Emergency Bed Tuan Muda Kato

Emergency Bed Tuan Muda Kato
bab 31


__ADS_3

Masih terlihat ketegangan di kamar pasien VVIP tersebut. Lion masih terdiam dengan tubuh menegang. Ia kebingungan, harus melakukan apa.


Ketika, menyadari wanita yang ia hindari sudah berada tepat, di belakangnya. Lion hanya bisa terdiam dengan tubuh membeku.


"Keluarlah!" Seruan dingin dari arah belakang, membuat Lion mengernyit bingung.


Pria itu segera membalikkan badannya dan ia bisa melihat ekspresi wajah wanita di hadapannya yang, menampilkan wajah datar.


"Kalau anda tidak memiliki keperluan penting, silahkan keluar," usir wanita itu dengan intonasi suara dingin dan wajah terlihat datar.


Jauh berbeda apa yang ada di pikiran Lion. Pria itu mengira, Lolly akan memasang wajah ketakutan dan setelahnya ia akan histeris. Namun — apa yang ia lihat ini. Wanita itu, hanya menampilkan wajah datar tanpa ada rasa takut.


"Silahkan keluar!" Seru Lolly lagi dengan raut wajah biasa dan nada suara yang dibuat setenang mungkin.


Tuan muda Kato masih menelisik setiap inci raut wajah wanita di depannya, Lion baru tersadar, kalau, Lolly berusaha mengendalikan dirinya. Lion dapat, melihat dengan jelas, kepalan kedua tangan Lolly yang berusaha menahan sesuatu, juga tubuh wanita itu samar-samar bergetar.


Lion pun mencoba membuktikan keberanian Lolly dengan berlama-lama di dalam sana dan mencoba berinteraksi.


"Apa, kamu baik-baik saja?" Tanya Lion kini mulai melangkah mendekati Lolly.


Lolly masih terlihat tenang dengan raut wajah datarnya, wanita itu juga masih terlihat tenang, saat Lion kini berada sangat dekat dengannya.


Pria itu mengerutkan keningnya ke atas melihat wajah tenang Lolly.


"Kamu, tidak membutuhkan sesuatu?" Tanya Lion lagi yang semakin dekat dengan Lolly.


"Tidak!" Sahut Lolly datar.


"Benarkah?" Ujar pria itu, yang mencoba merapikan rambut kecoklatan Lolly.


Wanita itu mengelak saat telapak tangan Lion berada dekat dengan wajahnya. Lolly memalingkan wajah ke arah samping dengan kedua tangan di depan dada.

__ADS_1


"Keluarlah!" Perintah Lolly sekali lagi.


"Tidak! Saya, akan tetap di sini," tolak Lion mencoba menantang Lolly.


"Saya baik-baik saja, dan… tidak membutuhkan bantuan dari, anda," selorohnya tajam.


Lion tetap tidak bergeming sedikitpun dari tempatnya, ia bahkan menantang wanita di depannya dengan tatapan tajam.


"Tapi, saya sudah berjanji akan menjaga kamu. Dan … sekarang, kamu adalah tanggung jawab saya," sahut Lion tidak acuh.


Lolly semakin menajamkan tatapannya kepada Lion yang menatapnya tajam.


"Maaf! Saya rasa, tidak membutuhkan semua yang anda ucapkan," pungkas Lolly dingin.


"Tapi, maaf! Saya juga akan tetap di sini," kekeh Lion, menolak perintah Lolly untuk keluar dari kamar pasien.


Lolly yang mendengar perkataan Lion, hanya bisa memperlihatkan raut wajah marahnya dengan mata yang sudah merah oleh menahan sesuatu yang akan meledak.


Namun, sekuat tenaga Lolly mencoba menahan segala emosi yang menjadi satu terkumpul di dalam rongga dadanya.


Lolly sendiri memasuki kamar mandi. Kini ia menggenggam kuat ujung wastafel dengan seluruh tubuh gemetar hebat.


Keringat dingin pun mulai membanjiri tubuhnya. Ternyata tidak semudah itu untuk bersikap tenang di hadapan seorang pria yang merupakan pelaku dari hancurnya kehormatan dirinya.


Lolly menatap pantulan dirinya di cermin, ia dapat melihat wajahnya yang kini di banjiri air mata ketakutan dan juga keringat dingin.


Wajahnya pun yang tadinya terlihat merah, kini, berubah pucat pasi.


"Aku pasti bisa. Yah — aku pasti bisa menghadapinya," gumam Lolly dengan suara parau yang terbata.


"Ayo! Kamu pasti bisa," ucap Lolly kepada dirinya sendiri. Ia menghapus air matanya dan memperlihatkan wajah marah tertahan.

__ADS_1


"Aku bisa. Aku pasti bisa," gumamnya dengan wajah sangat yakin.


Lolly merapikan penampilannya dan juga riasan tipis di wajah. Ia menarik nafas dalam-dalam sesaat, lalu membuangnya secara perlahan.


Setelah yakin bisa berhadapan dengan Lion. Lolly membuka pintu kamar mandi dan keluar. Memasang wajah datar dan terlihat tenang.


Lion yang berada di sofa, terus memandangi gerak-gerik Lolly. Ia juga memperhatikan raut berubah wajah wanita itu.


"Baguslah, kalau dia sudah baik-baik saja," monolognya dalam hati.


"Kamu, membutuhkan bantuan?" Tawar Lion, saat Lolly kesusahan membuka penutup botol air mineral yang berada di tangan lembabnya.


"Tidak perlu!" Tolak Lolly ketus, sembari menaruh kembali botol tersebut dan segera membaringkan tubuhnya.


Lion terlihat, tersenyum tipis. Ia pun kembali terdiam tapi, masih tetap mengawasi Lolly.


"Bisakah, anda keluar tuan," sentak Lolly tiba-tiba, melenyapkan kesunyian di dalam kamar.


"Tidak!" Sahut Lion tidak acuh.


"Saya tidak bisa beristirahat," timpal Lolly kesal.


"Kamu, hanya tinggal menutup mata," jawab pria itu enteng.


Lolly membuang nafas jengahnya, ia pun mencoba mengabaikan keberadaan Lion. Pria brengsek yang sudah menghancurkan hidupnya.


Namun rasa was-was itu masih menghantui pikirannya dan itu membuatnya merasa gelisah dan tidak dapat menutup mata.


Lolly mencoba berusaha mengabaikan keberadaan pria tersebut, dengan membaca novel kesukaannya.


Dan, itu sukses membuat Lolly melupakan kehadiran Lion di dalam kamar.

__ADS_1


Lolly mencoba menghayati isi cerita dalam novel tersebut, agar tidak mengalihkan perhatiannya kepada sosok pria di sana. Yang terus memperhatikannya.


"Dasar menyebalkan," sungutnya kesal.


__ADS_2