DUA GARIS MERAH GADIS BISU ( Za-Ga )

DUA GARIS MERAH GADIS BISU ( Za-Ga )
Cerita Blak Blakan


__ADS_3

****


"Za.. Kemarin kan kamu bertemu Anggi, jam berapa?" tanya Daniel.


Mereka saat ini tengah menunggu pesanan makan siang di restoran yang dulu menjadi favorit keluarga.


"Mmm... Jam jam berapa yaa pa Yeza lupa, soalnya sama mama" jawabnya


"Mama mertuamu baik ya?" tanya nya lagi. Yeza, mengangguk sambil tersenyum


" sebenarnya mama baik pa.. Cuma ya mungkin sangat kecewa atau merasa di bohongi. Jadi mama sedikit marah sama Yeza. Namun semuanya sudah baik baik saja kok pa." jawabnya


Daniel tersenyum mendengar cerita dari putrinya. Walau Yeza belum tau lagi soal mama mertuanya sekarang. Karena kemarin mertuanya tdak menanyakan kabar dirinya


"Papa berharap setelah ini, kehidupan kalian baik baik saja sampai bayi itu lahir nak. Jujur papa sangat hawatir jika Dirga tiba tiba berubah soal perasaanya." ujar Daniel


"Pa.. Jika mas Dirga berubah, tidak maslah kan. Kita besarkan anak ini sendiri. asal papa selalu ada buat Yeza. Yeza pasti kuat kok." jawabnya yang sambil memegang telapak tangan papanya.


"Iya nak, papa pasti akan selalu ada di sampingmu. Maafkan papa ya nak. Yang tidak bisa menjagamu." kata Daniel lagi


Obrolan mereka berhenti saat pesanan  makanan nya sudah siap.


"Cucu papa lagi pingin apa sih. kok sepertinya anteng anteng saja." tanya Daniel


"Semua makanan dia suka pa. apalagi bau keringat mas Dirga. Sepertinya mereka memiliki ikatan batin deh pa." sahut Yeza


Danil mengernyitkan keningnya. Tidak faham.


"Gini pa.. saat berada di sisi mas Dirga. Yeza pingin  selalu tidur di bawah ketek mes Dirga." Yeza cerita blak blakan sama Daniel. Sambil nyengir malu malu.


Mungkin  buat Yeza itu wajar karna Danil adalah papanya. Jika mama nya masih ada, mungkin Yeza pun akan menceritakan hal yang sama.


Daniel tertawa lepas saat Yeza menceritakan nya.


"Seperti kamu dulu, waktu mama hamil kamu usia 3 bulan. bahkan papa tidak boleh pakai parfum saat bekerja. Karena lebih menyukai bau papa yang asem, tapi kan papa malu nak kalo di kantor bau asem sendiri. Ahirnya papa beli parfum dan papa taruh di laci kantor." ucap Danil yang menceritakan pengalaman sebagai calon papa Dulu.

__ADS_1


Mereka tertawa bersama. Seolah terlepas dari beban yang selama ini di pikulnya.


"Selamat siang." sapa seorang wanita


"Sel..lamat siang mah" jawab Yeza.


Cantika, Cantika menghampiri meja Daniel dan Yeza. Cantika hari ini bertemu dengan teman teman kuliahnya. Mereka sedang mengadakan reunian di restoran ini.


Namun saat memasuki restoran, telinga Cantika mendengar tertawa bahagia seorang gadis dan seorang pria yang sudah jauh lebih tua dari Yeza.


"Za.. ini papa kamu?" tanya Cantika lirih


"Iya tan.." jawabnya


"Ohh.. Kenalkan pak, saya mama nya Dirga, dan juga mertuanya putri bapak." ucap Cantika ragu ragu.


Daniel segera berdiri menyambut uluran tangan besannya.


"Saya Daniel, ayah Yeza." jawabnya


"Terimakasih saya ada bertemu dengan teman teman saya disini. Lagi pula pasti Yeza butuh ruang privasi dari saya. Saya nggak enak mengubah mood wanita hamil." jawabnya


Yeza hanya menunduk belum berani menatap wajah cantik mertuanya.


