Emergency Bed Tuan Muda Kato

Emergency Bed Tuan Muda Kato
bab 30


__ADS_3

"Apa, kamu sedang bercanda, Luzi!? Gadis yang berjalan di koridor rumah sakit terpekik sambil menghentikan langkahnya.


Gadis mungil berwajah imut di sebelahnya pun, ikut menghentikan langkahnya yang masih memperlihatkan wajah bahagia.


Orang-orang yang berpapasan dengan mereka, melirik keheranan saat mendengar pekikan Liza yang lumayan nyaring.


"Really? Kamu, ingin dia tinggal di rumah kita?" Tanyanya dengan wajah tidak percaya.


Gadis yang menjadi objek kekesalan gadis itu, hanya mengangguk yakin dengan senyum manis terus terpatri di wajah imutnya.


"OH Tuhan!" Erang Liza sambil berkacak pinggang dan menghembuskan nafas frustasi, melihat kekonyolan sang adik.


"Why?" Tanyanya geram.


Luzi tidak menjawab pertanyaan sang kakak, namun — gadis itu memperlihatkan lembaran dollar di tangannya.


"Bukankah, keberuntungan saat ini berpihak kepada kita?" Sahut gadis yang memiliki senyum manis itu, dengan ekspresi wajah riang


Liza memutar bola matanya jengah. Ia pun mengatakan sesuatu yang membuat sang adik berpikir.


"Bagaimana dengan kakak!" Sela Liza yang menatap lekat berubah ekspresi wajah sang adik.


Luzi berpikir sejenak, dan kemudian memamerkan kembali senyumannya.


"Ada apa?" Tanyanya Liza heran saat melihat senyum aneh sang adik.


"Tenang! Serahkan semuanya kepada ku," jawabnya cuek.


"Tapi, dia pria yang menyebabkan kakak seperti ini, sayang," Seloroh Liza dengan wajah frustasi.


"Bukankah, obat kesembuhan kakak adalah tuan muda Kato?" Sahut Luzi sekenanya.


"Apa maksud kamu, Luzi," Sentak Liza tidak percaya akan sahut adik kecilnya.


"Kita harus membiasakan kakak bertemu dengan tuan muda Kato, agar kakak bisa melawan rasa ketakutannya," jelasnya dengan wajah yakin.


"Apa, mungkin bisa seperti itu?" Jawab Liza ragu.

__ADS_1


"Bisa, kalau terbiasa."ucap gadis bersurai panjang itu. Gadis itu lantas berlalu, mendahului sang kakak sambil menampilkan wajah bahagia.


Gadis itu juga berjalan dengan hati riang sambil bernyanyi lirih, tidak memperdulikan lirikan heran para perawat yang sudah mengenal keduanya.


Liza masih bergeming di tempatnya. Memikirkan perkataan sang adik, ia menimang dengan serius perkataan adiknya itu. Ia merasa, kalau apa yang dipikirkan oleh Luzi ada benarnya.


Gadis bermata biru itu pun tersadar dari lamunannya dan menyadari sang adik sudah menghilang dari sisinya.


"Luzi!" Teriaknya nyaring, berjalan setengah berlari menyusul sang adik.


________________


Sementara di kamar VVIP rumah sakit.


Lolly tampak terlihat segar saat keluar dari kamar mandi. Ia masih mengenakan baju mandinya, berjalan ke arah lemari lumayan besar yang ada di kamar pasien itu.


Wanita yang memiliki tatapan teduh itu, membuka lemari tersebut dan meraih dress polos selutut pun, sepasang dalam wanita berwarna hitam.


Sadar atau Lolly lupa ada dimana, wanita itu lantas membuka handuk mandinya yang ia pakai, tepat di depan lemari.


Dengan penuh hati-hati, wanita itu memakai satu persatu kain yang akan menutupi tubuh polosnya sekarang.


