
Klotak klotak klotak.. Suara sepatu Dirga yang terdengar menggema. Di sebuah lorong ruang bawah tanah.
Dirga segera menyalakan lampunya. setelah sampai di ruangan pengap dan bau itu. Lalu menatap pria yang kemarin di tangkap oleh anak buahnya.
"Siapa namanya? " tanya Dirga pada Jono
"Bondan tuan." jawabnya
"Nyalakan layar yang terhubung dengan kamar utama." kata Dirga yang memerintahkan Jono
"Apa kabarmu Bondan? Kau masih betah di sini?" tanya Dirga. dengan memperlihatkan senyuman membunuh.
"Apa yang ingin kalian tau. Saya tidak mengenal pria itu." ucapnya.
"Baiklah.." jawab Dirga santai
"Lihat itu baik baik. Dan jangan bicara. Karena saat kau bicara maka pakaian anakmu akan terlepas." ancam Dirga
"Mariana.. apa yang ingin kalian lakukan pada putriku?" tanya Bondan
"Diamlah jangan bicara. Lihat tuh ada sobekan sedikit di lengan. makanya jangan buka mulutnu." ujar Dirga lagi
Semakin Bondan membuka mulut maka akan tergores kulit Mariana. Dengan bersamaan pakaian yang robek.
Bondan tak bisa menahan emosinya. Lalu segera berdiri dan ingin menghajar Dirga.
Dengan cepat Jono melumpuhkan pria itu dengan tendangan di kakinya.
"Katakan apa yang kalian inginkan. Tolong lepaskan putri saya."
"Kau lupa dengan tujuanku waktu itu hmmm?" tanya Dirga geram.
Bondan bukan tidak tau siapa orang yang sudah membayarnya untuk mencuri barang berharga milik Dirga. Namun Bondan sangat tidak ingin keluarganya terluka karena ancaman orang tersebut.
"Katakan.. Siapa yang sudah menyuruhmu untuk mengusik pekerjaanku?" tanya Dirga
Bondan tetap membisu. Masalahnya Bondan sudah di bayar oleh orang tersebut.
"Baiklah.. Kalo kau masih bungkam."
"Ingat Bondan.. tubuh putri mu itu belum bisa mengganti kerugian ku. Jadi aku masih ingin kau juga membayar atas kerugianku" Dirga berkata lagi. Seolah mengingatkan akan kerugian besar yang di alami Dirga.
"Jangan jual tubuh putriku tuan. Saya bersedia mengatakan orangnya." jawabnya
"Katakan cepat.. Tapi itu juga belum mengganti kerugianku."
"Tapi saya mohon. Lepaskan putri saya."
"Katakann.!"
"Dia Dia adalah Kersan", jawabnya
Dirga mengeratkan genggamsnnya pada tangannya, giginya di gigit dengan kuat hingga terdengar gemurutuk. Kemarahan kian memuncak. Mengingat pria itu yang sudah bercinta dengan kekasih nya 8 th yang lalu.
Dirga segera meninju tubuh Bondan hingga roboh.
Seperti yang sering terjadi. Dirga selalu mengambil organ dalam musuhnya. Siapapun yang sudah mengusik pekerjaannya. Dia adalah musuh bagi Dirga.
...****,...
__ADS_1
Yeza terbangun karena ingin buang air kecil. Tangannya meraba ranjang namun tidak menemukan yang di cari.
Yeza segera, memungut pakaian tidurnya yang sudah di lempar oleh Dirga. Yeza segera memakai dan segera pergi ke kamar mandi.
Setelah selesei Yeza segera keluar kamar. Mencari keberadaan Dirga.
Yeza melangkah ke ruang kerja. Namun tidak menemukannya. Dan melihat laptopnya juga sudah mati.
Lalu keluar dan menatap ke lantai dua. Siapa tau Dirga ada di kamarnya.
Yeza menaiki anak tangga dengan sangat pelan. Takut Dirga terbangun dan akan memarahinya lagi.
Yeza membuka pintu kamar Dirga. Segera, menyalakan lampunya. Namun Yeza tidak melihat adanya Dirga disini.
Yeza melangkah masuk ke ruang ganti Dirga. Namun tetap saja tidak menemukannya.
Yeza mengambil pakaian kotor milik Dirga. Lalu menciumnya, baru tidak menemukan keberadaanya, Yeza sudah merasakan sangat rindu.
Yeza segera berbaring di tempat tidur Dirga dengan memeluk pakaian yang tadi di ambilnya.
...****...
Kali ini Dirga yang menyobek kulit Bondan. Dengan Tangannya sendiri. Bondan hanya di beri obat bius saja.
Memang terkesan kejam dengan apa yang di lakukan Dirga. Mengambil organ manusia masih dalam keadaan hidup.