"Za, jaga bayinya ya. Turuti apa yang menjadi keinginannya." pesan Cantika sebelum pergi.


Yeza mendongak menatap wajah cantik mertuanya. lalu tersenyum sambil mengangguk.


"Apa maksudnya tante Cantika bicara seperti itu. apa dia benar benar tidak menginginkan kehadiran Dirinya di kehidupan Dirga." batin Yeza


"Nak.. ayo di makan lagi. katanya cucu papa semua makanan suka." ucapan Daniel membuat Yeza kembali tersenyum.


Mereka kembali melanjutkan makanan nya. Hingga Yeza habis dan Yeza masih pingin makanan lain nya.


...***...

__ADS_1


Di kantor Dirga


Semua karyawan sudah memasuki ruang meeting. Termasuk papanya, Dirga celingak celinguk mencari keberadaan Arka. Dirga mengumpulkan semuannta pagi ini, tidak lain hanya ingin mengenalkan Juna sebagai karyawan pengganti Ramos 


"Biar papa yang memanggil Ga." ucap Boni yang tau jika Dirga tangan mencari keberadaan Arka.


Dirga mengangguk saja. Karena dirinya disini sebagai pemimpin perusahaan. Tidak mungkin Dirga akan berjalan sendiri untuk menjempet karyawannya. Sekali pun itu abangnya.


"Pak.. Tadi saya sudah ke ruangan pak Arka. Tapi saya nggak enak mengganggu" bisik Nara


Dirga mengerutkan  keningnya tidak faham dengan yang Nara sampaikan


"Pak Arka sedang bercumbu dengan wanita pak. Sepertinya dia calon istrinya." tambah Nara


Seketika darah Dirga mendidih, jantung seakan ingin lepas dari tempatnya. Kemarahan dan kenangan itu kembali menari di otaknya. Membayangkan wanita itu dengan mudah menghianati nya.


Dirga bukan cemburu. Hanya kasian akan nasib abangnya. Siapa tau Arka juga di jebak oleh Paquita wanita dulu yang sering Dirga sebut pita.


Dirga segera berdiri melangkah keluar menuju ruangan Arka.


"Arka.. Kau ini apa apaan ber cinta di kantor. Pintu juga tidak di kunci melakukan hal yang tidak pantas di lakukan di kantor, kalo Dirga sampai tau, papa bisa malu tau nggak." ucap Boni saat membuka pintu ruangan Arka. dan melihat pergulatan sepasang kekasih yang saling mend*ah.


Ingin  rasanya Boni melempar Arka keluar dari perusahaan ini. Karena pekerjaanya sering tidak beres. namun Boni tetap berfikir jika Arka adalah calon pemimipin perusahaan yang sah.


Arka dan Paquita segera mengenakan kembali pakaian yang berceceran di lantai.


"Pa.. Arka kangen sama Pita. Pita baru saja kembali dari luar negeri. Kami tadi sebenarnya hanya melepas rindu. Namun malah keblabasan." jawab Arka


"Apapun alasan kamu. Papa tetap tidak suka. dan jangan ulangi lagi." tekan Boni. Arka hanya mengangguk.


"Dan kamu pita, jangan ulangi lagi hal boboh ini. Ingat kamu adalah putri dari seorang pemilik pabrik terbesar di kota ini. Jadi jaga kelakuanmu agar tidak tersorot buruk di mata publik" Jelas Boni agar mereka bedua tidak melakukan hal bodoh ini di kantor.


Dirga segera menjauh setelah mendengar kemarahan papanya. "Terimakasih pa.. Kau sudah menasehati mereka." gumamnya


Boni dan juga Arka keluar dari ruangannya. Dan melihat punggung Dirga menjauh dari ruangan Arka.

__ADS_1


"Lihat tu.. Dirga pasti sudah tau kelakuanmu." tunjuk Boni


__ADS_2