DUA GARIS MERAH GADIS BISU ( Za-Ga )

DUA GARIS MERAH GADIS BISU ( Za-Ga )
Anak Yang Kuat


__ADS_3

...***...


Dirga masih setia menunggu di ruang ICU, sebenarnya ruangan ini tidak boleh di masuki kecuali pegawai rumah sakit.


Namun karena tidak ingin melihat kemarahan Dirga yang semakin tak bisa di kendalikan terpaksa mereka mengijinkan..


Hingga beberapa jam kemudian, Yeza sudah mulai membuka matanya. Yeza mengerjap ngerjapkan mata nya saat melihat Dirga duduk di atas kursi yang begitu keras, sambil menunduk dengan  tanganya sebagai penyangga kepala.


"Mas..." panggil Yeza begitu lirih dan panjang.


Dirga segera mendongak menatap wanitanya yang sudah bangun.


"Za, kau sudah bangun?" tanya Dirga. Yeza mengangguk lalu tangan nya meraba perutnya 


"Dia anak yang kuat, dia masih bertahan di dalam sini." ucap Dirga


Yeza tersenyum menanggapi ucapan suaminya.


"Jam berapa mas?" tanya Yeza


"Jam 10 pm" jawabnya


"Aku tidur terlalu lama ya?" tanya nya, pertanyaan yang tak harus di jawab oleh Dirga.


"Sebentar ya aku panggilkan dokter" ucapnya


Dirga segera memanggil dokter Mila. Dan tidak berapa lama dokter Mila datang untuk mengecek kembali kondisi Yeza.


Dokter Mila memeriksa dengan sangat teliti.


"Malam ini istri bapak bisa di pindah ke ruang rawat." ucap dokter Mila


Dirga segera mengangguk, setelah beberapa perawat melepas selang oksigen dan beberapa alat lainnya. Yeza segera di pindah ke ruang rawat.


Dirga dengan setia mengikuti Yeza dan perawat yang mendorong brangkar nya.


Disini jauh lebih baik daripada di ruang ICU tadi. Tak bisa bermanja dengan istrinya,


"Terimakasih suster." ucap Yeza. Yang dapat anggukan dari suster yang membwanya.


Derrtttt...


Dertttt...


Ponsel Dirga kembali berdering.


Dirga enggan mengangkatnya. Karena dari sang mama, Dirga masih sangat kecewa sama mamanya.


"Dari mama?" tanya Yeza. Dirga hanya mengangguk lalu segera duduk di samping Yeza istirahat.


"Kenapa nggak di angkat?"


"Malas." jawabnya

__ADS_1


"Mas..."


"Sudah ya, aku sudah ngantuk mau istirahat." sahut Dirga sebelum istrinya itu kembali melunakkan hatinya.


Dirga segera merebahkan tubuhnya di sisi kanan istrinya.


"Mas ihh sempit" ucap Yeza, saat suaminya tidur sambil menggeser tubuh istrinya.


"Tidak apa apa, sudahlah aku sudah ngantuk, ayo tidurlah." sahut Dirga


"Mas tapi aku ngak bis..." Yeza tak jadi melanjutkan  ucapanya karena Dirga segera mendekap tubuhnya.


"Diamlah"


Yeza terpaksa harus diam, karena jika tidak, suaminya itu akan semakin memperlakukan yang tidak harus di lakukan di rumah sakit.


Walau di sini hanya ada mereka berdua, dan mereka bisa melakukan apapun tanpa di ketahui oleh orang lain.


Namun Yeza masih waras, yang tidak akan melakukan hal bodoh di tempat umum. Beda lagi kalo Dirga, Dirga selalu tak melihat tenpat.


...****...


Pagi sudah menyapa.


"Pokoknya Dirga nggak ingin istri Dirga pergi sama mama" ujar Dirga.


Pagi pagi sekali Cantika sudah sampai di rumah sakit, dengan membawa makanan untuk Dirga dan Yeza.


Cantika cukup tau Jika Dirga pasti sangat kecewa pada nya, karna sudah lalai menjaga istri nya.


