
Lion kembali membuka matanya saat, Indar pendengarannya menangkap suara kegaduhan di arah ranjang pasien.
Baru saja matanya terpejam oleh buaian rasa ngantuk yang dilandanya. Ia dikejutkan oleh suara gelas terjatuh.
Segera pria dengan wajah terkejut itu, meluruskan punggung kokohnya dan memandang ke arah ranjang.
Ia tersentak kaget, saat … mata tajamnya menangkap seluit mungil wanita di ranjang pasien tersebut, sedang mencoba menggapai gelas yang sudah terbaring di atas nakas.
Lion ragu untuk mendekati wanita tersebut, ia lantas memalingkan wajahnya ke arah Luzi yang begitu terlelap.
Perasaan tak tega pun meliputi Lion. Sekarang ia merasa, bimbang dan kebingungan.
Sudah dipastikan, wanita itu akan ketakutan dan histeris saat melihatnya.
"Prang" gelas yang terbalik di atas nakas kini … terjatuh ke lantai marmer. Menimbulkan suara pecah gegaduhan.
Lion pun semakin kebingungan, dan merasa cemas. Ia, takut wanita itu, akan bertindak di luar nalar lagi.
Pria kekar itu refleks berdiri, ketika mendengar lirihan tertahan di sana. Di ranjang pasien.
Pria bermata sipit itu pun semakin bimbingan dan kebingungan. Haruskah dia mendekat kepada wanita itu? Lion pun hanya bisa mengatur nafas bingungnya dan terus mengawasi gerak-gerik Lolly.
"Sial!" Erang Lion tertahan, saat mendengar Lolly terisak.
Tanpa mempertimbangkan keraguannya, Lion menghampiri wanita itu yang kini terisak pilu.
_______
"H-haus!" Lirih Lolly yang mencoba menggapai gelas berisi air putih di dalamnya.
"Hg!" Lenguhnya saat mencoba menggapai lebih dekat gelas tersebut, sambil menahan rasa perih di tangan lainnya yang terpasang infus.
"H-haus!" Gumamnya yang diikuti oleh isakan putus asa.
__ADS_1
Wanita rapuh itu, kini, membangunkan setengah badannya dan berusaha menggapai air kemasan yang berada di nakas.
"Aku, haus," gumamnya sambil berusaha mendapatkan yang ia inginkan. Posisinya kini miring dan hampir terjatuh.
"OH Tuhan, kenapa aku, begitu menyedihkan seperti ini," racaunya putus asa.
"Apakah, engkau memberikan aku hukum atas dosa dan tubuhku yang kotor ini," monolognya yang diiringi tangisan pilu.
"Apa kesalahanku Tuhan! kenapa, engkau mengujiku seperti ini. Apa aku tidak pantas bahagia!? Tuturnya putus asa.
"Lihatlah, mengambilnya saja aku sudah tidak sanggup, apa setelah ini, aku sanggup menanggung beban deritaku dan menanggung malu? Apa, yang harus aku katakan kepada — ibu." Tangisan perih masih terus terdengar di ranjang pasien itu, dengan sebuah ungkapan keputusasaan.
"Apa salahku!" Pekik tertahan Lolly sembari mengusap kasar setiap permukaan kulit kedua tangannya.
Tangisan perih dan sesak masih saja tak tertahankan, yang terus memberontak untuk di dilampiaskan.
Lolly masih terguguk dalam tangisnya, dia … tidak menyadari sosok pria tinggi di sampingnya sejak tadi.
Mengawasi, setiap pergerakan wanita di atas ranjang. Ia hanya merasa was-was saat wanita itu mencoba meraih sesuatu di atas nakas, dan secara kebetulan di atas nakas terlihat olehnya sebuah benda tajam, yang tergeletak di piring buah.
Ia lantas meraih air mineral kemasan putih itu dan membuka penutupnya. Menyodorkan tepat di wajah Lolly yang sedang menutup wajah.
