
...***...
"Mulai sekarang kau tidur di bawah saja. Aku tidak ingin kalian kenapa napa" kata Dirga setelah sampai rumah kembali.
Setelah di nyatakan keadaan Yeza dan bayinya baik baik saja. Yeza sudah boleh pulang setelah mendapat perawatan yang singkat.
Dirga juga tidak ingin bolak balik kerumah sakit. Dengan catatan harus rajin cek kerumah sakit.
"Ta.. Tapi mas." protesnya
"Aku yang akan menemani. Dan kau istirahatlah. Biar besok di bereskan pelayan di rumah ini. Agar barang barangmu segera di pindahkan kebawah." jawabnya
Dirga segera berdiri untuk mengambil keperluan Yeza. Namun Yeza mencekal lengan Dirga
Yeza menatap Dirga dengan tatapan Sendu.
"Ada apa?"
"Kenapa kau lakukan semuanya ini padaku?" tanyanya
"Apa maksudmu?"
"Kenapa mas menyembunyikan kebenaran kita pada orang tua mas?" tanya nya dengan tatapan keraguan. Yang sangat butuh jawaban.
Dirga segera menghela nafas lalu duduk di samping Yeza
"Suatu saat kau akan tau." jawabnya
"Kenapa? Kenapa kau tidak menjawabnya? Kau juga menganggap aku ini hanya wanita simpananmu saja?" tanya Yeza lagi
"Hentikan omong kosongmu Za. Aku paling tidak suka dengan tuduhan dan dugaan yang sama sekali tidak benar." jawabnya
"Kalo begitu.. Kenpa kau tidak memberi tauku. Dan kenapa kau seolah nggak ingin orang tuamu tau tentang kita.?" tanya Yeza lagi.
"Dan lagi.. Apa yang kau bilang pada wanita muda tadi?"
Dirga mengerut mendengar pertanyaan dari Yeza.
"Siapa yang kau maksud?" tanyanya
"Wanita yang sudah pernah kau sentuh? apa benar kau pria yang seperti itu?"
"Memangnya apa urusanmu tentang masa laluku. Tidak ada sangkut pautnya denganmu. jadi kau tak perlu membahasnya "
"Memang benar masa lalumu adalah urusanmu. Tapi aku sekarang ini istrimu. "
"Dan seorang istri tak perlu ikut mencampuri masa lalu suaminya. Yang kau hadapi sekarang adalah masa depan kita. bukan masa lalu kita. Tak usah di bahas."
Yeza sudah ingin mengucapkan kembali perkataannya. namun Dirga dengan cepat menutup mulut Yeza dengan kecupan.
Cuppp...
Dirga segera mengelus kepala Yeza lembut. Lalu segera membungkuk untuk mencium perut nya.
"Bilang sama bunda ya sayang. Jangan banyak tanya dan penasaran. Karena akan sangat menggangu kesehatan kamu sayang." kata Dirga dengan suara agak keras.
__ADS_1
"Ishh.." desis Yeza.
Dirga mendongak menatap wajah jutek Yeza lalu tersenyum.
Sedangkan Yeza segera membuang pandangan dari suaminya.
"Aku mau ambil selimut untukmu." ucap Dirga lalu segera berdiri.
Tak berapa lama Dirga sudah berada di kamar Yeza lagi.
"Tidurlah.." kata Dirga
Yeza segera membaringkan tubuhnya. Dirga segera menyalakan AC kamar dengan ukuran sedang.
Dirga segera tidur di sebelah Yeza. Yeza miring menghadap ke tempat tubuh Dirga. Karena Dirga berhasil membalikkan.
Begitu juga dengan Dirga. Mereka saling berhadapan.
Dirga tersenyum lembut pada Yeza. sedangkan Yeza masih dalam mode jutek. malas membalas senyuman Dirga. masih kesal rasanya dengan teka teki dan kehidupan yang di jalani.
Menikah dengan pria yang sama sekali tak di kenal. di tambah dengan hubungan rahasia nya dari keluarga besar Dirga.
Dirga segera merengkuh Tubuh Yeza dan mendekatkan pada dada bidangnya.
"Aapaah yang.."
"Kau dari tadi marah padaku. Kau adalah istriku."
"Jika aku istrimu. Tentu aku juga memiliki keluarga dari suamiku... "
"Waktu.. Berapa waktu lagi yang kau butuhkan?" tanya Yeza
"Kau cerewet sekali." ujar Dirga lalu mengecup bibir Yeza yang masih mengerucut.