"Maafi  mama ya nak, mama benar benar tidak tau jika akan ada yang mengancam keselamatan kalian." ucap Cantika


Yeza mengerjap kan matanya. Dan mendengarkan setiap ucapan yang keluar dari dua orang di ruangannya.


"Sekali tidak. Tetap tdak ma, mulai sekarang hanya Dirga yang akan mengajak Yeza belanja. Jika mau mengajak Yeza belanja, maka harus ada pengawal yang menjaga kalian." ucapnya dengan tegas


Derttt...


Derrttttt..


Ponsel Dirga berdering. Dirga segera menjauh dari mamanya untuk mengangkat panggilan dari Candra.


☎ "Bagaimana Ndra?" tanya Dirga


☎ "Bos, laki laki itu belum buka mulut nya." jawab Candra


☎ "biarkan saja. Aku yang akan membuka mulut nya dengan besi yang menyala." balas Dirga


☎ "sekarang biarkan mereka bernafas dulu, sebentar lagi aku ke markas. Tolong kirim Bagas atau Doni ke rumah sakit. Aku butuh dua orang untuk menjaga keluargaku." ucap Dirga


Obrolan pun segera di ahiri.


Dirga kembali masuk dan melihat Cantika sedang menyuapi Yeza.

__ADS_1


"Tidak usah ma. Yeza bisa sendiri." tolaknya


"Tidak nak. Lihatlah tanganmu yang satu masih di pasang jarum." ucap Cantika lagi.


Dengan terpaksa Yeza pun membuka mulutnya, agar mertuanya bisa menyuapi nya


"Ini memang mama sendiri yang masak, ya mungkin tidak seenak masakan kamu." tambah Cantika


"Enak kok mam." jawabnya


Dirga hanya menatap keduanya sebentar, lalu segera duduk di sofa membuka bekal yang mama bawakan.


"Ma.. Dirga mau keluar sebentar. Dan Dirga sudah bilang sama dokter jika hari ini Yeza sudah bisa pulang." ucapnya


"Dan mama nggak perlu mengantar Yeza, karena Sam yang akan mengantarnya sampai rumah." ucap Dirga lagi


...***...


"Katakan siapa yang sudah membayarmu untuk membunuh mertuaku?" tanya Dirga


Setelah Doni dan Bagas sudah berada di kursi ruang tunggu depan kamar dimana istri bosnya berada


"Aku tidak mau mengatakan. Ingat jika putraku sampai tau kau yang sudah mencelakai ayahnya, kau tak akan hidup tenang." jawab Seno yang wajahnya sudah terlihat membiru dan membengkak.


"Kau ingin tau, siapa putramu itu?" tanya Dirga.


Setahu Seno, Juna bekerja dengan mafia yang terdengar bengis. Seno tidak tau jika bos nya Juna adalah Dirga 


"Dia menjadi orang kepercayaan bosnya. Dan jika sampai kau melukaiku, maka mereka akan mencelakai keluarga mu." ucapnya


Dirga hanya tersenyum menyeringai menanggapi omong kosong Seno.


Dirga segera memeperlihatkan video Juna yang masih dalam keadaan wajah yang masih sama


"Dia adalah anak buahku. Jika kamu tidak memberi taukan siapa orang di balik ini semua. Maka dengan cepat aku bisa saja membuat putramu masuk penjara dengan caraku" ancam Dirga


Seno membelalak kan matanya, tidak menyangka jika orang di depannya adalah pria yang sudah mengeluarkan dari penjara.


Karena waktu itu hanya utusan Dirga yang menampakkan wajahnya ke penjara


"Maafkan saya tuan. Saya tidak tau jika anda adalah bos mafia itu." ucapnya.


"Aku tak butuh permintaan maaf dari mu. Cepat katakan siapa yang sudah bermain di belakangmu." tanyanya lagi


Akhirnya Seno membuka mulutnya. Tentang pembunuhannya Ibunya Yeza dan juga siapa yang sudah menyuruh nya untuk mencelakai Yeza.


...****...


Bughhh..


Satu Bogeman Dirga layangkan pada Seno. hingga tubuh Seno ambruk seketika.


Nyawa harus di bayar nyawa. Itulah prinsip Dirga

__ADS_1


__ADS_2