Hampir dua jam Dirga bermain dengan benda tajamnya.
Setelah selesei Dirga segera menjahit dengan asal bekas sayatannya
Setelah itu Dirga memerintahkan anak buahnya untuk membuang jasad Bondan.
"Biarkan dia bermalam disini. Besok baru kita bawa ke Qwen." ujar Dirga
"Simpan ini.. Pastikan keadaan aman." ucap Dirga yang selalu waspada.
Dirga segera keluar dari markas lalu segera mengambil motornya.
"Candra." panggil Dirga. Yang dari tadi diam
"Siap bos." jawabnya
"Kau cari tau keberadaan Kersan." Kata Dirga dengan nada memerintah.
"Siap bos. Saya akan kerjakan."
Dirga segera menyalakan motornya. Dan segera pergi meninggalkan markasnya.
Sesekali Dirga melihat pergelangan tangannya. Waktu sudah menunjukan pukul 1 dinihari. Itu artinya jam istirahat Dirga berkurang.
...***...
Sampai di rumah.
Dirga segera menaruh kembali motornya di garasi.
Dirga melangkah memasuki rumahnya. Dan melangkah dengan suara sepatu yang menggema.
Dirga segera membuka kamar istrinya. Untuk melihat jika istrinya masih tidur.
__ADS_1
"Yeza.." gumamnya.
Dirga segera masuk kekamar mandi. Siapa tau Yeza ada di sana. namun Dirga tak melihatnya
YEZAAA... teriaknya lagi. dengan nafas memburu.
Dirga segera kedapur mungkin Yeza berada disana. Lagi lagi Dirga kecewa karena tak menemukannya.
Dirga menatap kamar Yeza yang ada di atas. Lalu segera berlari melewati tangga.
Langkah nya berhenti ketika pintu kamar Dirga terbuka. Dan Dirga bisa melihat dari cahaya rembulan yang memasuki ruangan itu.
Dirga bernafas lega. Yeza tertidur di kamarnya. Dan lebih membuat dirinya bahagia. Yeza tidur dengan memeluk pakaian yang tadi siang Dirga pakai.
Dirga segera menghampiri nya. Lalu membelai lembut wajah Yeza, setelah itu Dirga segera mencuci tangan dan berganti pakaian.
Dirga ikut membaringkan tubuhnya di samping Yeza.
...****...
Mentari pagi sudah menyapa.
Yeza sudah bangun dari tidurnya. Dan saat ini sedang menyiapkan sarapan pagi.
Yeza sudah menyiapkan baju kantor suaminya. Sebelum suaminya bangun. Karena kalo tidak, Yeza bisa di omelin karena sudah membangkang perintahnya untuk tidak naik ke lantai atas lagi.
Tadi malam Dirga mengangkat tubuh Yeza kebawah.
Karena hawatir saat terbangun nanti Yeza dengan keadaan yang sepenuhnya belum sadar. dan akan mengakibatkan kecelakaan saat menuruni tangga.
bukan menginginkan hal itu.
Hanya kewaspadaan seorang suami dan ayah yang ingin menjaga keselamatan keluarganya.
"Kau sudah selesei?" tanya Yeza saat mendapati suaminya sudah rapi.
"Kau yang menyiapkan?" tanyanya
"Emang ada istri lain selain aku?" tanyanya
"Kau itu sangat ngeyel. Nggak usah lagi naik keatas. Aku bisa lakukan sendiri." ucapnya sebal
"Kalo aku di manjakan terus. Yang ada aku malah nggak bisa sehat karena di batasi pergerakannya." bantah nya sambil membenarkan dasi di leher Dirga.
Dirga meraih pinggang Yeza lalu segera mengeratkan pada tubuhnya.
"Nanti aku carikan terapi husus ibu hamil." ujar Dirga sambil mencium bibir nya.
"Untuk apa?"
"Agar kau bisa bergerak dengan baik. Naik turun tangga itu tidak baik untuk wanita hamil." jawabnya
"Benar kan dugaan mama." ucap Cantika yang tiba tiba sudah ada didalam.Cantila segera masuk saat mendengar keributan di ruang makan.
"Ma.. ma" gumam Dirga. Lalu segera menengok asal suara. walau begitu Dirga tetap tenang menghadapi mamanya.
"Kau sudah membohongi mama Ga. mama sudah bilang kan sama kamu, tolong jangan ada yang di sembunyikan dari mama. Tapi apa? Kamu lagi lagi membohongi mama."
Dirga hanya diam. Tak mendebat ucapan mamanya. Karena memang dirinya sudah salah.
__ADS_1
Yeza menuduk dan belum berani menampakkan wajahnya.