Mata Yeza membolak. "Kau selalu begitu.." gumam Yeza
"Apa kita akan bertengkar terus sampai pagi?" tanya Dirga
Dirga kembali mencium bibir Yeza. Jantung mereka kembali berdegup sangat cepat. mereka berdua sama sama saling mendengar suara detak jantung.
Dirga mengecup kembali. Bibir mereka saling mencecap, melu*at dan menghi*apnya. Permainan bibir malam ini sangat menggai*ahkan buat Yeza. Namun Yeza ingat pesan dokter Mila, untuk tidak berhubungan dulu.
Dirga menatap wajah Yeza yang kemarahan. Dirga sadar permainan ini sudah membangkitkan gai*ah keduanya.
Dirga segera menyudahi permainan bibirnya saat merasa semakin ingin lebih lebih dari sekedar bibir dan juga menyadari jika pasokan oksigen mereka kian menipis.
"Tidurlah.. Suatu saat aku akan mencerita kan semua nya. Namun sebelumnya. Aku ingin keberadaanmu disini masih jadi rahasia dari keluargaku." kata Dirga.
Yeza hanya diam tak ingin menanggapinya. sambil matanya di pejamkan untuk menahan sesuatu bergejolak dari dalam.
Karena tak ingin melihat Yeza tersiksa dengan gair*hnya. Dirga kembali memainkan bibir nya. Tangannya lincah menjelajahi gundukan dada Yeza Enggh.. Erangan Yeza.
Dirga menghina*ap gundukan dada Yeza. Dirga merasa jika Air susu milik Yeza sudah bisa keluar.
biasanya Dirga tidak menyukai semua jenis susu. tapi tak tau kenapa Dirga begitu menikmatinya.
__ADS_1
Dirga tersenyum lalu melepas tali yang melilit di pinggang Yeza. Lalu membuka lebar pakaian depan yang tanpa pengait apapun. Yeza tidak memakai bra. Jadi dengan cepat gundukan dada itu langsung terlihat begitu kencang.
10 menit Dirga memainkan milik Yeza. Hingga Yeza berhasil mengeluarkan sesuatu yang memang harus di salurkan.
"Kau menikmatinya? " tanya Dirga. Yang di angguki oleh Yeza.
Dirga kembali mengecup bibir Yeza. "Tidurlah.." ucapnya lembut.
Tak berapa lama Yeza pun tertidur, Dirga segera menutup tubuh polos Yeza dengan selimut. Dirga bangun dan menuju ruang kerjanya. Ingin menyelesaikan pekerjaan kantor.
Derttt.... Derrtt..
Ponsel Dirga berdering.
"Bagaimana Jon?" tanya Dirga
"Bos.. Keluarga dari pria itu sudah di ketahui. Dan kami sudah membawa salah satu anak tertuanya." jawab Jono
"Baiklah.. Aku segera kesana." jawabnya. Dirga menatap jam dinding yang sudah menunjukkan pukul 22.30.
Dirga segera meraih jaket kulitnya. Dan segera menuju garasi. Dirga lebih memilih menaiki motor nya. Karena ingin lebih cepat sampai.
Dirga memastikan dulu keadaan Yeza. Jangan sampai Yeza mengikutinya. Dan semakin akan ragu akan dirinya.
20 menit kemudian
Dirga sudah di sambut oleh beberapa pengawalnya.
"Bagaimana?" tanya Dirga
"Gadis itu ada ruang penyekapan utama bos." jawab Doni
Seperti biasa Dirga akan membawa tawanannya keruang utama. Jika perempuan Dirga akan menjadikan dia pelac*rnya. Setelah bosan maka Dirga akan membawa ke rumah bordil miliknya.
Dirga memang memiliki beberapa rumah bordil. Karena keuangan terbesarnya adalah dari bisnis itu.
Dirga melangkah ke ruang utamanya dengan di ikuti oleh beberapa pengawal.
Ceklekk..
Pintu terbuka dari luar.
Gadis itu semakin beringsut. Jantungnya berdegup tidak karuan. Takut..? Jelas gadis itu sangat takut. Apalagi saat mengingat siapa yang membawanya.
"Le...lepaskan sa..saya Tuan.. Saya tidak mau di sini." teriak wanita yang berkisar umur 21 tahun.
Dirga menatap kaki jenjang wanita yang ada di depannya. Akankah Dirga menggaulinya? dan menjadikan wanita itu pelac*rnya?
"Kau sudah hubungi Qwena?" tanya Dirga pada Joni.
"Belum tuan. Saya belum berani mendahului tuan." jawabnya
"Baiklah.. Kita tinggalkan dia dulu." ucap Dirga.
Mereka segera meninggalkan ruang utamanya. dan menuju ruangan bawah tanah.
__ADS_1