
...***...
Yeza masih belum bisa memejamkan matanya.
Padahal jarum pendek sudah menunjukkan di angka 10.
Entah kenapa perasaan Yeza tiba tiba tidak enak. Memikirkan tentang papanya, ditambah lagi sang suami yang belum pulang.
Yeza duduk di depan layar televisi, sambil makan kue kering bikinan bi Uci. Hingga kue itu hampir habis, namun pikirannya masih berada pada dua pria yang sangat istimewa untuk saat ini.
Yeza segera mengambil ponselnya. Ingin sekali menelpon papanya, namun saat melihat jam dinding, Yeza pun mengurungkan.
Hawatir papanya akan menanyakan banyak hal pada dirinya
Terutama pada suami yang belum pulang selarut ini.
Tapi hatinya mengatakan untuk menelpon papanya.
Agar bisa lebih tenang saat mendengar papanya baik baik saja.
Ceklek...
Yeza mendengar suara pintu utama di buka dari luar.
Yeeza segera berdiri menghampiri suaminya
Dirga menatap Yeza aneh malam ini. Bagaimana tidak? Yeza dengan pakaian daster kumal kesayangannya yang beberapa hari lalu di ambil dari rumah orang tuanya. Daster dengan gambar Pinguin besar di bagian perutnya.
Semenjak di rumah Dirga, semua pakaian Yeza di ganti dengan pakaian dewasa. Pakaian tidur yang terkesan se*i, sehingga akan sangat menampakkan lekuk tubuhnya.
"Kau belum tidur?"
Yeza menggeleng sebagai jawabannya.
"Dari mana, malam begini baru pulang? Padahal pergi sudah dari jam 11 siang tadi." tanya Yeza.
"Banyak urusan," jawabnya sambil menggulung lengan ke atas.
"Ini baju siapa hmm?" tanyanya
"Ini baju tidur kesukaanku mas. Jangan di sobek." pintanya sambil menampakkan wajah sedihnya
Dirga segera menarik tubuh Yeza dalam dekapannya.
"Terlihat seperti bocah SD kau pakai pakaian ini." ucapnya
__ADS_1
"Apa kau ingin mengubahku menjadi wanita dewasa?" tanya Yeza, jujur Yeza ingin sekali menolak semua pakaian yeng sudah Dirga siapkan untuknya.
"Tidak mengubah kau untuk menjadi dewasa, tapi memantaskan kamu untuk menjadi seorang istri dan ibu." jawabnya
"Aku memang sebenarnya belum pantas menjadi seorang istri. Bahkan otakku juga belum sampai mengarah pada persoalan orang dewasa. Namun keadaan itu telah mengubah aku." jawabnya dengan wajah penuh menyesal.
Dirga segera mengalihkan topik pembicaraan. Agar tidak selalu mamerasa bersalah.
"Kau sudah makan?" tanya Dirga
Yeza menggeleng. "Aku tidak akan melewatkan makan malam bersamamu." jawabnya.
"Kalo begitu kita makan sekarang. Aku mau membersihkan tubuhku terlebih dahulu." ucapnya
Yeza, mengangguk. Lalu segera melangkah meninggalkan Dirga.
Tangan Dirga masih saja menggamit tangan Yeza, sehingga Yeza tak bisa melangkah terlalu jauh.
"Mas" lirihnya
Dirga melangkah kearah di mana Yeza berdiri untuk mengikis jarak agar lebih dekat.
"Aku sangat merindukan kamu." ucapnya. Lalu Dirga segera mengangkat tubuh Yeza pada sandaran sofa. Dirga memagut bibir Yeza. Menyesap dan melu*at bibirnya.
Dirga segera melepas pagutannya setelah merasakan pasokan udara kian menipis. Dirga mengusap bibir Yeza yang basah dengan ibu jarinya
Jangan lupakan wajah Yeza yang begitu memerah. Di tambah dengan alunan detak jantung yang tidak beraturan. Membuat Yeza tak bisa menyeimbangkan tubuhnya.
"Aku mau mandi dulu." ucapnya dengan senyum nakal.
