DUA GARIS MERAH GADIS BISU ( Za-Ga )

DUA GARIS MERAH GADIS BISU ( Za-Ga )
Prasangka Buruk


__ADS_3

"Candra bisa kau hubungi Doni untuk mengikuti Tyo kemanapun dia pergi?" tanya Dirga


"Baik bos. Nanti saya hubungi Doni. " jawabnya.


Dirga mencium sesuatu yang tidak beres yang sudah di lakukan anak buahnya.


Prasetyo atau yang sering di panggil Tyo itu. Berusaha merampas berkas yang mamanya bawa. Tidak mungkin Tyo asal rampas. Kebiasaan anak buah Dirga memang sering di pake jasanya untuk sesuatu kejahatan.


"Siapapun orang yang sudah berusaha mengusik keluargaku. Jangan harap akan merasa aman." gumam Dirga


30 menit kemudian


Dirga sudah sampai di kantor. Dirga melewati ruangan Arka. Samar terdengar suara kemarahan Arka.


Dirga mengerutkan keningnya. Karena tidak biasanya Arka itu akan marah marah di kantor. Kecuali memang sesuatu yang membuat dia kehabisan kesabaran.


"Kau memang bodoh. Kau sudah gagal dalam pekerjaanmu. Jangan harap aku akan membayarnya." terdengar suara Arka yang keras 


Dirga segera berlalu meninggalkan ruangan  abangnya. Dan menuju ruang pribadinya.


"Selamat pagi pak bos." sapa Nara


"Hemm.. Ada jadwal apa hari ini?" tanyanya


"Pak Boni ingin bertemu dengan  dengan pak bos." jawabnya


'Baiklah.." jawabnya


"Segera keruangan ku Nar." kata Dirga pada Nara


"Siap bos."


Dirga segera membuka laptopnya dan menyalakannya.


Mengecek email yang baru saja masuk.


Bagus nihh.. Tawaran kerja sama di pabrik otomotif fersal. Otomotif Fersal adalah pabrik mobil terbesar di luar negeri. Gumam Dirga


Dirga segera membalas email yang masuk. Setelah ada keterangan dan negosiasi. Dirga menyetujui untuk pengajuan kerjasamanya.


Dirga segera menelpon Nara. Untuk ke ruangannya 


"Keruangan saya sekarang."


Dirga segera menutup kembali telponnya


Tok tok..


"Masuk." perintah Dirga


"Pak bos memanggil saya?"


"Iya.. Buatkan proposal kerjasama dengan otomotif Fersal." ucapnya

__ADS_1


Tidak percaya dengan ucapan Dirga. Nara masih bengong.


"Kamu dengar nggak sih Nar?" tanya nya dengan emosi


"Iya pak saya dengar. Otomotif Fersal?"


"Iya.. Cepat buatkan harus jadi sebelum jam makan siang." ucapnya


"Baik pak. Saya akan segera kerjakan" jawabnya


"Berkas yang dari pak Arka apa sudah beres? " tanyanya


"Sama pak Arka belum di taruh di meja saya pak." jawabnya


Dirga menghela nafas. Lalu segera berdiri ingin keruangan Arka.


"Ya sudah biar saya yang mengambil."


Nara keluar dari ruangan Dirga.


Dirga juga segera keluar menuju ruangan Arka.


"Kau cuma membuat proposal lama banget si Ar?" tanya Pak Boni


"Pa.. Ini aku yang pusing. Tapi Dirga yang menerima penghargaan." jawab Arka.


"Kau ini bodoh apa gimana mana sih? Sudah jelas Dirga kerja untuk kita. Biarkan saja. Dia mendapat nama yang tinggi di depan prusahaan lain. Toh kita yang akan mewarisi semua." ujar Boni lagi


"Maksud papa.?" tanya Arka


Tok tok tok.


"Masuk" ucap Arka. Saat mendegar pintu di ketuk


"Dir.. Dirga." gumam Boni. Begitu juga dengan Arka


"Bang aku kesini mau ambil proposal yang abang buat. Sudah jadi belum?" tanyanya


"Oh.. Ehh. Iya sudah jadi." jawabnya


Dirga hanya menatap aneh kedua pria ini.


"Papa.. Papa tadi memanggil Dirga  ada apa pa?" tanya Dirga


"Oh. Eh.. Iya tadi papa mau tanya. Persiapan barang yang ingin di kirim ke Grandmaster otomotif udah sampai mana?" tanya nya


"Ohh itu. Biar nanti Dirga tanyakan pada Nara. Yang mengurus itu kan manager pemasaran." jawab Dirga


"Ohh ok.. Baiklah." jawabnya


"Ya sudah Dirga tinggal dulu." pamitnya. Lalu segera keluar.


Dirga segera meninggalkan ruangan Arka.

__ADS_1


Rasanya kurang nyaman saat mendengar grasak grusuk abangnya dan papanya.


Tapi Dirga tidak mau berprasangka buruk. Mereka keluarganya tidak mungkin mereka akan mencelakai atau merugikan perusahaannya.


"Nar tanyakan bagian packing untuk pengiriman barang di Grandmaster otomotif udah sampai mana." ucapnya


"Baik Pak."


"Proposalnya sudah jadi?" tanya Dirga


"Ihh belum pak. Baru saja 10 menit pak Dirga memerintahkan." jawabnya


Namun Dirga tidak mengubrisnya. Dirga segera meningalkan Nara.


...***...


"Bagaimana keadaan mu Yeza?" tanya Cantika.


Saat ini mereka tengah duduk di taman belakang. Sambil menikmati camilan yang mereka buat tadi.


"Baik tante." jawabnya


"Jangan panggil tante. Kamu kan istrinya Dirga jadi panggilnya mama juga dong." ujar Cantika


Yeza mengangguk. Walau jantungnya berdegup sangat kencang dan rasa grogi itu kian membuncah. Sebisa mungkin Yeza menunjukkan keadaan nyaman senyaman mungkin berada di depan mertuanya.


"Sudah berapa bulan cucu mama itu ada di rahimmu? " tanya Cantika


"Sudah 8 minggu mam. Dan kemarin juga habis cek ke dokter." jawabnya


Cantika tersenyum.


"Dulu waktu mama hamil Dirga. Keadaan mama sangat memprihatinkan." katanya.  Sambil memandang sayu pada hamparan bunga bunga yang sangat terawat.


Yeza, mengerut mendengar ucapan mertuanya.


"Maksud mama apa?"


"Dulu ketika Dirga usia 2 bulan di rahim mama. Papa Dirga sakit sakitan. Jadi mama harus extra kuat dalam menghadapi keadaan mama yang hamil. Dan juga papanya Dirga." jawabnya


Yeza hanya mendengar sambil kepalanya mengangguk.


"Ohh iya.. Orang tuamu?" tanya Cantika


"Papa masih ada. Yeza di besarkan oleh papa dan mama tiri." jawabnya


"Mama tiri?"


"Mama kandung Yeza sudah meninggal waktu Yeza usia 4 tahun." jawabnya. Dengan nada yang mulai terbawa kesedihan lagi.


Cantika mulai melihat kesedihan di hati Yeza.


"Jangan sedih ada mama dan Dirga. Mama lihat Dirga begitu sangat menyayangimu." ucap Cantika.

__ADS_1


Yeza segera mengangguk. "sini peluk mama." ucap Cantika lagi


"mama ada cerita. tapi jangan cerita sama Dirga. itu rahasia kita."


__ADS_2