DUA GARIS MERAH GADIS BISU ( Za-Ga )

DUA GARIS MERAH GADIS BISU ( Za-Ga )
Tidak ada sambutan hangat


__ADS_3

...***💗Dobel up ya pagi ini. entah kalian suka atau tidak di part ini. karena terkesan terlalu datar se datar jalan tol. sekali lagi cerita ini hanya sebagai hiburan semata. hasil halu semalam 💗...


...Selamat membaca...


...💥💥💥***...


...***...


Dirga memasuki rumahnya. Setelah seharian ini sibuk dengan kantor.


Ternyata keuangan di kantor sedang tidak baik baik saja.


Rasa lelahnya akan terobati setiap memasuki halaman rumahnya.


Bayangan senyum sang istri yang akan menyambut saat perpulangannya.


Yeza akan banyak berceloteh saat menyambut kedatangannya.


Dirga merasakan ada sesuatu yang kurang saat memasuki rumahnya. Tidak ada sambutan hangat dari istri kecilnya.


Hati Dirga mulai di hampiri perasaan was was. saat menyadari hilangnya senyum cerianya sang istri.


Hawatir kalo Boni ataupun Arka menculik Yeza.


Namun saat memasuki ruang tengah, hati Dirga menjadi lebih tenang.


Mata Dirga menangkap sosok wanita yang sedang duduk di depan televisi sambil mengelus perutnya. Jangan lupakan, di pangkuan Yeza ada piring yang berisi buah buahan yang hampir habis.


Merasa ada seseorang yang hadir. Yeza segera mendongak kesamping , dan melihat suaminya sudah pulang.


Lalu tatapannya kembali fokus pada layar televisi.


Tidak memberikan senyum atau menyapa untuk mencium tangannya seperti biasa.


Dirga semakin geram saat mendapati Yeza tidak peduli dengan kehadirannya. Ingin sekali Dirga menegur. Namun  lagi lagi karena gengsi nya terlalu besar. Dirga hanya mendengkus tidak suka keadaan seperti ini.


Dirga memasuki kamarnya. Dan melempar tas dan juga sepatu dengan kasar.


Yeza hanya mengedikkan bahunya dengan sikap sang suami, Yeza tau pasti Dirga sedang marah karena tidak di sambut. Yeza tetap acuh saat melihat suaminya kembali keluar dari kamar.


Dirga sudah menggulung lengan kemejanya. dan melewati Yeza.


"Sayang.. Jangan nendang nendang dong, perut mama kan cakittt.." ucap Yeza sengaja di keraskan saat melihat Dirga.


Dirga menatap istrinya yang masih fokus pada perut yang sedang di elus elus. sambil mengatakan sesuatu. biasanya Dirga selalu menyapa dan akan mendapat sambutan tendangan dari dalam perut istrinya.


Dirga segera melewati Yeza dan masuk kedapur untuk mengambil air mineral.


"Apa di sini sudah tidak ada yang peduli lagi pada kehadiran suaminya? Kalo begitu baiklah aku tidak akan pulang.' racau Dirga yang sudah berada di depan almari pendingin.


Walau mendengar Yeza tidak akan menyahuti nya. Yeza malah masuk ke kamar untuk menyiapkan baju ganti untuk suaminya.

__ADS_1


...***...


Anggi masih berusaha untuk melepaskan dirinya dari kungkungan Hasta.


Mencari ponselnya, dari kemarin Anggi tidak melihat benda pipih itu.


Mengobrak abrik semua isi almari. Namun nihil, Anggi tidak menadapatkan yang di cari.


Anggi sudah lemas sehari ini hanya mondar mandir mencari ponsel.


Melihat jam dinding yang sudah menunjukkan  pukul 3 sore. Biasanya Hasta akan kembali ke apartemen sekitar jam 4.


Masih ada waktu 1 jam untuk membereskan semuanya. Agar saat Hasta pulang tidak curiga karena melihat ruangan yang begitu berantakan.


Anggi berjalan mendekati jendela. Menatap jalanan yang terlalu jauh dari dirinya berada.


Anggi berada di lantai 7.  Bagaimana aku bisa keluar dari sini? Aku tidak mau melompat dari sini. Aku tidak mau mati sekarang.


Ceklek..


Pintu apartemen di buka dari luar. Dan terlihatlah wajah Hasta yang sangat kelelahan.


Hasta segera mendekati Anggi. "Bagus, ini yang aku suka dari kamu. Menuruti apa yang aku katakan." ucapnya. Sambil matanya begitu liar menatap setiap lekuk tubuh Anggi yang hanya berbalut lingerie warna merah dan sangat sangat tipis sehingga memperlihatkan bagian intim dan payu*ara nya.


