Dua Saudara Iblis

Dua Saudara Iblis
Phoenix Kepala Tiga


__ADS_3

"Kali ini, bersiaplah menjadi debu untuk sebuah pengorbanan bagi Phoenix. " Elite mengeluarkan kekuatan yang benar benar besar. Api besar keluar dari tubuh Elite. Tangan Ayah Fedrik pun terbakar meski tangannya ditutupi oleh api yang besar.


"Kekuatan Roh macam apa ini? Ini seperti sedang berhadapan dengan Roh berusia 500 tahun. " Ayah Fedrik, Ayah Fedrik melepaskan cengkraman nya kepada Elite karena tangannya terbakar oleh api Elite.


Seluruh tubuh Elite tertutupi oleh api. Tetapi Elite masih bisa bergerak walaupun dalam proses penyatuan Roh.


"Tendangan berapi! " Elite, Elite menendang tubuh Ayah Fedrik. Ayah Fedrik menangkis serangannya.


"Hahah... Kau memang hebat bocah. Kau bisa menyerang dalam keadaan penyatuan Roh. Kalau begitu, aku juga tidak akan kalah. " Ayah Fedrik mengeluarkan kekuatan yang besar. Api yang besar muncul kembali. Dua api besar saling berhantaman.


"Hebat... mereka hebat. Percikan apinya bahkan sampai kesini. " Emeli yang sedang berusaha mencari Thunder

__ADS_1


"Ledakan area berapi! " Elite. Elite mengeluarkan bara api yang besar. Lalu bara api itu meledak beberapa kali. Ledakan api itu menyebabkan hampir seluruh area arena pertarungan terbakar. Beberapa puing-puing disana juga terbakar.


"Ada api yang mengarah kesini. Bahaya aku harus melindungi diriku. Sayap Phoenix! " Emeli. Emeli melindungi diri dari serangan Elite yang menuju kearahnya. Tetapi, betapa terkejutnya Emeli. Saat api milik Elite menyentuh tubuh Emeli. Beberapa luka Emeli perlahan lahan menghilang.


"Apa? Lukaku sembuh? " Emeli


Meskipun serangan Elite menyembuhkan luka Emeli tetapi. Api Elite justru membakar Ayah Fedrik. Api Elite seperti memiliki pikiran sendiri. Api Elite menyembuhkan teman temannya, sekaligus membakar tubuh musuhnya.


"Tiga napas Phoenix! " Elite. Elite mengeluarkan api yang besar dari mulutnya. Api yang dikeluarkan oleh Elite terbagi menjadi tiga bagian. Tetapi, walaupun apinya terbagi menjadi tiga bagian. Ukuran dan suhunya tetap sama. Api itu menghantam tubuh Ayah Fedrik. Ayah Fedrik terdorong kebelakang.


"BOCAH SIALAN! CAKARAN BERUANG API! " Ayah Fedrik. Ayah Fedrik mengeluarkan api berbentuk seperti cakaran hewan buas dalam jumlah yang besar. Bukan hanya jumlahnya saja yang menjadi besar. Tetapi, ukuran, suhu, kecepatan, semuanya menjadi bertambah. Elite tidak menghindari serangan itu. Elite menerima serangan bertubi-tubi itu.

__ADS_1


"Elite. Ayo cepat cari Thunder. Thunder... dimana kau? " Emeli. Emeli berusaha dengan keras menghancurkan bagian bagian dari puing-puing arena.


"Cepatlah temukan Thunder Emeli. Aku tidak akan bertahan lama lagi! " Elite. Elite terus bertahan demi Emeli.


"PUKULAN BERUANG BERTUBI-TUBI! " Ayah Fedrik. Ayah Fedrik terus mengeluarkan serangan secara bertubi-tubi. Elite terus dihujani oleh serangan yang begitu besar. Elite pun terhempas ke puing-puing bangunan. Api di tubuh Elite perlahan lahan mulai meredup.


"Hey bocah! Apa kau sudah kalah. Api di tubuhmu semakin mengecil. Sepertinya kau akan mati disini. " Ayah Fedrik


"Masih belum. Pedang Phoenix! " Elite. Elite mengeluarkan pedang dari api. Pedang itu tajam dan memiliki hawa yang benar-benar panas.


"Ouh... pembentukan senjata Roh rupanya. Aku pikir melawan bocah seperti dirimu tidak perlu mengeluarkan senjata Roh. Kalau begitu, Sarung tangan beruang api! " Ayah Fedrik. Ayah Fedrik mengeluarkan senjata Roh nya. Ayah Fedrik mengeluarkan sarung tangan berapi. Sarung tangannya memiliki kuku yang besar. Seperti kuku beruang.

__ADS_1


"Kali ini. kau akan bertahan samapai kapan? " Ayah Fedrik


__ADS_2