
"Tuan ada tamu" ucap Fajar yang sudah di berada di ruang makan.
Dirga dan Yeza saling memandang. Sepagi ini ada tamu? Batin Dirga
Yeza hanya mengedikkan bahu sebagai jawaban tidak tau.
"Siapa pak Fajar tamunya?" tanya Yeza
"Seorang pria paruh baya nona. Katanya tadi namanya pak Dan.. Ohh iyaa pak Danil." jawabnya
"Papa.." panggilnya
Yeza segera berdiri meninggalkan ruang makan dan Dirga.
Dirga segera menangkap Yeza. "Papa" cicitnya sambil menampakkan wajah rindunya yang sangat menggemaskan.
"Jangan lari lari. Kau sedang hamil jika kau jatuh gi mana?" tanya Dirga gemas. Serasa ingin menelan Yeza hidup hidup.
Yeza hanya menanggapi dengan senyum yang teramat manis. Jantung Dirga berdesir hangat saat melihat senyuman Yeza.
"Kenapa dengan jantungku? Bisa bisa aku kena serangan jantung mendadak kalo setiap hari hanya di suguhi senyum manis Yeza." Katanya dalam.
Dirga hanya menggeleng, menyikapi sikap istri kecilnya yang terkadang masih seperti anak anak.
"Papa" panggilnya
"Sayang.." panggil Danil. Lalu segera memeluk Yeza dan Mencium pipinya.
"Kau baik baik saja nak?" tanya nya sambil meneliti seluruh anggota tubuhnya
"Yeza baik baik saja pa. Lihatlah Yeza masih bugar begini." jawabnya
"Tadi papa dapat laporan dari Anggi jika mama mertuamu... " ucap Danil terpotong saat melihat Dirga juga keluar
"Pak Danil." panggilnya.
Dirga segra menyalami mertuanya.
"Papa duduk sini biar Yeza buatin teh hangat." ucapnya.
Danil mengangguk. Seperginya Yeza dari ruang tamu Danil menatap Dirga.
"Nak Dirga.." panggil nya
"Maaf atas kelakuan mama saya pak. Saya dan Yeza baik baik saja." jawabnya
"Kenapa selama ini anda menyembunyikan keberadaan orang tua anda dari kami?" tanya Daniel.
__ADS_1
"Maaf semuanya demi kebaikan putri bapak. Saya tidak ada niat untuk menyembunyikan status Yeza yang istri saya. Saya hanya ingin Yeza tetap aman di belakang saya. Tidak mengurangi rasa tanggung jawab sebagai suaminya." jawabnya
"Saya hanya ingin tau satu hal dari anda. Kenapa anda mau menikahi putri saya yang dalam keadaan tidak gadis dan tidak sempurna pada waktu itu? Itu pertanyaan saya tolong jawab dengan jujur." ucap Daniel penuh permohonan.
"Karena saya mencintai anak bapak? Bapak ingat waktu saya hampir nabrak putri bapak? Dan sejak saat itu saya merasakan ada rasa ingin melindungi putri bapak." Jawab Dirga.
Bahkan Dirga pun tak mau jujur sama Daniel. Yang notabene adalah mertua nya.
Setiap mau jujur Dirga selalu ragu. Benar benar sangat ragu hawatir akan rasa kecewa Yeza pada dirinya.
"Saya tidak yakin jika hanya itu." jawabnya
"Pa.." panggil Yeza yang sudah membawa teh hangat untuk papanya
"Kalo begitu saya tinggal dulu pak, saya harus berangkat ke kantor." pamit Dirga. Lalu segera menyalami mertuanya.
"Hati hati mas." ucap Yeza
Dirga menanggapi dengan senyum nya.
"Kalau mau jalan jalan sama papa. Mas ijinin." ucap Dirga
"Benarkah?" tanyanya. Yang di jawab anggukan oleh Dirga.
"Pak saya titip istri saya." ucap Dirga. Setelah itu Dirga segera menuju mobilnya
"Papa tidak bekerja?" tanya Yeza
"Kalo gitu. Yeza pingin berkunjung ke makam mama." jawabnya
"Siap tuan putri. Papa sudah lama tidak mengunjunginya" ucapnya kemudian
"Kalo begitu Yeza ganti baju dulu pa." pamitnya. Yang di angguki oleh Daniel sang papa.
Yeza segera masuk ke kamarnya untuk berganti pakaian.
Tak berapa lama. Yeza sudah siap dengan tas selempang nya dan dress putih selutut. Rambutnya kali ini Yeza kuncir. Biar tidak menggunya.
"Kau sudah siap?" tanya . Yeza menganggu sambil tersenyum. Danil mengulurkan tanganya agar di bertautan dengan putrinya.
...****...
Dirga sudah memasuki ruangannya.
"Pak bos." sapa Nara
"Hmm" jawabnya
__ADS_1
"Bukannya pak Ramos sudah meninggal?" tanya Nara. Nara tadi sempat melihat ada Ramos yang memasuki ruangannya yang dulu.
"Iya.. Kenapa tanya begitu?" tanya Dirga
"Tadi.. Tadi saya melihat Ramos masuk keluarganya yang dulu. Benar benar mirip Ramos pak." jawabnya
Dirga mengernyitkan keninganya. "Kau ngigau kali Nar." ucap Dirga
"Ihh pak Dirga nggak percayaan sih. Coba deh bapak cek sendiri." ucap Nara
Dirga ogah menanggapi omong kosong Nara. lalu segera meninggalkan Nara yang masih kebingungan.
"Ihh dasar bos nggak pekaan." cebik Nara.
Lalu segera melanjutkan pekerjaan nya.
Di ruangan Dirga.
"Nar keruanganku sebentar." ujarnya lewat telpon.
Tak berselang lama Nara pun masuk keruangan Dirga.
"Beritahukan pada seluruh direksi untuk bekumpul di ruang meeting 15 menit dari sekarang." ucap Dirga.
"Baik Pak." jawabnya
"Jangan lupa papa dan bang Arka. Kabarkan secara langsung." perintahnya pada Nara. Yang di angguki oleh Nara.
Nara segera melangkah keruangan pak Boni.
"Selamat pagi pak."
"Pagi Nar. apa ada yang penting?"
"Pak Dirga meminta anda untuk bertemu di ruang meet.", jawabnya
Boni mengerutkan Keningnya. Biasanya Dirga kalo mengumpulkan begini pasti ada kepentingan.
" baik. " jawabnya.
Nara segera berbalik lalu segera menuju ruangan Arka.
"Sel..." ucapan Nara terhenti saat melihat Arka tengah bercu*bu dengan seorang wanita..
"Siaall.. Pagi pagi begini mataku sudah di nodai oleh pak Arka." batin Nara. Nara segera meninggalkan ruangan Arka. Dan menuju ke ruang para karyawan.
Nara memberi pengumuman sebentar. Bahwa seluruh dewan Direksi sebagai penanggung jawab di bidang masing Masing. di minta untuk berkumpul di ruang meet sekarang juga
__ADS_1
...***...
"Arka.. Kau ini apa apaan ber cinta di kantor. Pintu juga tidak kunci melakukan papa tau nggak." ucap Boni saat membuka pintu ruangan Arka.