Emergency Bed Tuan Muda Kato

Emergency Bed Tuan Muda Kato
bab 10


__ADS_3

Di suasana gelap dan sunyi, Lolly menajamkan sekali lagi pendengarannya. Dia sangat yakin, kalau seseorang berada di luar sana.


Tidak mungkin jam segini masih tersisa karyawan lain dan Lolly lebih di yakin lagi dengan tugas lemburnya yang ia kerjakan adalah milik karyawan lain.


Jadi… tidak mungkin masih ada pekerja lain. Pun, para penjaga biasanya berkeliling di sekitar gedung pada pukul satu malam dan itu sudah tertulis di dalam peraturan kontrak.


Para official boy dan girl? "Tidak," gumam Lolly dengan wajah penasaran dan juga penuh kewaspadaan.


"Brakk!" Lolly kembali tersentak kaget saat mendengar suara benda keras terjatuh, dan suara itu berasal dari ruangan sang ceo.


Secara spontan, Lolly berdiri sambil meraih sesuatu di dalam laci mejanya.


Sebuah botol kecil yang berisi bubuk cabai, yang selalu ia bawa di dalam tasnya.


Lolly melangkah mendekat ke arah pintu ruangan dengan, sangat hati-hati, agar tidak menimbulkan suara sedikitpun.


Sebelum sampai di daun pintu, Lolly menggapai sesuatu di balik lemari berkas, sebuah payung berwarna hitam pekat kini berada di genggaman Lolly.


"Clek" pintu ruangan terbuka dengan sangat kehati-hatian.


Wanita bermanik biru terang itu mengeluarkan kepala terlebih dahulu dan memeriksa keadaan sekitar lantai enam.


Mata Lolly menyipit dengan alis mengkerut heran, saat melihat pintu ruangan Lion terbuka dan hanya diterangi lampu remang-remang saja.


Wanita itu lalu, mengeluarkan seluruh tubuhnya dari balik pintu dan berjalan pelan menuju ruangan Lion.


"Prang!"


"OH Tuhan!" Pekik Lolly tanpa sadar ketika mendengar suara pecah di dalam sana.


Lolly segera membungkam mulutnya sendiri, sadar sudah mengeluarkan suara pekikan.


Bisa bahaya, apabila orang yang ada di dalam sana mendengarnya. "Dan, orang itu pencuri," monolog Lolly.


Wanita bertubuh mungil itu pun melanjutkan langkahnya, untuk memindai keadaan di dalam ruangan ceo.


_____


"Gelap," bisik Lolly pelan sambil meraba-raba dinding ruangan Lion, untuk mencari sesuatu yang akan memberi cahaya di dalam ruangan itu.


"Argh!" Lolly berteriak tertahan, saat merasa kakinya sakit.


"Cangkir?" Gumam Lolly pelan, saat mendapati pecah cangkir menusuk telapak kakinya.


"Siapa! Siapa di sana!" Seru Lolly dengan suara terdengar cemas.


"Keluarlah!" Tantang Lolly yang merotasi tatapannya ke depan, samping kiri-kanan da juga belakang.


"Jangan berbuat macam-macam disini," sambung Lolly dengan nada berani.


"Keluarlah, pecundang!" Sentak tegas Lolly.


Lolly kini memasang pertahanan untuk melindungi dirinya, apabila seseorang yang berada di ruangan itu menyerangnya.

__ADS_1


Kedua tangannya kini menggenggam kuat payung yang ia bawa tadi, sambil berjalan hati-hati mendekati kamar istirahat ceo.


Tanpa ia sadari, sosok bayangan tinggi menjulang mengawasinya dari belakang dengan sorot mata nyalang.


Sosok pria yang menampilkan wajah merah padam pun dengan kedua matanya yang terlihat merah.


Penampilannya pun terlihat berantakan, dasi yang sudah terlepas dari jeratan lehernya, jas yang teronggok di lantai, terakhir, kemeja putih yang ia kenakan kini terlihat tak berbentuk lagi, seluruh kancing kemeja itu terbuka.


Dapat terlihat jelas tubuh bagian depan Lion yang begitu menggoda.


Lion mengikuti bergerak Lolly dengan langkah yang sangat pelan, seakan-akan kedua telapak kakinya tidak menyentuh lantai.


Sorot mata tajam yang haus akan mangsa itu, terus mengawasi gerak-gerik wanita bertubuh mungil d depannya.


Tiba-tiba, suhu tubuhnya terasa panas dengan sesuatu perasaan menuntut mencuat, yang ingin menguasai akal pikirannya.


Apalagi lagi saat, melihat telapak kaki telanjang Lolly, darahnya terasa berdesir hebat.


Wajah yang terlihat panas dengan dada naik-turun dengan kencangnya,


Seluruh tubuhnya pun terlihat dipenuhi peluh, pikirannya kini hanya tertuju kepada objek mungil di depannya.


"Hey, pecundang. Keluarlah!" Kali ini Lolly menaikkan nada suaranya yang penuh keberanian.


