
Cantika memandang perut Yeza yang sudah mulai terlihat.
Lalu menatap wajahnya intens. 'Sepertinya aku pernah melihatnya. namun di mana yaa?' batinnya
"Tunggu.. sepertinya tante pernah bertemu kamu? apa kau juga merasakan yang sama?" tanya Cantika.
Yeza menggeleng karena belum sepenuhnya ingat.
'Gadis, ini memang cantik. Persis seperti. '
"Yaa tante ingat. Kau adalah wanita yang menolong tante waktu itu kan?" tanya Cantika yang menebak sambil menunjukkan wajah cerianya
Yeza diam sambil mengingat ingat di mana moment itu.
"Kau lupa.. kau yang nolongin tante di bus waktu itu."
"Terimakasih ya nak. Berkat pertolonganmu waktu itu. Tante tidak jadi kehilangan berkas penting itu." ucap Cantika lagi.
"Tante selalu ingin di pertemukan kembali padamu. Hanya ingin mengajak minum kopi atau makan. Yaa Tuhan sekarang malah di pertemukan beneran. Padahal dulu tante ingin putra tante untuk mencari tau keberadaanmu." ucapnya lagi
Dirga mengerutkan keningnya. Melihat wajah mama nya yang begitu terlihat bahagia. Seperti seorang ibu yang bertemu dengan putrinya.
"Ohh iya.. tante saya ingat." jawabnya sambil mengangguk
Cantika segera memeluk Yeza. "Terimakasih sekali lagi tante ucapin pada mu nak." ucap Cantika lembut sambil mengelus pipi Yeza.
"Ma.. Ini ada apa? " tanya Dirga masih belum paham
"Dulu kan mama pernah bilang jika mama hampir kerampokan. Berkas itu adalah berkas kepemilikan perusahaan yang akan di alihkan pada keturunan Dirgantara yang sah. Dan kamu adalah sebagai penerus sah perusahaan milik kakekmu." ucap Cantika.
Dirga diam sambil memikirkan sesuatu. Apa ini ada yang mencoba ingin merampas harta warisan papa.? Batinnya
"Sudah.. Sudah.. Kau berangkat kerja saja. Mama mau temenin emmm dia istrimu?" tanya nya. yang di angguki oleh Dirga
"Ma.. Dirga belum sarapan loh." protes Dirga.
"Ohh.. Ya sudah ayuk sarapan bareng aja." tawar Cantika
'Yang tamu siapa. Yang mempersilahkan seharusnya juga siapa?' dengkus Dirga pada mamanya
"Hehe.. Kan nggak papa mama bilang gitu." sahut Cantika
"Sebentar mas. Saya ambilkan piring buat tante." ujar Yeza
"Iya sayang. Jangan cape cape yaa." balas Dirga lembut.
"Kau punya hutang penjelasan pada mama Ga." ujar Cantika dengan wajah yang kesal.
"Ma.. kita sarapan dulu."
Yeza datang dengan membawa piring dan air putih untuk Cantika.
"Ini yang masak siapa?" tanya Cantika
__ADS_1
"Saya tante." jawabnya
"Wahh hebat kamu. Masih muda udah pinter masak masakan se istimewa ini " ujar Cantika
Mereka mulai makan di meja makan. Baru kali ini Yeza makan dalam keadaan tegang.
Jantungnya berdegup sangat kencang. Menunggu reaksi wanita paruh baya yang ada di depannya.
Apakah dia akan menerima nya sebagai menantu?. Atau akan menggantikan posisinya menjadi mantan menantu?
"Di mana Za." ucap Dirga.
Saat Yeza akan memasukkan makanan kedalam mulut. Tiba tiba perutnya terasa sangat mual.
Yeza segera pergi kekamar mandi. "Dia hamil?" Tanya Cantika ingin meyakinkan saja.
"Iya" jawab Dirga. Lalu segera berdiri dan menghampiri Yeza.
"Bagaimana? Apa kau lemas? " tanya nya
Yeza menggeleng. "Aku lupa minum obatnya tadi. Saking fokusnya urus kamu." ucap Yeza sambil nyengir
"Kamu kalo di bilangin selalu membangkang." sahut Dirga.
"Tidak usah naik tangga lagi. Nanti biar tangganya aku tutup saja. " ujar Dirga
"Jangan.. Nanti rumah ini jadi tak seindah sekarang. " sahutnya
"Habisnya kau tak pernah mendengarkan ku." balas Dirga
"Kau duduklah di kursi. Biar aku ambilkan obat anti mual." ucap Dirga sambil mamapah Yeza.
