
"kau lihat saja, apa yang akan aku lakukan untuk orang yang sudah membunuh mertuaku." ucap Dirga dengan mengepalkan kedua tangannya.
"Ini bagianku, kalian minggirlah" ucap Dirga, sambil melangkah dengan pongah kearah Seno.
Bughhh... "Ini pukulan untuk kau yng sudah membunuh mertuaku". Bughh,, bughhh,, bughh..
Darah Seno keluar dari mulutnya
Bughhh... " ini pukulan dari hilangnya suara istriku 14 tahun yang lalu." BUGHHH... BUGGHHH.. Dirga memukul Seno lebih keras dan brutal.
Bughhhh.. Bugghhh.. "Dan ini pukulan KARENA KAU SUDAH MENGUSIK KELUARGA DIRGANTARA" BUGGHHH.. BUGGHHH..
Seno langsung terjatuh dan pingsan karena pukulan bertubi tubi dari Dirga.
"Ouwhh sakitt..." ringis Yeza tiba tiba. Dirga segera menoleh melihat keadaan istrinya.
"Za.. apa yang kau rasa..." ucapan Dirga terpotong saat melihat wajah pucat Yeza.
"Se.. Sepertinya aku kembali pendarahan." jawabnya dengan menahan rasa sakitnya
"Sam.. kita harus cepat bawa Yeza kerumah sakit." ucapnya dengan wajah panik
"Candra kau urus semuanya. Bawa mereka ke markas." titah Dirga pada Candra.
Dirga segera mengangkat tubuh Yeza, "sakitt.." rintihanya lagi
"Bertahanlah Za, kita akan kerumah sakit terdekat." hibur Dirga
Dan ternyata rumah sakit terdekat adalah tempat dokter Karmila praktek. Mereka segera masuki mobilnya dengan terburu buru.
Sam segera melakukan mobilnya dengan pelan, karena jalanan yang begitu banyak lubang
"Ishh.. " ringis Yeza, saat melewati polisi tidur. Karena jalanan ini begitu sangat sempit.
"Pelan pelan Sam" teriak Dirga
Sam pun bingung jika pelan maka Yeza akan merasakan sakit terlalu lama.
Jika terlalu cepat pun Yeza akan lebih kesakitan.
__ADS_1
"Siapapun yang sudah membuat jalan ini rusak, akan aku buat rusak juga keluarganya." geram Dirga
Sam hanya diam mendengar setiap ucapan yang telontar dari mulut sahabatnya ini. Karena terlalu banyak bicara saat mendapati jalan yang tidak sesuai dengan yang di inginkan.
Hingga 20 menit lamanya.
Akhirnya mereka segera mendapati jalan raya yang begitu mulus
"Cepat sedikit Sam." teriaknya lagi. Saat tangan Yeza mencengkram lengan Dirga
"Kau harus bertahan Za. Kita segera sampai." ucapnya.
Sam tak ingin mendapatkan omelan Dirga lagi. Sam segera melesatkan mobilnya dengan lebih cepat.
Hingga tidak terasa mereka sudah berada di halaman rumah sakit yang sering di datangi oleh keduanya.
Dirga segera membuka pintu dan segera mengangkat Yeza.
"DOKTER.. CEPAT TOLONG ISTRI SAYA." teriak Dirga sambil memasuki ruang UGD. wajahnya terlihat sekali jika sedang panik.
Dengan cepat para perawat pun segera memberi pertolongan pada Yeza.
"Kami akan melakukan yang terbaik pak. Silahkan tunggu di sini. Agar kami bisa bekerja dengan baik." ucap Mila dengan wajah dan ucapan yang amat tenang.
Dirga semakin gusar, saat menunggu sekitar 10 menit.
Karena tidak sabar Dirga segera memasuki ruangan di mana Yeza sedang di tangani.
"Pak, sebaiknya anda menunggu di luar, agar kami bisa bekerja dengan baik." ucap dokter Mila
"Cepat kerjakan apa yang seharusnya anda kerjakan. Jangan usir saya, karena dia adalah istri dan anak saya. Saya akan menyaksikan langsung cara anda bekerja." ucap Dirga dengan datar. Dirga tidak mau di usir dari ruangan ini. Karena rasa paniknya itu Dirga sudah berani membentak dokter Mila..
Dokter Mila hanya gekengkan kepala. Dalam hatinya berkata. "Pria arrogant, kok bisa yaa mendapat istri yang masih bocah, apa karena di paksa orang tuanya? untuk melunasi hitang?" batinnya.
Mila segera membuang pikiran buruknya. "Bukan urusan saya juga sih." batinnya kemudian. Dan masih tetap fokus menangani pasienya
Derrtttt
Derrttt
__ADS_1
Dertttt
Pekerjaan dokter Mila terganggu oleh suara ponsel Dirga yang berbunyi. Namun sang empunya rasanya enggan mengangkat telponnya.
Perawat yang lain hanya menatap hera pada pria yang di ruangan ini.
Hingga 15 menit kemudian. Dokter Mila sudah selesei memberi obat penguat kandungan dan menghentikan pendarahan..
"Sudah dok?" tanya Dirga
Karmila mengangguk. "Ikut keruangan saya pak." ucap Mila. Dan segera meninggalkan ruangan nya.
"Hmmm.." jawabnya tetap saja angkuh.
Dirga segera menghampiri Yeza terlebih dahulu. Lalu mengelus pipi mulusnya. Setelah itu mengecup keningnya.
Dirga segera ke luar. Melangkah menuju ruangan dokter Mila.
Kedua perawat itu hanya berbisik bisik yang tak bisa di dengar oleh Dirga. Dirga pun tak ingin tau apa yang mereka bisikkan. Terlalu mahal jika suara atau matanya itu di gunakan untuk menatap ketiga perawat yang sedang menatap Dirga.
"Apa yang ingin anda sampaikan. Bagaana kondisi istri dan anak saya dokter?" tanya tanpa basa basi
"Duduk dulu pak. Karena tidak pantas bicara dengan berdiri." ucap dokter Mila
"Ini adalah kejadian kedua kali istri bapak mengalami pendarahan dan benturan. Beruntung bayi bapak masih bertahan dan masih menyayangi istri anda." ucapnya
"Nggak usah basa basi dok. Saya ingin menemui istri saya." jawabnya. Ternyata kemarahan Dirga masih menguasai hatinya. bahkan dengan dokter yang menangani istrinya sekalipun.
Untung dokter Mila memiliki stok kesabaran. Jadi masih bisa menganggap itu adalah hal wajar. Apalagi Dirga begitu sangat menyayangi istri dan calon anaknya.
"Saya ingatkan untuk bapak. Jangan pernah kebagian ini terulang lagi. Jika sampai terjadi yang ketiga. Saya tidak menjamin bayi bapak bisa di selamatkan." ucap Mila lagi
Dirga mendengkus kesal. "Lagi pula siapa yang menginginkan hal ini terjadi? " batinnya.
Dirga mengepalkan kedua tanganya saat mengingat pria yang sudah membuat istrinya seperti ini.
Dirga segera berdiri saat tidak ingin banyak membuang waktu dengan dokter Mila.
"Lihat saja, siapapun yang sudah mengusik kebahagiaan ARYA GUSTI DIRGANTARA hingga mengakibatkan DIRGANTARA marah seperti ini. Tidak akan pernah ada kata ampun lagi." batinnya.
__ADS_1