Emergency Bed Tuan Muda Kato

Emergency Bed Tuan Muda Kato
bab 9


__ADS_3

"Menyerahlah, dia bukan terbaik untuk, kamu." Ucapan wanita setengah baya di sampingnya, membuat Lolly menolehkan wajah, dengan mengkerut. karena terpaan cahaya terik matahari juga perkataan wanita, berwajah tegas di sampingnya.


"Entahlah, hati saya masih mengharapkannya," ucap Lolly lirih dengan wajah kembali menatap jejeran gedung tinggi di pusat kota Los Angeles.


"Dia, terlalu sering melukaimu, nak." Wanita dengan tubuh tinggi itu berubah posisinya menghadap Lolly. meraih lengan wanita bertubuh mungil itu, untuk bersitatap dengannya.


Sorot mata teduh, garis wajah menawan masih terlihat di wajah wanita di depan Lolly, meskipun usianya terbilang memasuki setengah abad.


"Akan ada waktunya, bagi saya untuk menyerah, nyonya," sahut Lolly dengan wajah pasrah.


"Kamu masih muda nak, masih banyak pria yang menginginkanmu menjadi kekasih." Tutur wanita itu dengan sorotan mata teduh dan wajah penuh sesal.


Lolly melayangkan senyum lembutnya dan meraih telapak tangan hangat wanita di depannya. Menggenggam dengan menampilkan wajah baik-baik saja.


"Saya, masih bisa bertahan, nyonya." Ucapnya lembut.


"Kamu, wanita hebat nak. Terimakasih, atas perbuatanmu di masa lalu, anakku Lion selamat dari jerat wanita licik itu," ucap wanita tersebut yang merupakan nyonya Kimberly, ibu dari Lion.


"Saya, hanya menyelamatkan apa yang hati saya, inginkan," Tutur Lolly dengan raut wajah teduh.


"Terimakasih!" Ucap Kim sekali lagi.


"Maafkan, atas segala sikapnya. Saya, selaku mommy dari seorang anak yang sudah membuatmu menderita, memohon maaf." Wajah Kim kini berubah kesedihan sembari mengatupkan kedua tangannya di depan dada, memohon maaf atas apa yang diperbuat anak laki-lakinya, Lion light Kato.


"Tidak, nyonya. Anda tidak berhak melakukan ini kepadaku. Saya, yang seharusnya berterima kasih atas bantuan anda, karena sudah menjaga ibu juga kedua adikku." Lolly menurunkan tangan Kim yang terkatup di depan dadanya, kembali menggenggam dengan memberikan senyuman terbaiknya.


"Saya, hanya melakukan apa yang sudah menjadi hak kamu, nak," sahut Kim.


"Hm!" Gumam Lolly.


Kedua wanita berbeda generasi itu kembali menghadapkan pandangan mereka lurus ke depan.


Kembali menatap pemandangan gedung-gedung tinggi melalui rooftop perusahaan agensi light Hugo.


Semilir angin hangat menerpa wajah keduanya, membuat wajah mereka berubah merah.


Rambut mereka terombang-ambing dengan sapuan angin yang lumayan berhembus kencang.


Kim melindungi pandangan matanya dengan kacamata hitam yang terbingkai di sekitar area mata.


Rambutnya yang panjang terurai di biarkan di sapu oleh hembusan angin yang terkadang menutup sebagian wajah.


Sedangkan Lolly terlihat mengkerutkan wajah dengan pandangan merotasi keadaan kota Los Angeles.


Mata menyipit, alis juga dahinya mengkerut, raut wajahnya merah dan rambut yang tak jauh bedanya dengan Kim.


Kedua wanita beda usia itu, terdiam sejenak dengan isi pikiran masing-masing.


Hanya helaan nafas dan hembusan angin yang terdengar, untuk mengisi suasana hening di sana.


Lolly terdengar berdehem, setelah menghembuskan nafas panjangnya.

__ADS_1


Ia menolehkan wajah sekilas dan kembali menatap lurus ke depan.


"Apa, anda sudah menemukan keberadaannya?" Lolly bertanya untuk menghapus suasana sunyi.


"Belum!" Ujar Kim dengan menggelengkan kepalanya.


"Dia, terlalu pintar dan licik," lanjut Kim.


"Wanita itu, tidak sendiri. Dia bersama dengan kedua orang tuanya," terang Kim dengan hembusan nafas panjang.


"Mereka musuh, anda?" Sela Lolly dengan pertanyaan.


"Maybe," jawab Kim singkat.


"Jangan khawatir, keadaan akan selalu baik apabila kita mengikuti permainannya," timpal Lolly dengan wajah tenang.


"Hm! Kamu benar," sahut Kim setuju dengan pemikiran wanita bertubuh mungil di sampingnya.