Lolly yang menyadari sesuatu berada di depan wajahnya segera, membuka mata. Meraih dengan segera botol minum tersebut, dan meminumnya sedikit tergesa-gesa.
"Uhuk, uhuk." Wanita itu terbatuk-batuk karena ingin menghilangkan rasa dahaganya secara tergesa-gesa. Sehingga membuatnya tersendat.
Lion masih membeku di tempatnya dengan memasang wajah bingung. Ia ingin menyentuh wanita tersebut. Namun ia sangat sadar, itu akan membuat wanita ini histeris nantinya.
Dengan diam, Lion menyerahkan kotak tissue kepada Lolly. Ia takut menimbulkan suara sedikitpun. Sekuat tenaga ia mengatup kedua belah bibirnya.
Ia masih mengawasi gerak-gerik Lolly, ia takut wanita itu, menyadari keberadaan dirinya di ruangan ini.
Namun tiba-tiba wajah Lion berubah pias, saat — Lolly berseru lirih kepadanya, tanpa memandangnya.
__ADS_1
"Terimakasih!" Ucap Lolly dengan suara parau dan halus.
Wanita itu, berpikir kalau ada seorang perawat di dekatnya dan menjaganya sepanjang malam.
Pria yang membeku masih mengatup rapat-rapat mulutnya. Dirinya meraih kembali air kemasan itu dan meletakkan ke tempatnya semula.
Pria dengan wajah waspada itu, membalikkan badannya dan berniat menjauh dari, wanita yang posisi duduk di atas ranjang. Minimnya pencahayaan di dalam kamar, yang hanya diterangi lampu tidur saja. Membuat, wajah Lion sulit dilihat.
Baru saja Lion merajuk langkah ke arah tempatnya semula, tiba-tiba seruan wanita yang terlihat bergerak gelisah itu, membuatnya kembali membeku.
"Bisakah, anda membantu saya?" Ucap Lolly sembari menyipitkan matanya ke arah siluet tinggi di sampingnya.
Lion bergeming sambil memunggungi wanita itu, ia masih terdiam dalam, dengan raut wajah kembali pias.
"Saya, ingin ke kamar mandi," lanjut wanita itu dengan raut wajah mencoba menahan sesuatu.
Lion pun semakin membatu di tempatnya, wajahnya semakin sulit diartikan. Antara, kebingungan dan tidak tega. Apalagi beberapa kali wanita itu mengeluarkan ringisan tertahan.
"Hey! Apa, anda bisa menolong saya?" Tegur Lolly dengan dahi mengkerut tajam.
Lolly, semakin dalam menelisik bayangan punggung, lebar yang sedang membelakanginya.
Tiba-tiba berubah ekspresi wajahnya menjadi waspada, saat menyadari sesuatu. Ia baru sadar, kalau seseorang yang sedang membelakanginya adalah — seorang pria.
"A-apa anda seorang perawat pria? K-kalau i-iya, keluarlah." Ucap Lolly terbata.
Lion masih terdiam di tempatnya, tidak berani bergerak sedikitpun. Ia hanya diam dengan kedua telapak tangannya tergenggam erat, menahan sesuatu yang berusaha ia keluarkan.
"Pergi. Pergilah!" Bentak Lolly, ketakutan dan wajah pias.
"PERGI! Akh… tolong," pekiknya histeris wanita itu, sambil mencoba mengambil sesuatu untuk melindunginya.
"PERGI! JANGAN SENTUH SAYA. TOLONG!" Teriak Lolly yang, membuat kedua adiknya tersentak kaget. Segera terbangun dan berjalan ke arah sang kakak.
__ADS_1
Lion sudah berjalan keluar kamar dalam diam, ketika menyadari kedua adik Lolly terbangun.
Dirinya, hanya ingin menyakinkan, kalau wanita yang kembali histeris itu, tidak melakukan tindakan berbahaya.