Yeza segera turun dari tempat di mana diri nya didudukkan dengan di bantu Dirga.
Yeza duduk di kursi ruang makan. Sambil mengelus dadanya. Nafasnya tidak beraturan. Padahal setiap hari Dirga selalu memperlakukan seperti itu. Namun jantung Yeza belum bisa normal saat berada di dekat Dirga.
Setelah agak tenang, Yeza segera membawa makanan yang sudah berada di tempat penghangat.
Tak berapa lama Dirga sudah selesei dengan ritualnya. Dirga selalu saja hanya memakai boxer kalo dirumah. Mungkin itu sudah menjadi kebiasaan sejak dulu, sampai kini Dirga tetap nyaman dengan penampilan seperti itu.
Beda lagi dengan Yeza, walau sudah beberapa kali menegur agar Dirga memakai pakaian normal saat berada di rumah. Namun Dirga tidak pernah menganggap omongan istrinya itu serius.
Mereka segera melakukan makan malam jam 23.00. Bukan maka malam lagi kalo jam segini. Tapi sahur
"Bagaimana kabar papa?" tanya Yeza tiba tiba
Dirga menghentikan kegiatannya. Dan membiarkan tangannya tetap menggantung dengan sendok yang hampir sampai di mulutnya.
__ADS_1
"Papa sudah tau kan?" tanya Yeza lagi. Sebelum suaminya itu menjawab.
"Tadi aku sudah menemui papa. dan papa sudah tau. Papa meminta ku untuk mengurung mereka kedalam penjara" jawabnya
"Mereka?" tanya Yeza
"Emmm.. Maksudku mereka yang kemarin menculikmu." jawabnya
Dirga tidak ingin memberi taukan tentang keterlibatannya ibu tiri Yeza dalam pembunuhan ibunya.
Karena hawatir Yeza akan memikirkan keadaan papanya. Dan ingatlah Yeza baru keluar dari rumah sakit. Dirga tak ingin Yeza kembali shok dan harus kembali lagi kerumah sakit..
"Kau tidak perlu hawatir, aku sudah membereskan semuanya." jelas Dirga
Yeza kembali menyuapkan makananya dengan lebih nikmat, setelah tau keadaan papa nya baik baik saja.
"Aku merindukan papa." ucap Yeza kemudian.
"Besok aku akan meminta papa untuk datang kesini." jawabnya
"Bolehkah aku mengunjungi papaku dan bermalam di sana." tanya Yeza
Dirga diam sejenak. "Aku tidak ingin terjadi sesuatu yang buruk menimpamu lagi. Kau tetap dirumah biar aku yang membawa papa kesini." ucapnya kemudian
Kalo sudah begini, Yeza tak bisa membanrah lagi dan harus menyetujui keputusan Dirga.
Setelah makan malam selesei. Dirga memasuki ruang kerjanya. Ingin mengecek pekerjaan yang kemarin sempat di tinggal.
Hari ini Dirga juga tidak ngantor. Karena banyaknya urusan yang di selesei kan,
Sedangkan Yeza, Yeza segera masuk kekamarnya. Mata tak bisa di pejamkan karena sehari ini Yeza hanya tidur di rumah sakit.
Yeza menyalakan televisi di kamarnya dan melihat acara drama Korea kesukaanya.
Terkadang tertawa saat menyaksikan adegan lucu. Terkadang menangis saat ada adegan yang bikin baper.
Kalo ada adegan kissing Yeza selalu menutup wajahnya. Seolah dirinya pemerannya.
Jika pas adegan itu. Yeza menonton sendiri. Pasti selalu kebetulan sang suami masuk, dan melihat tingkah Yeza. Kalo sudah begitu Dirga akan menggodanya, hingga berahir pada permainan ranjang.
...***...
"Pa.. Tyo tak bisa di hubungi. Sudah dari tadi malam. Tyo seperti meninggalkan jejak deh pa." ucap Arka
"Kamu itu bodoh mencari orang. Lihatlah kita sudah mengeluarkan bayak duit untuk dia. Tapi dia.." ucapnya terhenti saat Dirga memasuki ruangan Arka.
__ADS_1