
Di sebuah ruangan luas dan mewah, terlihat sosok pria dewasa yang berusia setengah abad. Sosok yang memiliki wajah tampan dan gagah, rambutnya pun sudah terlihat memutih dan juga rambut-rambut halus di sekitar rahangnya pun sudah mulai memutih. Namun ketampanan pria itu terlihat semakin mempesona. Di usianya yang tidak mudah lagi, membuat jiwa karismatik nya meningkat.
Namun, ada yang berbeda dari perilaku pria dewasa itu, pria yang memiliki tatapan tegas wajah tampan dan gagah, namun ada yang salah dari gerak-geriknya, saat memimpin sebuah rapat di depan seluruh petinggi di perusahaannya.
Larry Light Hugo, seorang pemimpin perusahaan light Hugo, yang bergerak di bagian perhotelan dan juga property.
Dia adalah kakak dari Kimberly Light Hugo. Yang juga pindah ke kota Los Angeles, meneruskan perusahaan keluarganya.
Pria tampan dengan karismatik yang mempesona itu, memiliki seorang anak perempuan yang masih berusia remaja dari pernikahannya dengan istri kecilnya yang begitu dicintainya. Namun, sayang. Sang istri tercinta harus pergi untuk selamanya saat — melahirkan buah hati mereka yang sudah pasang itu impikan. Lima tahun, pernikahan mereka belum juga dikaruniai buah hati, hingga di akhir kelima tahun pernikahan mereka, akhirnya Larry dan Lusi dikaruniai seorang buah hati, namun sayang, saat berjuang melahirkan calon buah hati mereka, Lusi harus tidak dapat terselamatkan, akibat penyakit yang dideritanya.
Akhirnya Larry menjadi seorang single daddy untuk membesarkan putri semata wayangnya yang begitu cantik. Ia juga dijuluki hot daddy atau single daddy hot. Tapi sayang, Larry harus menyembunyikan sikap jantannya dengan berlaga layaknya seorang pria bertulang lunak.
Larry melakukan itu semua, agar terhindar dari godaan para wanita diluar sana, yang begitu menggilainya. Ia, hanya ingin hidup sendiri demi menjaga ketulusan cintanya kepada mendiang istrinya Lusi dan juga agar perhatiannya tidak terbagi untuk sang putri tercinta.
Seperti yang terlihat sekarang ini, Larry Light Hugo memimpin rapat dengan gaya khas-nya sebagai pria bertulang lunak.
Seluruh karyawannya sudah terbiasa dengan sikap sang big boss mereka, mereka pun sudah tidak risi lagi. Para karyawan wanita pun hanya, menyayangkan sikap big boss mereka, yang terlihat gagah dan berkharisma harus bertulang lunak.
"Rapat hari ini, selesai," ujar Larry dengan suara khas pria bertulang lunak.
Seluruh petinggi di perusahaannya pun memberikan hormat dan keluar dari ruangan rapat.
Tinggal Larry dan juga asistennya yang seorang pria gagah. Yang sering mendapatkan gosip di kalangan pebisnis dan kalangan karyawan, yang bergosip atas kedekatan Larry dan asistennya.
"Jadwal saya setelah ini, apa?" Tanya Larry dengan intonasi suara berat penuh kharisma. Yah, Larry akan bersikap normal apabila bersama asistennya. Dan bersikap layaknya pria bertulang lunak apabila kepada orang lain.
"Anda, ada jadwal makan siang bersama nona Poppy, tuan," jelas asisten nya.
"Jam berapa?" Tanya Larry kembali sambil melayangkan tatapan mata tajam.
"Setelah, nona Poppy pulang sekolah, tuan," lanjut sang asisten.
"Hm! Ingatkan saya. Jangan, sampai kejadian dua hari yang lalu terulang." Terang Larry yang kini menatap nyalang asistennya.
"B-ba-baik, tuan," jawab asisten Larry terbata.
__ADS_1
Larry pun bangkit dari kursinya, dan berjalan ke arah pintu ruangan rapat, menuju ruangannya yang terletak di lantai paling atas. Ia berjalan layaknya seorang pria tampan nan gagah di depan karyawannya, namun akan mengeluarkan suara tulang lunaknya saat berbicara.
"Ting" lift yang di pakai Larry menuju ruangannya sudah terbuka. Pria dewasa nan hot itu, berjalan ke arah pintu ruangannya. Para karyawan yang ada di lantai paling atas pun, menundukkan kepala mereka dan sesekali melirik wajah tampan Larry.
