Emergency Bed Tuan Muda Kato

Emergency Bed Tuan Muda Kato
bab 32


__ADS_3

Suara pintu kamar yang ditempati Lolly terbuka tanpa, mengetuk atau permisi terlebih dahulu oleh — sosok pria yang masuk dengan wajah kesalnya.


Lion yang masih menjaga Lolly menolehkan wajahnya, lalu mencebikkan bibirnya.


"Apa, tanganmu tidak bisa digunakan untuk mengetuk pintu? Atau kau sudah bisu sehingga tidak bisa mengucapkan, permisi." Lion menatap tajam sepupunya dan memberi peringatan.


Pria tampan dengan berpenampilan rapi itu, hanya cuek sambil menghempaskan tubuh tingginya di samping Lion.


"Ini!" Sela pria dengan kacamata bening terbingkai di wajahnya sambil menyerahkan sebuah kunci rumah.


"Ini apa?" Tanya Lion dengan hidung mengkerut. Ia mengambil kunci yang diserahkan Nicko dan menelisiknya. Pria itu, merasa aneh dengan kunci yang ada di tangannya.


"Kunci neraka," ketus Nicko sambil mencebikkan bibirnya yang seksi.


Hidung dan kening Lion semakin mengkerut, mendengar ucapan ketus sepupunya itu.


"Berhentilah, bertingkah bodoh, dude. Baru seminggu kau, menjadi orang miskin, tingkahmu sangat idiot," cibirnya sinis.


"Apa yang kau katakan, sialan," protes Lion tidak terima apa yang dikatakan Nicko.


Wajah Nicko semakin sinis kepada sepupunya itu dengan bibir pun semakin mencibik tajam.


"Bukankah, kau menginginkan rumah sewaan? Dan, ini kuncinya," jelasnya dengan wajah kesal.


"Apa, kau tahu! Aku, membutuhkan 24 jam mencari rumah yang sesuai denganmu. Sehingga aku harus membayar dua kali lipat," ungkap pria bermata biru tersebut dengan wajah menahan kesalnya.


Lion melemparkan kembali kunci tersebut kepada Nicko dengan wajah cuek.


"Aku tidak membutuhkannya, ambillah," timpal Lion dengan wajah tidak acuh.


Membuat si pria di sampingnya melebarkan kedua kelopak matanya, wajah melongo tidak percaya.


"Apa kamu sedang bercanda, bro," ujarnya tidak percaya.


"Saya serius," sahut Lion tidak acuh.


"Apa kamu sudah gila!" Pekik pria berkacamata tersebut, yang kini berdiri dan menatap pria di sampingnya yang sedang menguji tingkat kesabaran.


Sedang tuan muda Kato hanya sibuk memperhatikan Lolly yang terlihat gelisah. Mungkin, "wanita itu terganggu dengan suara keributan pria berkacamata ini." Pikir Lion.


"Bisakah, kau berhenti mengoceh. Kau mengganggunya," erang Lion tertahan dan mengarahkan tatapan matanya ke arah ranjang pasien.


Nicko masih berdiri menjulang dengan kedua tangannya di pinggang. Memasang wajah berang seakan ingin memakan sesuatu.


Pria itu mengikuti arah pandangan Lion, dan ia baru sadar, kalau seorang wanita cantik yang sangat ia kenali sedang terlelap.


Ia pun masih mengucapkan perkataan protes kepada sepupu tidak tahu diri itu. Menurunnya pria berkelopak mata sipit ini sangat keterlaluan dan seenaknya saja. " Sudah miskin, bertingkah layaknya tuan muda, cih," decaknya dalam hati.


"Aku, membutuhkan uang," Seloroh Lion dengan lempengnya. Membuat Nicko kembali menganga.

__ADS_1


"What?" Sentaknya setengah berteriak.


"Hust! Pelankan suaramu, bodoh," tegur Lion dengan nada emosi tertahan.


"Hey! Bedebah. Apa, kamu pikir aku sebuah brankas berjalanmu? Sehingga kau bertingkah minta ini, itu, kepadaku. Asal, kau tahu dude, kalau, mommy dan daddy telah membekukan segala sumber uangku. Apa, kau tahu karena apa? Tanyanya dengan wajah jengah. "Itu, karena mu sialan. Yang selalu membuatku dalam masalah. Dan — sekarang kau, menginginkan uang? Ucapnya sambil meraih dompet mahalnya yang terlihat tebal. "Lihatlah, dia, hanya terisi segini," ujarnya sambil memperlihatkan isi dompetnya kepada pria di sampingnya. "Beruntung, aku memiliki adik cantik dan baik hati, yang bisa ak —" dan celotehan pria berkacamata itu pun terhenti, saat, Lion dengan cueknya, merebut semua uang yang ada di dalam dompet sepupunya itu.


"Thanks," ucapnya sambil tersenyum miring dan mengedipkan mata.


Nicko hanya bisa menganga sambil memandangi dompet di tangannya dan Lion secara bergantian.


"Apa, aku baru saja di peras dan di tipu?" Gumamnya pelan.


"Sial!" Umpatnya kesal. Nicko ingin melayangkan protes kembali, tapi … tiba-tiba pintu kamar pasien tersebut terbuka.


"Selamat pagi, tuan-tuan," sapa seorang perawat wanita berwajah cantik dan bertubuh indah.


