
...****...
Setelah mendengar langsung tentang kebenarannya, Dirga segera pergi meninggalkan rumah mamanya
"Nak, maafin mama" ucapnya lirih dengan air mata yang mulai membasahi pipi nya.
Menyesal, jelas sudah menyesal, tak kan mengira jika rahasia ini terbongkar, Cantika sadar dirinya salah sudah menyembunyikan rahasia besar pada putra kandungnya.
Semua itu demi desakan Boni, Cantika tidak tau apa motif Boni yang sesungguhnya. Kenapa dirinya selalu meminta untuk mengenalkan dirinya adalah ayah nya.
Boni selalu bilang, jika Dirga masih terlalu kecil untuk mengetahui kebenaran tentang ayahnya yang sudah meninggal.
Dan disaat Dirga sudah besar, Boni selalu menakuti Cantika, jika Dirga tau pasti akan sangat marah dan membencinya.
Cantika tidak mau Dirga membencinya. Cantika sangat menyayangi putra semata wayangnya.
Hingga Cantika betdniat akan merahasiakan ini selama lamanya.
Namun tidak tau, siapa yang sudah memberitaukan kebenaran ini.
***
Dirga melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi. Tak tau apa yang harus dia perbuat.
Yang dirasakan saat ini hanyalah. Kecewa, marah, benci, dan ingin melampiaskan semuanya pada seseorang.
Dirga menghentikan mobilnya di sebuah danau.
Ingin sekali Dirga berteriak dan pada Tuhannya.
Kenapa hidupnya segelap ini. Mengingat semua kejadian dari kejadian sewaktu dirinya kecil. Hingga membuat Dirga harus melangkah tanpa arah.
Menjadi pria pendendam dan keji. Tidak pernah ada dalam benaknya jika Dirga aka berperilaku demikian.
ARGGHHHHH....
Teriaknya. Melempar segala sesuatu yang ada di depannya.
Melempar kerikil pada Tengah danau. Menatap banar hamparan air yang berwarna hijau
Dirga tersenyum saat bayangan Yeza melintas di kepalanya.
"Sekarang aku sudah memiliki istri. Segala keluh kesah ku, bisa aku tuangkan padanya. Bodoh, kenapa aku melupakannya. Dia istri yang bisa membuat ku nyaman saat berada di dekatnya" batinnya
__ADS_1
Bayangan senyum Yeza berhasil meredamkan emosinya. Teringat kembali sifat manjanya, terngiang di telinganya saat Yeza meminta tangan untuk memebelai perutnya
"Maafin papa nak. Tangan papa ini banyak berlumur dosa. Akankah papa sanggup meninggalkan keburukan dan kegelapan ini. Kenapa begitu berat untuk memaafkan setiap orang yang membuat papa kecewa, mampukan papa merubah semuanya.?" ucapnya lirih
"Tidak, aku tidak boleh lemah, aku harus membalas semua kebohongan yang Boni ciptakan. Aku tidak boleh menyerah, aku yakin kecelakaan itu ada sangkut pautnya sama tujuan Boni,"
"Aku akan membuat Boni membayar semua luka yang aku alami." tekadnya.
Hari sudah mulai gelap. Dirga masih setia pada kegelapan dan kesunyian di pinggir Danau.
Dirga hanya memandangi kegelapan yang hanya di terangi oleh cahaya kunang kunang.
Bibirnya tersenyum tipis. Dirga segera berdiri dan menuju mobilnya. Ingin segera meninggalkan danau ini. Dan menemui istri yang sangat di cintai.
...***...
Di rumah Daniel.
Daniel baru saja menginjakkan kakinya memasuki ruang tamu. Lalu segera duduk di sofa, bi Ndari datang dengan membawa kopi untuk tuannya.
"Tuan" panggilnya, lalu menaruh kopi di atas meja.
