
"Kali ini kau akan bertahan sampai kapan bocah? " Ayah Fedrik
"Lihat saja! TEBASAN BARA API! " Elite
Pedang Elite mengeluarkan api yang mengarah kepada Ayah Fedrik. Tetapi kali ini Ayah Fedrik lebih gesit dari yang sebelumnya.
Ayah Fedrik melewati serangan Elite dengan begitu mudahnya. Lalu, Ayah Fedrik memperpendek jarak kepada Elite. Ayah Fedrik langsung memukul perut Elite dengan kuat. Karena Ayah Fedrik semakin cepat, jadi Elite tidak bisa menghindari serangan fisik dari Ayah Fedrik
"Kenapa bocah? Apa kau sudah kelelahan? Bahkan aku belum menggunakan kekuatan sihir ku lagi lo. " Ayah Fedrik dengan penuh rasa bangga
"Aku belum kalah. SAYATAN API PHOENIX! " Elite
Elite meluncur dengan cepat menuju Ayah Fedrik. Elite bermaksud menebas perut dari Ayah Fedrik, tetapi serangannya digagalkan dengan tentengan ke dada Elite. Elite terpental oleh Ayah Fedrik.
"Kau jadi semakin lemah bocah. Kalau begitu kita akhiri saja pertempurannya sampai disini. " Ayah Fedrik
"Kau pikir serangan ku gagal! Jangan meremehkan lawanmu! " Elite
Dada Ayah Fedrik tersayat oleh Elite. Dada nya yang terluka tiba-tiba mengeluarkan api.
"Ahhh... Aku tidak akan kalah oleh api ini. Akan ku netral kan dengan api milikku! " Ayah Fedrik
__ADS_1
Ayah Fedrik lalu mengeluarkan api disekeliling tubuhnya. Secara perlahan, api murni milik Elite pun mulai tercampur dengan api milik Ayah Fedrik.
"Haaah.. hah.. hah... Beraninya kau. PUKULAN BERUANG KEKUATAN MAKSIMAL! " Ayah Fedrik
Ayah Fedrik memusatkan seluruh kekuatan apinya ditangan kanannya. Ayah Fedrik bermaksud membunuh Elite dengan pukulan penuhnya itu. Ayah Fedrik pun memukul perut Elite dengan kekuatan yang besar. Ledakan lagi lagi terjadi disana. Tetapi, ledakkan kali ini sangat besar. Bahkan beberapa puing-puing disana pun terhempas oleh udara panas yang ditimbulkan Ayah Fedrik.
"Matilah kau! " Ayah Fedrik
"Ma-masih belum... A-ku... sudah... berjanji... pa-da... Thun-der... agar tetap hidup bersa-manya.... Ja-di... a... ku... ti-dak... akan... ma-ti... disini. " Elite dengan keadaan yang setengah sadar.
"Brengsek kau! Matilah sana! Kenapa kau susah mati hah? Mati! Mati! Mati! Mati! Mati! Maaaatiii! " Ayah Fedrik sambil memukuli Elite secara terus menerus. Dengan bara api ditangannya, Ayah Fedrik terus menerus memukuli Elite.
"Hah... hah... hah... Apa kau sudah mati! " Ayah Fedrik
"Thun-.... der! " Elite
"Krr... " Gigi Ayah Fedrik saling bergesekan
"Sialan! Kali ini aku akan membunuhmu. PUKULAN DEWA BERUANG! " Ayah Fedrik
"Perisai Kegelapan! ".......
__ADS_1
Saat Ayah Fedrik memcoba memukul Elite dengan kekuatan penuhnya lagi. Tiba-tiba muncul perisai yang begitu gelap di hadapannya. Saat Ayah Fedrik memukul perisai itu. Api ditangannya langsung lenyap.
" Siapa yang menggangguku!? "Ayah Fedrik
" Maafkan aku karena aku telat membantu kalian. "......
" Itu? " Emeli dengan wajah terkejut
"Kali ini, aku lah lawanmu! " Guru besar
Guru besar tiba-tiba muncul.
"Hah... baiklah! " Ayah Fedrik
"Kegelapan abadi tanpa cahaya. Aku panggil engkau. " Guru besar
Kegelapan muncul di sekitar Guru besar. Kegelapan menutupi seluruh tubuh Guru besar.
"Suasana ini!? Hawa ini?! Udara yang semakin menipis ini!? Ini seperti, saat ada serangan di pondok kami berlima. Ini hawa kematian yang dibawa oleh... Iblis! " Emeli
Semua kegelapan yang ada disekitar Guru besar secara tiba-tiba menghilang. Lalu tubuh Guru besar pun berubah. Menjadi tubuh iblis yang menyeramkan.
__ADS_1