Kini Lolly sedang menyisir rambutnya yang panjang, merias tipis wajahnya, agar terlihat fresh agar tidak terlihat menyedihkan.


Setelahnya, Lolly berjalan ke arah pintu balkon dengan sebuah buku di tangannya. Ia, ingin mencoba mengalihkan rasa depresinya dengan membaca buku. Agar tidak terlalu tertekan oleh peristiwa memilukan yang ia alami satu Minggu yang lalu.


Lolly menghirup udara di pagi hari dengan wajah tenang sambil memejamkan matanya.


Ia membiarkan cahaya jingga pagi menerpa wajahnya yang sudah terlihat cerah kembali.


"Aku, harus bangkit. Aku tidak ingin terus seperti ini, terlihat menyedihkan. Aku, harus kuat demi kedua kesayangan ku dan juga ibu." Wanita itu masih memejamkan mata dan bermonolog lirih.


Lolly membuka mata indahnya disertai senyum indah menawan, yang akan mengawali hidupnya bangkit setelah kehancuran.


Tanpa, wanita itu sadari, sejak tadi dua mata tajam terus mengawasi gerak-geriknya.


Pria itu yang bermaksud memeriksa keberadaan Lolly yang tidak ia temukan berada di atas ranjang, merasa khawatir dan mencari keberadaan wanita tersebut.

__ADS_1


Pria dengan wajah tampan itu, pun, menghentikan pergerakannya saat mendengar pintu kamar mandi akan terbuka. Segera, pria bertubuh tinggi kekar itu bersembunyi di sela dinding antara ruangan pasien dan dapur minimalis yang tersedia di kamar VVIP rumah sakit tersebut.


Bola matanya terbelalak, saat menangkap pemandangan yang membuatnya berkali-kali menelan ludahnya sendiri.


Tiba-tiba saja dadanya berdegup kencang dan suhu tubuhnya mendadak mendidih yang menghasilkan panas menyiksa dalam dirinya.


Lion memaki dirinya sendiri, kenapa ia harus menyaksikan pemandangan indah di hadapannya.


Ia pun hanya bisa menempelkan kepalanya di dinding dengan deru nafas frustasi.


Sebuah hasrat laknat menggerogoti dirinya sekarang, yang membuatnya tersiksa.


"Sial!" Umpatnya dalam hati.


Lion pun mencoba mengintip, saat mendengar langkah hati-hati berjalan ke arah pintu balkon.


Pria itu terkesan akan penampilan Lolly yang begitu menggemaskan menurutnya.


Tubuh mungil wanita itu dibalut oleh dress polos sederhana yang memiliki panjang selutut dan berkerah Sabrina, memperlihatkan leher jenjang wanita itu dan juga pundak putih indahnya.


Lagi-lagi, Lion menelan ludahnya kasar dan mengumpat frustasi. Ia terus, mengawasi pergerakan Lolly.


Pria itu lantas keluar dari persembunyiannya, saat mendengar lirihan wanita itu yang ingin sembuh dari masa traumanya.


Lion berjalan penuh hati-hati menuju pintu kamar itu, ia berusaha tidak menimbulkan suara, agar wanita cantik di sana tidak menyadari keberadaan dirinya.


Bisa gawat kalau wanita bertubuh mungil itu, sadar akan keberadaannya.


Sudah dipastikan, wanita itu akan kembali histeris.


"Prang!" Tanpa sengaja, Lion menyenggol sebuah pot tanaman di kamar tersebut. Yang menghasilkan suara kegaduhan.


Tubuh Lion membeku di tempatnya dengan posisi tubuh membelakangi Lolly yang berada di balkon. dan membuatnya terkejut saat mendengar keributan di dalam kamar.


"Siapa?! Teriak Lolly, yang terdengar berjalan masuk ke dalam kamar.


Lion pun semakin kebingungan dengan raut wajah berubah pias.

__ADS_1


"Sial, sial, sial."


__ADS_2