"Terimakasih bik." jawabnya
"Nona Anggi sudah pergi tuan. Katanya tadi mau menjenguk nyonya Desi." jawabnya
Daniel mengerutkan keningnya. "Jam berapa?" tahtanya
"Sekitar jam 2 siang tuan. Katanya sihh sebentar tuan." jawabnya
"Terimakasih bi." ucapnya kemudian
Daniel segera mengambil ponselnya. Dan segera menelpon Anggi. Namun ternyata tidak tersambung.
Daniel mulai marah saat nomer Anggi tidak bisa di hubungi.
"Ini sudah jam 19.00, tapi Anggi belum pulang. Ternyata Anggi sudah tak bisa di nasehati dengan baik." gumamnya.
Sebagai seorang ayah, Daniel tak bisa abai akan anaknya. Apalagi dia seorang perempuan. Dan sudah menikmati hingar bingar nya malam dengan segala hiburan yang sangat memanjakan pemuda pemudi saat ini.
Daniel segera pergi ke kamar dan ingin segera membersihkan tubuhnya. Setelah itu Daniel akan mencari Anggi. Walau harus masuk ke tempat yang tak pernah di masuki.
Setelah selesei dengan ritual bebersih tubuhnya, Daniel segera mengambil jaket dan kunci mobilnya..
__ADS_1
Daniel sudah bertekad akan mengurung Anggi di rumah jika ketemu. Tak ingin Daniel menghadapi masalah lagi dengan sesuatu tabgvtidak di inginkan sama sekali.
Daniel sedah mengabesen setiap taman kota. Mencari keberadaan Anggi. Ginga waktu sudah menunjukkan pukul 9 pm.
Daniel berkali kali menelpon bik Ndari jika Anggi sudah ada dirumah segera menghubungi nya.
Tak mungkin Anggi berada di mal. Karena semua mulai gelap.
Daniel berpikir jika Anggi pergi ketempat hiburan malam.
Dengan rasa was was Daniel pun memasuki tempat hiburan malam anak muda. Siapa tau ada Anggi.
Namun sudah berapa klub yang Daniel datangi. Tidak menampakkan adanya Anggi.
Hingga malam semakin larut. Namun usahanya mencari putrinya tidak berhasil. Dengan langkah kecewa Daniel segera menuju mobilnya. Dan segera melajukam mobilnya kearah jalan pulang.
...***...
"Mas," panggil Yeza, saat melihat suaminya begitu nampak kacau.
Dirga segera memeluk Yeza dengan erat. Rasanya tidak ingin berjauhan lagi.
"Ada apa mas?" tanyanya
"Aku menginginkan seperti ini. Jangan tanyakan kenapa? Aku sedang ingin menikmati berada dalam dekapanmu." ucapnya lirih dan terdengar sangat berat.
Yeza segera membalas dekapan suaminya. Mengelus punggung suaminya dengan lembut.
"Aku lelah dengan taqdir hidup yang aku jalani. Semua terdapat rahasia rahasia yang tak aku ketahui. Dari keluargaku, dari kantorku. Dan seakan taqdir tidak pernah berpihak padaku. Takdir Tuhan tak akan membiarkan seorang Dirga bahagia." racaunya
"Kenapa bilang begitu? Tidak ada taqdir yang akan selamanya membuat kita susah, hanya bagaimana kita akan menganggap taqdir bahagia itu bukan semata mata yang menyenangkan dan memuaskan buat kita." jawab Yeza
"Terkadang apa yang kita senangi. Malah tidak membuat kita bahagia tapi justru akan membuat kita hancur." ucap Yeza,
"Keluargaku membohongiku, mamaku papaku dan semua yang ada di dekatku." tambahnya lagi
"Ada apa sih mas? Kenapa pulang pulang meracau tidak jelas? Kebohongan apa sih yang mereka sembunyikan dari mu?" tanya Yeza
"Boni... Boni ternyata bukan papa kandungku. Papaku yang sebenarnya ternyata sudah meninggal" jawabnya
"Iya.. Aku tau itu, aku tau perasaanmu saat ini mas" jawab Yeza. Jawaban yang begitu sempurna untk mengoyak kembali luka Dirga.
"Kamu tau?" tanyannya, dengan hati yang semakin tidak bisa di kendalikan.
__ADS_1