"Kalau tidak, aku akan membuatmu menyesal," lanjutnya.


"KELUARLAH!" teriak Lolly.


Ia pun memutar tubuhnya sedikit demi sedikit ke belakang, dan — betapa terkejutnya dia, saat melihat Lion berada sangat dekat dengan tubuhnya.


Hampir saja Lolly berteriak nyaring, saat sebuah ciuman ganas membungkamnya.


Tatapan Lion kini sudah ditutupi oleh hasrat yang bergejolak dan penuh menuntut untuk lebih dalam lagi melakukannya.


Lion terus membungkam mulut Lolly dengan ciuman panas dan kasar.


Pria berambut cokelat di atas bahu itu, tidak memperdulikan perlawanan Lolly yang berusaha menghindarinya.


Karena sudah muak dengan sikap perlawanan Lolly. Segera saja Lion merangkul tubuh mungil Lolly diatas pundak kekarnya.


Membawanya ke arah ranjang yang ada di ruangan istirahat miliknya.


Dengan kasar, Lion menghembuskan tubuh lemah Lolly di atas ranjang king size itu.


Lion dengan cepat membuka kain yang menutupi seluruh tubuhnya hingga tak tersisa.


Dengan tatapan bagaikan predator yang sedang mengawasi mangsanya, Lion tujukan kepada tubuh mungil wanita di atas ranjangnya.


Kini Lion sudah polos tanpa sisa sehelai kain pun, dia menampilkan senyum miringnya sambil menaiki ranjang.


"J-jangan," ucap Lolly gugup sambil meringsut ke ujung ranjang.


"Saya, mohon jangan lakukan itu kepada saya, tuan. Biarkan, saya pergi," pinta Lolly dengan wajah memohon.

__ADS_1


Lolly terus memundurkan tubuhnya yang gemetar dan sudah mengeluarkan keringat dingin.


Wajahnya kini berubah pias dan memucat, ia mencoba mencari botol kecil di dalam sakunya, tapi… sial. Benda itu terjatuh.


Lolly tidak putus asa, ia mencoba meraih pancangan jam di atas nakas, namun niatnya sia-sia, saat sebuah tangan kekar menarik kedua kakinya.


"Argh! Tidak. Lepaskan saya, tuan," jerit Lolly ketakutan.


Lion hanya bisa menampilkan seringainya yang penuh ejekan kepada sosok mungil yang kini berada di bawah kuasanya.


"Lepaskan! Saya, mohon.. lepaskan saya!" Jerit Lolly sambil mencoba memberontak.


Namun bergeraknya di kunci oleh kedua kaki keras Lion yang menindihnya.


"Please! Mohon Lolly yang matanya kini berkaca-kaca.


Kini posisi mereka sangat dekat tanpa jarak. Lion yang posisinya berada di atas tubuh mungil Lolly dengan satu tangannya menahan kedua tangan Lolly ke atas kepalanya, kuat.


Tubuh bagian bawahnya mengunci perlawanan kaki Lolly yang memberontak.


Wajah keduanya pun begitu sangat dekat, sehingga deru nafas itu saling beradu.


Lolly membuang pandangannya ke samping, saat mencium aroma alkohol dari mulut Lion. Dan tatapan pria itu, terlihat tersiksa.


Lolly baru sadar, kalau tuan muda Kato sedang dalam keadaan mabuk dan dalam pengaruh obat pembangkit hasrat sesuatu.


Namun bukan berarti ia akan pasrah untuk menjadi pelampiasan pria arogan ini. Tidak. Masih banyak cara untuk menghentikan efek obat terlarang tersebut.


Lolly tidak akan pernah ikhlas kehormatannya yang selalu ia jaga direnggut paksa apalagi dengan cara kasar.


"Biarkan, saya pergi, tuan," lirih Lolly yang masih membuang pandangannya.


Terdengar kekehan berat Lion yang membuat tubuh Lolly kembali meremang.


"Kenapa? Bukankah, kau merasa beruntung? Bisa naik dan menjadi penghangat ranjangku malam ini? Aku, berjanji akan memberikanmu kepuasan beda dari pria yang sudah menjadi teman ranjangmu," bisik Lion kejam, yang serat dengan hinaan.


Luruh sudah air mata Lolly dengan dada yang bergejolak amarah. Ia kini membalas tatapan Lion dengan nyalang, wajah merah karena emosi.


"Plak!" Sebuah tamparan sangat keras Lolly berikan kepada pria yang berada di atas tubuhnya.


"Saya bukan, jaaalang," ucap Lolly dingin.


Wajah Lion terlihat suram dengan rahang wajah mengeras, gigi saling bergesekkan sehingga menimbulkan bunyi nyaring.


"Lepas!"


"Tidak! Sebelum, aku menikmatimu," potong Lion dengan intonasi suara berat dan parau.


"Lepaskan. Aku bukan jaalang!" Teriak Lolly.


"LEPASKAN!" Lolly terus memberontak.


Tapi, Lion yang sudah gelap mata antara nafsu dan amarah yang menguasainya.

__ADS_1


__ADS_2