimakasih sayang." ucapnya kemudian


"Pa, ini sudah sangat malam. Kami akan izin pulang dulu." kata Dirga yang sudah kembali masuk. Karena urusan pembicaraan telpon sudah selesei.


"Mas, boleh nggak Yeza tidur dirumah papa, untuk yang terahir ini mas. Cuma sekali ini sebelum Yeza kehilangan banyak kenangan yang ada di dalam rumah ini." ucap Yeza

__ADS_1


"Emangnya? "


"Papa ingin jual rumah ini. Dan akan pindah." jawabnya


Dirga memandang mertuanya lalu beralih pada istrinya.


"Ok, kalo begitu kita sama sama akan menginap di rumah papa malam ini. Lagi pula besok kan nenek Ratna juga akan kembali kerumah tanta Viana. Sekalian kita besok mengantar sampai bandara." kata Dirga yang menyetujui istrinya


Yeza tersenyum lalu mengangguk menyetujui usulan suaminya


...****...


Malam ini adalah malam yang indah buat Yeza. Bisa berkumpul dengan papanya dan juga suaminya. Di tambah kehadiran neneknya yang sudah lama di rindukan.


Berbeda dengan Desi.


Malam ini dan malam malam selajutnya adalah kegelapan. Tidak ada bahagia semenjak suaminya mengajukan gugatan cerai padanya.


Di tambah lagi yang tidak tau menahu tentang kabar putrinya saat ini.


Jika saja ada Anggi sekedar mengunjungi dirinya. Desi akan meminta Anggi untuk merayu papanya untuk tidak menceraikan mamanya.


Namun rencana tinggal rencana saja. Daniel sudah tau kebenarannya jika Anggi bukanlah putrinya. Sudah pasti Daniel tidak akan mempertimbangkan apapun.


Mungkin beda jika Anggi ternyata adalah putri kandungnya. Setidaknya Anggi akan meminta sedikit belas kasihan pada papanya untuk Desi.


Desi kembali menyeka air matanya. Sejak tadi Desi sudah tidak menampakkan senyum bahagia. Yang ada hanya Airmata dan airmata.


"Seno, bagaimana keadaan pria itu? Apakah dia juga masuk ke penjara? Aku harus bicara pada Seno kalo Anggi adalah anaknya. Setidaknya Seno masih memiliki anak buah untuk mencari keberadaan Anggi." gumam Desi


"Tapi di mana Seno sekarang?" tanyanya


Desi tidak memiliki nomer Seno. Kalaupun memiliki itupun tersimpan dalam ponselnya. Dan ponselnya sudah tidak ada di tangannya


...***...


1 bulan sudah berlalu.


Dirga sudah memberi pelajaran pada Arka. Semua harta yang Arka dan Boni milik sudah di tari paksa untuk mengganti kerugiannya


Paquita menolak mentah mentah lamaran Arka. Karena awal Paquita mendekati Arka hanya untuk harta yang di janjikan Arka.


Kehamilan pita bukanlah kehamilan sungguh sungguh. Namun demi sebuah rencana keluarga pita.


Pabrik orang tua Paquita sedang mengalami di ambang kebangkrutan. Sehingga Paquita harus rela mendekati Arka, untuk bisa membantu Arka merebut harta yang sebentar lagi akan menjadi milik Dirga seutuhnya


Karena tidak mungkin Paquita mendekati kembali Dirga. Mengingat Dirga sangat membencinya.  Pita ingat betul saat dirinya tercyduk tengah ber cinta dengan sahabat Dirga dulu.


Kersan, kersan yang sekarang menjadi musuhnya.

__ADS_1


__ADS_2