
...***...
Yeza sedang menyiapkan makan malam.
Malam ini Yeza memasak yang spesial untuk dirinya dan juga suaminya.
Yeza menatap kembali hidangan yang sudah siap.
Ponsel yang sejak dari tadi di gunakan untuk menghubungi suaminya sudah tergeletak di sebelah nya.
Yeza berkali kali menelpon Dirga. Namun tak kunjung dapat jawaban. Hingga ahirnya Yeza menyerah.
Dan menyiapkan makanan sambil menunggu suaminya pulang.
Yeza kembali melihat jam dinding yang ada di ruang makan.
Jarum pendek sudah menunjukkan di angka 7 pm.
Itu seharusnya Dirga sudah ada dirumah. Dan sedang melakukan makan malam mereka
"Kemana sih mas Dirga, dari tadi nggak ada kabarnya." gumamnya
Perut Yeza begitu sangat sangat lapar. Karena semenjak hidup dengan Dirga, Yeza tiak ingin melewatkan makan malam brsama. Sebagaimana dalam keluarga Yeza.
Walau ibunya tidak begitu baik. namun untuk menyempatkan makan malam brsama dan selalu manis terhadapnya.
Yeza tertidur di meja makan. Mungkin karena sangat lelah dan ngantuk. Apalagi seharian ini Yeza habiskan untuk jalan jalan bersama papanya.
Braakkk....
Yeza terjengkit saat mendengar suara pintu di tutup dengan keras.
"Ma.. Mas Dirga." gumamnya terbata.
Yeza segera menghampiri suaminya yang dalam keadaan penuh luka di lengan. Dan warna memar di wajahny
"Kau belum tidur?" tanyanya
Yeza menggeleng sambil menatap lengan suaminya. dengan menggigit bibir bawahnya merasakan sedikit ngilu atas luka yang ada pada lengan suaminya.
"Apa kau bisa membantuku?"
"Membantu.? Cicitnya
Dirga mengangguk. "Ayo bantu aku untuk mengobati luka ini." ajak Dirga. Yeza pun mengikuti kemana suaminya akan membawa
Dirga membuka ruangan yang tak pernah di masuki oleh Yeza.
Dirga segera menyalakan lampu nya dan mengambil peralatan yang ada di almari
__ADS_1
"Ini?" tanya Yeza bingung.
Suaminya memberikan botol cairan dan jarum suntikan yang beralkohol dan juga ada gunting dan penyapit tak lupa ada jarum yang biasa di gunakan di rumah sakit serta benang yang menyerupai daging
"Tolong ambilkan peluru itu dari lenganku." ucap Dirga
"Peluru? bagaimana cara ku mengambil?" tanya
"Kau suntik kan cairan yang di dalam botol itu. Lalu tarik agar airnya berpindah ke suntikan. Dan setelah.. "
"Aku sudah tau soal itu. Yang aku tidak tau apa aku bisa melakukannya?" tanya Yeza
"Kau pasti bisa Za, buruan.. Apa kau ingin melihat suamimu ini mati karena menahan sakit?" tanya Dirga. Yeza menggeleng lucu dengan wajar pucat karena takut.
Ntah takut karena omongan Dirga atau karena luka itu harus dirinya yang menangani.
Yeza segera melakukan perintah Dirga. Pertama Yeza menyuntikkan suntikan itu ke botol. Yeza tau ini pasti obat bius untuk menahan sakit Dirga.
Lalu setelah itu Yeza menyuntikkan di pinggir yang luka dan masih mengeluarkan banyak darah.
Setelah di tunggu sekitar 5 menit sambil Yeza menyiapkan air, dengan tubuh gemetar Yeza mengambil pisau tajam yang masih terbungkus rapi.
"Terus bagaimana?" tanya Yeza dengan menunjukkan pisau tajamnya.
"Kau sobek saja pinggirnya." ucap Dirga
"Apaa??" tanya nya tidak percaya. Bersuami Dirga memang Yeza harus berani dengan yang namanya darah. Karena suatu saat Dirga pun akan mengalami hal yang sama.