"Mereka, pasti akan muncul dengan rencana lain," monolog Lolly.


"Kita, harus menyiapkan diri, saat mereka muncul," terang Kim.


Lolly hanya menganggukkan kepala dan menampilkan wajah misterius yang tidak pernah ia perlihatkan kepada orang lain selain seorang Kim.


_______


Jarum jam sudah menunjukkan angka 5. Dan, tumpukan berkas di hadapan wanita itu masih terlihat meninggi.


"OH Tuhan!" Seru nya frustasi.


Lolly meremas lembut puncak rambutnya dan mengacak-acak frustasi. Betapa, hukuman yang ia terima ini sungguh menyiksanya.


Lembur, yah pastinya ia akan lembur hingga malam datang.


Entah itu awal atau akhir malam akan berakhir semua tumbukan berkas di atas mejanya.


"Menyebalkan. Ini bukanlah tugas yang harus saya kerjakan," geram Lolly, ketika mendapatkan beberapa berkas yang menurutnya bukan haknya.


"Dasar pria arogan menyebalkan," ketus Lolly dengan bibir bersungut-sungut tajam.


Lolly berdiri dari duduknya, dan melakukan gerakan mondar-mandir dengan kedua tangan diletakkan di kedua sisi pinggang.


"Argh!" Teriaknya dengan nada stres.


Wanita berwajah lelah dan frustasi itu, meraup kasar wajahnya juga, menendangkan kakinya ke udara karena rasa kesal.


"Argh! Aku, sungguh membencimu tuan muda, kato!" Pekik Lolly frustasi.


Kembali menghempaskan tubuh mungilnya di atas kursi kerja miliknya, ia beberapa kali menarik ulur nafasnya, agar moodnya kembali membaik. Dan, itu berhasil, Lolly berhasil mengembalikan moodnya, lantas melanjutkan pekerjaannya untuk memeriksa tumpukan berkas di atas meja.


"Baiklah. mari Lolly, kita selesaikan ini semua," gumam Lolly dengan tangan terkepal di atas angin.

__ADS_1


Wanita itu lalu mulai mengambil beberapa berkas dan memeriksanya dengan sedetail mungkin.


Jangan sampai ada kesalahan sedikitpun yang, akan menjadi bumerang untuk tuan muda Kato kembali menindasnya.


Tidak. Lolly kali ini harus menghapus segala kesalahan sedikitpun untuk bisa mengurangi hukumnya.


_____


Lolly dengan wajah serius terus melakukan tugas yang diberikan oleh Lion, tanpa ia sadari, suasana di luar sana sudah sepi dan langit kembali berubah warna menjadi gelap.


Lolly bekerja hanya diterangi oleh cahaya lampu baca yang terdapat di mejanya. Sedangkan suasana ruangan terlihat remang-remang.


Ia tidak memperdulikan jarum jam yang sudah menunjukkan angka 10 malam.


Dan tumpukan berkas masih tersisa beberapa lagi, dan perutnya hanya diisi oleh segelas coklat hangat.


Di tengah kesibukannya, Lolly dikejutkan dengan deringan ponsel miliknya.


Ia melirik sebentar benda pipih itu dan segera menyambarnya, saat melihat nama si penelpon.


"Halo!" Seru Lolly menempelkan ponselnya di telinga dengan pundaknya menjadi penahan ponselnya.


Lolly terus berbicara dengan kedua tangan masih sibuk menyelesaikan beberapa berkas lagi.


"Tidak, Luzi. Kakak masih menyelesaikan pekerjaan," ujar Lolly kepada sang penelepon di seberang sana.


" …


"Iya, kakak sedang lembur," ucapnya dengan tangannya kini menahan ponsel tersebut dan tangan sebelah memijat pelipisnya.


" …


"Hm! Kakak, akan segera kembali,"


" …


"Hm. Selamat malam juga."


"Tut."


Lolly meletakkan ponselnya dan bernapas sangat berat, kembali Lolly mengusap wajahnya kasar sambil memperhatikan suasana di luar gedung tampak terlihat gelap.


"Sedikit lagi, Lolly," gumamnya lirih, penglihatannya kini menghitung berapa berkas lagi. Terlihat berkas di atas meja itu, tersisa 4 lagi.


Lolly kemudian melanjutkannya dengan wajah lelah, ia harus segera menyelesaikannya, karena sang ibu sekarang ini, sedang menanyakan keberadaannya.


Namun saat Lolly membuka berkas tersebut, sesuatu membuat Lolly terkejut. Terpaksa Lolly menghentikan niatnya dan bermaksud memeriksa keributan di luar sana.


Lolly mendengar suara pintu ruangan di buka dan juga sesuatu di buka paksa di ruangan CEO.


"Apakah itu, pencuri?"

__ADS_1


__ADS_2