
...***...
"Selamat sore Pak. Kami datang kesini karena di beri tugas untuk membawa ibu Desi." ucap Salah satu polisi
"Menangkap saya? Emang saya melakukan kejahatan apa ya pak?" tanya Desi bingung
"Anda terlibat dalam pembunuhan BARBARA GHINARA 14 tahun yang lalu." jawabnya
"P e m b u n u h a n n n??" tanyanya tidak percaya
"Iyaa.."
"Tidak pak. Itu tidak benar, itu fitnah pak, saya tidak pernah membunuh siapapun. Atau terlibat pembunuha" sangkalnya
"Sebaiknya anda jelaskan di kantor polisi. Kami hanya bertugas untuk membawa anda" ucap polisi lagi
"Pa.. Mama tidak nglakuin itu pa. Tolongin mama pa." mohon Desi pada Daniel
Daniel menatap Desi bingung, seolah bingung dan tak tau apa apa.
Daniel yakin ini adalah pekerjaan Dirga.
"Papa juga tidak tau ma. Tapi jika semua itu benar kelakuan mama, jangan harap papa akan memaafkan mama. Papa sangat kecewa pada mama" jawabnya
"Pa, itu tidak benar pa, sama sekali tidak benar, Anggi kamu percaya kan sama mama." tanya Des pada Anggi
"Anggi tidak tau ma. Anggi juga bingung tidak mungkin kan kedua polisi ini salah orang." ucap Anggi
"Mari bu ikut kami ke kantor polisi." ajak Polisi lagi.
"Pa, tolongin mama pa, sewain pengacara buat mama, mama tidak mau di penjara dengan kejahatan yang tidak mama lakukan." ucap Desi sambil berjalan mundur saat dua piliso itu menarik tangan Desi.
Daniel hanya mengangguk tak ingin menjawab iya atau tidak. Daniel menatap kepergian Desi yang memasuki mobil polisi.
Daniel menoleh ke Anggi. "Kau masuk sekarang." titah Daniel
"Pa.. Itu mama tidak mungkin kan pa, mama melakukan kejahatan itu." tanya, Anggi
"Kamu masuk Anggi."
Anggi pun segera melangkah kedalam. Tidak ingin lebih membuat papa nya marah.
"Sekarang kamu jelaskan sama papa. Sejak kapan kamu menjadi wanita liar Anggi?" tanyanya
"Pa, Anggi hanya butuh kebebasan,"
"Kebebasan seperti apa hmm, apa kau tau dampak dari pergaulanmu itu?" tanyanya
Anggi diam tak berani menatap wajah papanya.
"Anggi..!" Daniel kembali memanggil nama Anggi dengan keras.
Anggi menggeleng sebagai jawaban.
"Bodohh.." umpatnya
__ADS_1
"Tuan" panggil bi Ndari
"Iya bi, ada apa?"
"Ini tuan," ucapnya, sambil menyerahkan amplop putih
"Ini apa bi?" tanya Daniel bingung
"Itu surat dari sekolah nya non Anggi." jawabnya
Daniel mengernyitkan keningnya, lalu memandang Anggi yang nampak hawatir akan surat yang ada di tangan papanya.
Daniel tak ingin membuang waktu lebih lama, ahirnya amplop itu segera di buka.
Di dalam lembaran amplop itu bertuliskan.
Jika Anggi sudah di keluarkan oleh sekolah.
Karena tidak pernah lagi mengikuti jam pelajaran. Dan di tambah lagi Anggi sering kepergok oleh guru dan temannya sedang bermain di mall.
"Jadi kau sudah tidak pernah masuk sekolah Anggi.?" tanyanya yang sangat lirih.
"Kenapa kau memperlakukan papa sehina ini, kenapa kau membohongi papa Anggi." ucapnya lagi
Air mata Daniel lolos begitu saja, Daniel menangis menangisi kenakalan Anggi.
Anggi menunduk, rasa menyesalnya tiba tiba muncul. Sebenarnya Anggi sangat menyayangi papa nya.
Namun semenjak kejadian di mana dirinya di gauli oleh Rendi, dan mamanya yang dengan caranya sendiri mendatangi rumah Rendy. Dan menceritakan tentang yang di lakukan putranya.