Dirga tersenyum geli melihat wahaha frustasi Yeza, Dirga yakin Yeza tidak pernah melakukan ini. Lihat saja cara menatap luka yang ada di lengan Dirga. Wajahnya pucat seperti mayat hidup.
Yeza segera membuat luka kembali di bagian samping luka yang menghitam
Aarrgghhh.. Teriak Dirga
Yeza segera membuang benda tajam di tangannya dengan tubuh gemetar.
Hahaaa.. Dirga malah menertawakan reaksi Yeza yang sangat panik.
"Kau serius amat sih Za. aku tidak apa apa. Ini tidak sakit aku hanya ingin menggodamu saja." ucap Dirga sambil menahan tawanya
Yeza mendengkus kesal atas suaminya. Lalu Yeza kembali mengambil benda tajamnya.
"Awas sampai berteriak lagi. Aku nggak mau merawatmu." ucap Yeza
"Kau semakin menggemaskan dengan wajah yang memucat gini." balasnya sambil menarik pinggang Yeza dengan tangan kanannya.
"Diam mas. Aku nggak bisa fokus ini." ucap Yeza
"Aku diam dari tadi." jawabnya
__ADS_1
"Tapi tangan mas ini, sangat usil bikin aku tidak nyaman."
Setelah pelurunya di ambil dan meletakkan di tempat yang sudah Yeza siapkan.
Yeza segera mengambil jarum dan benang yang menyerupai daging.
"Kenapa sih mas bisa kena peluru gini?" tanya Yeza
"Biasa laki laki kalo main kan kayak gini." jawabnya
"Tidak semua. Pasti hanya mas Dirga yang berani bermain dengan nyawa." sahut Yeza
"Tidak apa apa kan aku bermain dengan nyawaku. Asal tidak dengan nyawa istriku. Kau adalah sumber kekuatan ku, Za." ucap Dirga
"Sudah selesai." ucap Yeza. Setelah luka itu di tutup dengan perban. Dirga segera memeluk Yeza. Dan memberi hadiah ciuman lembut untuknya.
"Terimakasih babe." ucapnya
"Mas buruan mandi. Dari tadi aku sudah kelaparan menunggu mas pulang."
"Siapkan aku pakaian ya Za."
Yeza segera keluar dari ruangannya tadi. Dan pergi memasuki kamarnya. Yeza segera menyiapkan pakaian tidur buat suaminya.
Dan menyiapkan air hangat untuk mandi.
Setelah siap Yeza segera kedapur untuk membuatkan teh hangat.
Tak berapa lama Dirga sudah kembali segar setelah mandi.
Dirga segera menyapa sang istri, "udah malam banget kamu belum makan?" tanyanya
"Aku tidak ingin melewatkan makan malam kita. Biarpun aku menunggu sampai pagi kalo suamiku belum pulang dengan keadaan baik baik saja aku belum bisa makan dengan enak." jawabnya
Mendengan pernyataan dari istrinya, hati Dirga terenyuh. Tak biasanya Dirga memiliki hati selembut ini. Namun semenjak hidup bersama wanita asing dan terkesan masih sangat kecil. Dirga jadi sering baper dengan setiap ungkapan ungkapan dari Yeza.
Dirga menatap Yeza sendu. Wajah Yeza yang semakin hari semakin terlihat lebih dewasa. Entah karena faktor kehamilan atau karena dari jenis kelamin sang bayi yang belum di ketahui.
Dirga pernah mendengar saat Tyo bercerita, istrinya saat di kehamilan kedua terlihat sangat lebih dewasa karena tidak suka make-up.
Kalo bau wewangian akan muntah. Dan setelah di cek kedokter terjawab sudah. Jika bayi yang ada di perutnya berjenis kelamin laki laki.
Dirga tersenyum saat membayangkan akan kehadiran malaikat yang akan mengisi hari harinya kelak.
"Mas.." panggil Yeza lagi
Dirga terke siap saat mendengar panggilan Yeza yang sedikit keras.
"Dari tadi melamun. Ku panggil nggak nyahut." protes Yeza dengan wajah cemberut nya
__ADS_1
"Besok kita kedokter Za. Aku ingin tau anakku nanti laki laki atau perempuan." ucap Dirga kemudian.