Pu*ingnya sangat menggoda Hasta. Hingga Hasta tak bisa menahan hasrat nya. Hasta segera meraup pay*dara Anggi.


Mere*as dengan kuat.


Hasta tersenyum menyeringai. Lalu melepas lingerie yang menempel di tubuh Anggi.


"Omh.. Anggi masih sakith." lirihnya.


Siapa yang peduli dengan rintihan Anggi.


"Aku tidak peduli. Kau sangat menggai*ahkan." ucapnya.


Hasta segera melepas kancing kemejanya satu persatu. Lalu segera melepas celana nya. Dan bibirnya tak melepas bibir Anggi. Hasta tetap mencecap dan mengh*ap bibir Anggi.


Hasta merebahkan tubuh Anggi dengan kasar.


Hingga kepala Anggi terjedut dengan  dinding.


"Aouhhh.. Sakit." Ringisnya lagi.


Hasta memompa dengan cepat. Tak ingin Anggi merasakan Keni*matan ini. Hasta hanya ingin menciptakan luka dan sakit putranya terbalaskan.


Aaahhh punyamu memang pandai menjepit Anggi ... Des*h panjang Hasta saat di ujung pelepasannya.


"Terimakasi Anggi. Kau memang jal*ngku." ucapnya  sambil mengecup bibir Anggi.


Tidak pernah terbayangkan jika Anggi akan hidup se tragis ini. Menjadi budak se* seorang pria tua.

__ADS_1


Anggi selalu menganggap saat terbebas dari orang tua. Maka itu adalah suatu kemenangan dan kebahagiaan tersendiri.


Namun kini, Anggi tak bisa berasumsi seperti itu. Karena kehidupannya sangat terbalik dengan kebahagiaan yang ada dalam bayangannya.


"Papa, maafin Anggi." hatinya kembali menjerit.


Hasta segera berdiri dan berjalan menuju ruang depan.


Tubuhnya yang tampa sehelai benang membuat Anggi eneg melihatnya. Apalagi melihat senjatanya yang menggantung kekanan da kekiri saat Hasta berjalan.


Hasta datang dengan membawa papebag dan menyerahkan pada Anggi.


"Ini untuk ganti kamu didalam." ucapnya sambil menyerahksn papebag nya


Anggi tersenyum. Anggi kira itu adalah pakaian berlengan atau setidaknya pakaian ini lebih sedikit menutupi tubuhnya.


Namun lagi lagi Anggi kecewa. Saat di keluarkan hanya beberapa lingerie yang masih baru.


"Memangnya aku akan memberikan untuk ja*ang itu apa? Selain lingerie." kata Hasta yang melihat raut wajah kecewa dari Anggi.


Dengan lemas Anggi meletakkan pakaian pakaian laknat ini. Dulu Anggi memang menyukai pakaian ini saat menggoda Hasta.


"Jika aku tidak ada, kau boleh memakai nya. Namun saat aku di sini. Aku tidak ingin melihat kamu memakai apapun." ucapnya.


Hasta segera menarik tangan Anggi kedapur untuk menikmati makan sore.


Mereka sama sama tidak memakai apapun. Dengan langkah pelan Anggi mengikuti nya, daripada di hukum dan di gauli lagi seperti kemarin.


"Makanlah sayang. Kau harus makan yang banyak. Karena nanti malam kita akan mengulangi lagi percintaan kita." ucap Hasta.


Mendengar ucapan yang terlontar dari Hasta. Anggi merasa tidak bisa bernafas. Tenggorokannya tercekat seolah lupa bagaimana cara bernafas


"Dan kamu jangan lupa minum pil penunda kehamilannya." tambah Hasta


"Su sudah habis." jawab Anggi.


Hasta, mengehetikan kunyahan nya, lalu menatap Anggi


"Nanti aku beli lagi." sahutnya


...***...


Setelah makan malam.


Dirga segera pergi ke ruang kerja. Sedangkan Yeza seperti biasa akan membersihkan meja makan..


Yeza segera membuat kopi untuk Dirga, setelah menyelesaikan pekerjaannya.


Tak ada sepatah katapun untuk menyajikan kopi hitam pada Dirga. Yeza segera keluar setelah menaruhnya di atas meja


"Sayang, kamu yang sabar yaa, besok kita cari papa kandungmu agar bisa nengok kamu setiap waktu." ucap Yeza sambil meninggalkan ruang kerja Dirga

__ADS_1


Dirga mere*as kertas yang ada di tanganya saat mendengar ucapan Yeza barusan. " kenapa sih dia selalu menyindir ku? Kenapa tidak bilang saja kalo sedang menginginkan." geramnya dalam hati


__ADS_2