Mamanya yang selalu memberi kebebasan, membuat Anggi semakin liar
Anggi sengaja mendekati Hasta, ayah dari kekasihnya karena ingin tau keadaan Rendi. Anggi menjalin hubungan dengan Papa nya Rendi sudah lebih dari seminggu.
...💗Saat itu💗...
💥 Hasta sedang menunggu teman wanita di sebuah mall. Semenjak Rendi di London untuk melanjutkan sekolah. Kehidupan Hasta pun semakin tidak bisa ada aturan.
Istrinya sudah meninggal, dan dirinya dirumah sendiri, mungkin kalau wanita hidup sendiri masih bisa, tapi tidak bagi Hasta, pria yang serba berlabih dari segi finansial dan juga tubuh Hasta masih sanggup untuk merawat simpanan.
Anggi mendatangi Hasta yang sedang berdiri dengan bersandar di mobilnya, dengan tangan kiri di masukkan ke saku celananya, dan tangan kanannya sibuk berselancar di layar benda pupihnya.
Sangat terlihat jika Hasta sedang membutuhkan teman.
"Om" panggil Anggi tiba tiba
Merasa ada seorang gadis manggilnya, Hasta segera menoleh dan melihat Anggi.
Hasta menatap penampilan Anggi dari bawah sampai atas. Lalu kembali menatapnya kebawah. Berhenti di rok sep*ha milik Anggi.
"Kau Anggi kan?" tanya nya
"Iya om, saya Anggi." jawabnya
Hasta masih ingat betul dengan keributan di rumahnya. Desi yang menceritakan jika putrinya sudah di gauli oleh Rendi putra dari Hasta.
__ADS_1
Hasta menelan salivanya saat melihat paha Anggi yang begitu mulus.
"Ada apa Anggi?" tanyanya dengan suara yang berat
"Om bisa minta waktunya sebentar." ucapnya
Hasta ingin memancing seberapa pentingnya Anggi meminta waktu pada dirinya.
"Maafin om. Om sedang menunggu teman om." jawabnya
"Om, sebentar saja."
"Maaf Anggi. Om tidak bisa, om sedang menunggu teman om." jawabnya lagi
"Siapa yang om tunggu?"
"Pacar om.." jawabnya
Anggi jelas tau, laki laki seperti Hasta memiliki teman wanita pasti hanya urusan ranjang.
"Saya minta waktu om sebentar. Saya yang akan menemani om malam ini." ucapnya walau dengan wajah menunduk, karena sangat malu jika Papa Rendi itu akan menolaknya.
"Kau masih terlalu kecil Anggi. Kamu tidak tau apa yang om butuhkan." tolak nya
"Anggi tau om. Anggi tau apa yang om butuhkan. Anggi akan menemani dan membuat om tidak kesepia lagi malam ini. dan Anggi rela jika om ingin selalu bersama Anggi." jawab Anggi lagi
Hasta tersenyum menyeringai "Om hanya membutuhkan pelampiasan se*," bisiknya
Seketika wajah Anggi memerah karena merasa sangat tebakannya itu benar. dan dirinya juga tau itu. Anggi mengangguk.
"Kalo begitu ayo masuk kemobil." ajak Hasta
Tanpa pikir panjang Anggi pun segera masuk kemobil Hasta dan duduk di sebalah Hasta
Hasta melirik ke Anggi. "Kecil kecil sudah jadi murahan" batin Hasta
Mereka tiba di sebuah hotel. Dan Hasta segera membuka pintu mobil sebelah untuk Anggi.
Sejak saat itu, hubungan Anggi dengan Hasta semakin akrab. Saling membutuhkan.
Anggi butuh uang dari Hasta. Dan Hasta butuh kepuasan dari Anggi.💥
...💗💗...
"Kau tidak mau cerita sama papa Anggi?" tanya Daniel dengan suara beratnya. Karena berusaha menahan air matanya
"Maafin Anggi pa. Anggi sudah ngecewain papa" lirihnya
"Kamu mau jadi apa Anggi. Kamu yang papa harapkan untuk bisa mengejar cita citamu. Tapii....." ucap Danil yang tak bisa di lanjutkan.
Argghh... teriak Daniel frustasi
Daniel segera melempar amplop itu ke meja. Lalu segera beranjak dari tempat duduknya dan meninggalkan Anggi sendiri.
Di dalam kamar mandi
__ADS_1
Daniel menangis. Menangisi dirinya yang tak bisa memberi contoh yang baik buat putrinya.