"Astaga, dia semakin tampan," gumam salah satu karyawan wanita.
"Tapi, sayang dia bertulang lunak," ujarnya lagi dengan lirih.
"Clek! Larry membuka pintu ruangannya dan segera masuk, tentu saja diikuti oleh asistennya dengan setia mengekor di belakang punggung lebar Larry.
"Daddy, Jeje!" Baru saja pria dewasa itu memasuki ruangan mewahnya, suara berat nan seksi menyapa Indra pendengaran pria gemulai itu.
"Lion?" Sentaknya pelan dan menampilkan senyum menawannya.
"Daddy Jeje, i miss you!" Seru Lion dan menghampiri sang paman dan memeluknya.
"OH keponakan tampanku," balas Larry tak kalah senangnya melihat keponakan kesayangannya.
"Bagaimana kabarmu, boy?" Tanya Larry yang melepaskan pelukannya dari tubuh sang keponakan tersayang dan meninggalkan tepukkan lembut di punggung kekar Lion.
Larry pun hanya bisa tersenyum miring melihat wajah, aneh sang keponakan laki-laki satu-satunya.
"Katakan, apa yang kamu inginkan, boy," pungkas Larry langsung ke intinya.
Lion memancarkan raut wajah bahagia dan memperlihatkan senyumannya yang menawan sehingga deretan gigi putihnya terlihat.
Larry pun meraih sesuatu di dalam laci meja kerjanya, dan mengambil sebuah kartu berwarna hitam. Ia menyodorkan kepada keponakan kesayangannya itu dengan gelengan kepala.
Tentu saja Lion segera meraihnya dan bersorak layaknya anak kecil, yang mendapatkan permainan yang diinginkan.
"Thanks, dad," ucap Lion sambil memeluk pamannya yang sejak kecil memanggilnya daddy.
"Hm! Bersenang-senang lah' itu khusus buat mu," Seloroh Larry, yang tangan kirinya mengusap rambut Lion.
"Katakan, kepada daddy kalau, kurang," lanjutnya.
__ADS_1
Jangan tanyakan bagaimana raut wajah Lion saat ini, yang jelas pria itu merasa bahagia. Ia tidak perlu mengemis kepada saudaranya ataupun sepupunya.
"Oh, iya dad! Jangan, sampai mommy tahu, kalau daddy memberikan ini kepadaku," ujar Lion.
"Tenanglah! Semuanya aman," sahut Larry menyakinkan.
"OH, daddy. Kamu yang terbaik," puji Lion tulus.
Larry hanya tersenyum dan menepuk pundak lebar keponakannya, pria setengah abad itu pun kembali duduk di kursi kebesarannya.
Sedangkan Lion memandangi kartu di tangannya dengan seringai, ia akan menggunakannya untuk membeli keperluannya dan mengubah kamar yang di tempatnya di rumah Lolly.
Lion juga akan membuat taman bunga untuk Lolly agar wanita itu tidak mudah tergoda dengan sebuah hadiah dari seorang pria misterius.
"Dad!" Serunya kepada sang paman yang sedang memeriksa berkas.
Larry memalingkan wajahnya ke arah Lion, setelah itu bangkit dan kembali mendekati keponakannya.
"Kamu tidak ingin ikut makan siang bersama, kami?" Ajak Larry.
"Saya, ada urusan mendadak, dad," ujar Lion menolak ajakan sang paman dengan halus.
"Begitukah?" Sahut Larry dengan wajah kecewa.
Lion sebenarnya tidak suka melihat wajah kecewa sang paman, tapi … dia harus mengurus sesuatu.
"Lain kali, dad," janji Lion.
"Baiklah!" Balas Larry pasrah.
"Sorry, dad," Lion berkata lirih.
"Tidak mengapa, son," jawab paman Larry, sembari mengacak-acak rambut keponakan kesayangannya itu.
Lion pun memeluk sang paman dan berpamitan. " Saya, pamit dulu dad. Sampaikan, salam sayang saya kepada, Poppy," pamit Lion dan segera berjalan ke arah pintu ruangan sang paman.
__ADS_1
Lion terus memarkan senyum bahagianya sambil menatap sekali lagi kartun pemberian paman Larry. Tidak perlu kode kartun, karena Lion sudah mengetahui kode kartu tersebut, karena kartu di tangannya di khususkan untuk dirinya. Jadi sudah dipastikan, kalau kode kartu tersebut adalah tanggal lahirnya.