Cantika tersenyum melihat adegan pasangan muda yang ada di depannya. Dirga bukanlah tipe pria yang peduli pada wanita. Mungkin karena Yeza adalah wanita yang spesial buat Dirga. Maka Dirga akan memperlakukan dengan penuh perhatian..
Selayaknya memanjakan suami pada istrinya.
Cantika paham betul soal karakter putranya.
"Kau kenapa nak?" tanya Cantika
"Biasa mam kalo pagi gini akan mengalami morning sickness." Jawab Dirga. Lalu segera meninggalkan Yeza karena harus mengambil obatnya.
Dirga menaiki anak tangga menuju kamar lama yang di tinggali Yeza.
"Banyakin makan sayur ya. Biar kulit bayinya segar." ucap Cantika.
Yeza mengangguk. Karena mang benar yang di bilang mertuanya.
Tak berapa lama Dirga turun dan sudah membawa obat yang di butuhkan.
"Ini minumlah " ucapnya sambil membuka satu obat. Dan menangsurkan pada Yeza
Melihat Dirga begitu sangat menyayangi Yeza. Hati Cantika terenyuh. Teringat moment kehamilan Dirga dulu. Yang tidak pernah mendapat perhatian dari suaminya.
__ADS_1
"Kalo setiap hari kamu kayak gini. Kamu bisa siang ke kantornya Ga. Sudah kamu sarapan aja. Biar mama yang urus istrimu." ucap Cantika
Dirga menilisik wajah mamanya. rasanya tidak yakin akan meninggalkan istrinya di rumah hanya berdua sama mamanya. Mereka belum saling kenal. Dirga takut mama nya akan tanya macam macam pada Yeza tentang kehamilannya.
"Tapi Dirga tidak yakin mama bisa menjadi mertua yang baik buat Yeza." jawab Dirga yang to the point.
"Kau meragukan mama?" tanya nya
Dirga hanya, mengedikkan bahu.
"Mas.. kekantor saja. Tidak apa apa kok Yeza sama mama nya mas Dirga." ujar Yeza
"Tidak.. Aku kan pernah bilang jika orang tuaku seorang kanibal." ujar Dirga sambil melirik mamanya
"Dirgaaa... Kau ini anak mama bukan sih. Gitu banget fitnah mama." kesal Cantika.
"Ya kan mama yang tau. Dirga anak mama bukan?" tanya Dirga balik
"Mas.. Jangan gitu dong sama mama."
"Ya sudah Dirga ke kantor dulu ma." pamitnya
"Mamaku yang baik. Tolong jagain Yeza buat anak mama ya." ucap Dirga
Namun Cantika malah melengos sambil membuang muka dari Dirga.
"Kalo mama marah. Itu artinya. mama ngak tulus sama ucapan mama." tekan Dirga. Dirga memang selalu menggoda mamanya.
"Iyaa.. Udah sana berangkat. Ntar papamu nyariin lagi."
Dirga segera mengecup pipi mamanya lalu beralih pada istrinya.
"Mama tidak jahat kok. Itu tadi karena mas pingin godain mama yang udah main masuk rumah kita." ujar Dirga. Saat berada di teras rumahnya sambil menggandeng tangan Yeza.
Yeza tersenyum. Aku percaya tante Cantika baik.
"Kok tante sih. Beliau mamaku itu artinya juga mamamu dong Za." kata Dirga.
"Jadi sekarang udah boleh nih Yeza panggil mama juga?" tanyanya.
"Maksudnya apa Za?"
"Nggak di sembunyiin lagi?"
Dirga segera menghentikan langkahnya. Lalu berbalik menghadap sang istri. "Mungkin memang ini waktunya untuk kamu mengenal mamaku. Tapi untuk papa dan abangku kita lihat nanti ya." ujar Dirga.
"Ya sudah mas Dirga harus berangkat kerja dulu." pamit Dirga.
Yeza segera mencium punggung tangan Dirga. Dirga mengecup kening Yeza dengan lembut.
Setelah di perlakukan Yeza beberapa hari yang lalu dengan mencium punggung tangannya.
Dirga segera Membrowsing untuk melakukan balasan.
__ADS_1
...***...
Di dalam mobil Dirga masih penasaran siapa yang menyuruh Tyo untuk merampas berkas milik mamanya.