Nicko yang semula wajahnya terlihat kesal, kini, tampak terlihat berbinar takjub.


Ia segera merapikan penampilannya dan memperlihatkan senyum tampan pria itu dan membalas sapaan sang perawat.


"Selamat pagi juga, nona cantik! Ada yang bisa kami, bantu?" Tanya ramah dengan senyum menawan terpatri di wajahnya yang tampan.


Lion menaikan alis heran mendengar penuturan sepupunya itu. Begitu pula dengan perawat wanita itu, yang hanya melirik Nicko aneh.


Lion menyikut dada sepupunya itu dan membisikkan sesuatu. "Apa kau seorang salesman? Dan, kau berpikir kita berada di sebuah pusat perbelanjaan?" Bisik Lion sinis.


Nicko hanya menampilkan senyum lebarnya tanpa memperdulikan sungutan sang sepupu.


"Cih! Dasar kadal," sungut Lion.


Nicko mengabaikan cibiran Lion. Ia mendekat ke arah ranjang, dimana Lolly sudah terbangun dan mendapatkan pemeriksaan rutin.


"Hay, Lolly love," tegur Nicko kepada Lolly.


Wanita yang ditegur pun menoleh dan membalas senyuman pria tampan berkacamata di samping kirinya.


"Hai, juga tuan Nicko," sahut Lolly dengan senyum lebar.


"Kau, sudah mengenalku?" Tanya Nicko heboh.


Lolly mengerutkan keningnya heran dengan pertanyaan Nicko.


"Kau selalu diam saja dan tidak pernah merespon sedikitpun perkataan ku beberapa hari yang lalu," jelasnya dengan bibir cemberut.


"Benarkah!" Sentak Lolly tidak percaya.


"Hm!" Gumam pria tersebut.


"Maafkan, aku tuan. Kalau sikapku beberapa hari ini kurang sopan," ucap Lolly penuh sesal.

__ADS_1


"Tidak apa! Yang penting, sekarang kau sudah pulih," timpal pria tampan itu.


Lolly hanya memberikan senyum manis kepada pria itu, dan tanpa sengaja, tatapan matanya bertemu dengan tatapan tajam Lion yang — kini berdiri tidak jauh darinya.


Segera saja Lolly menghilangkan senyum manis di wajah imutnya dan membuang pandangannya ke arah sang perawat.


Lion masih menatap tajam ke depan. Di mana Lolly dan sepupunya berinteraksi dengan begitu akrab nya. Sedangkan dengan dirinya, wanita itu akan menampilkan wajah datar dan sikap dingin.


Tanpa persetujuan Lolly, Lion mendekatinya dan menanyakan keadaannya kepada sang perawat yang sejak tadi tersipu malu, akan gombalan maut seorang Nicko.


"Bagaimana dengan kondisinya, sekarang?" Tanya Lion mengacuhkan tatapan tidak suka Lolly.


Perawat yang ditanya itu pun menerangkan kondisi Lolly sekarang ini, yang sudah membaik, dan untuk perkembangan kejiwaannya, sang perawat menunggu keterangan dari dokter spesialis khusus untuk kesembuhan Lolly.


"Baik. Terima Kasih!" Ucap Lion ramah.


"Wow! Kau seperti seorang suami yang siaga dan pengertian, dude," ejek Nicko usil.


Lolly yang mendengar ejekan Nicko, merasa tidak terima. Ia segera kembali ingin merebahkan tubuh mungilnya di ranjang. Tapi, pria bermata sipit itu mencegahnya.


"Sarapanlah, terlebih dulu," sela Lion sambil meraih wadah sarapan khusus pasien VVIP.


Lolly hanya menampilkan wajah datarnya dan tidak menghiraukan perkataan Lion.


"Makanlah!" Pinta Lion mencoba untuk bersabar, saat Lolly mengabaikannya.


"Tidak!" Tolak Lolly dingin.


"Bangun dan makanlah," ulang Lion yang kini mengenggam kuat wadah tersebut.


Nicko yang berada di situasi yang tidak baik itu pun mencoba menjauh, namun Lolly menahan pergelangan tangannya.


"Keluarlah, aku bisa memakannya nanti," jawab Lolly datar.


Rahang wajah Lion pun mengeras dan ia semakin mendekati Lolly yang kini memunggunginya.


"Bangun!" Sentak Lion dengan erangan tertahan.


Lolly yang merasa Lion terlalu dekat dengannya, segera menoleh dan betapa terkejutnya dia, saat, Lion sudah sangat dekat dengannya.


"M-menjauhlah!" Gugupnya dengan wajah mulai ketakutan.


"Bangun dan makan sarapan mu, kalau… tidak, aku akan memaksamu," bisik Lion dengan ancaman yang berhasil, membuat Lolly terbangun dan menyentakkan kasar wadah sarapan khusus dirinya.


"Good girl!" Bisiknya lagi dan mencoba menyentuh puncak kepala Lolly, tapi… wanita itu segera menghindar.


Nicko hanya bisa menjadi objek penyimak, antara adegan pemaksaan di depannya.


"Dia tetap tidak berubah sedikitpun," gumam Nicko dalam hati.

__ADS_1


Sementara perawat yang berada di dalam kamar tadi, sudah berpamitan keluar dari kamar rawat Lolly, setelah menyelesaikan tugasnya.


__ADS_2