Emergency Bed Tuan Muda Kato

Emergency Bed Tuan Muda Kato
bab 54


__ADS_3

"Hg!" Leguhan berat keluar dari mulut seorang wanita yang baru saja terbangun dari tidurnya, di pagi hari.


Desisan ngilu pun ikut serta keluar dari mulut wanita itu, saat mencoba bangkit dari pembaringannya.


Lolly menyandarkan punggung mungilnya di sandaran ranjang, mengusap wajahnya dan menekan kedua sisi pelipisnya yang begitu terasa pusing.


Lolly menegakkan punggungnya, mencoba menggerakkan lehernya yang terasa kaku dengan salah satu telapak tangannya berada di tengkuknya.


"Kepalaku, pusing sekali," keluh Lolly pelan, yang sekarang duduk di tepi ranjang sederhana miliknya.


"Astaga, aku kenapa," keluhnya kembali saat — pandangannya terlihat kabur dan terasa bergoyang-goyang.


Wanita itu mencoba untuk berdiri dari duduknya di pinggiran tempat tidur, tapi — rasa pusing di kepalanya begitu tak tertahankan, membuat Lolly, kembali terduduk.


"Kepalaku, pusing sekali," keluhnya sambil menekan-nekan pangkal hidungnya.


Lolly, kembali merebahkan tubuhnya dengan posisi menyamping. Kedua kakinya ditekuk ke depan perutnya yang datar. Menekan-nekan bagian puncak kepalanya, guna mengurangi rasa sakit itu.


"Oh Tuhan, perutku." Lolly kembali meringis tidak nyaman, saat perutnya terasa tidak nyaman.


Ia merasa, isi didalam perutnya, seperti di aduk-aduk yang mengundang rasa mual dan ingin segera memuntahkannya.


Wanita bertubuh mungil dengan sedikit berisi di bagian tertentu itu — segera bangkit dan berlari ke luar kamar.


Lolly berlari tanpa, memperdulikan kedua adiknya yang berada di meja makan. Dengan, wajah kebingungan.


Lolly lantas memuntahkan, semua isi perutnya begitu hebat, hingga membuat wanita itu lemas tak berdaya. Berulang Kali Lolly mengeluarkan isi perutnya hingga tertinggal hanyalah cairan kuning yang pahit.

__ADS_1


Kedua adik perempuan Lolly merasa khawatir saat mendengar sang kakak tidak hentinya memuntahkan isi perutnya, membuat — Luzi dan Liza, mendatangi sang kakak dengan wajah panik.


Kedua gadis itu, membatu di depan pintu kamar mandi, ketika netra keduanya, melihat tubuh lemah sang kakak, sudah terbaring tak berdaya di atas lantai kamar mandi yang lembab.


"KAKAK!" teriak keduanya bersamaan dengan suara menggelegar.


Luzi dan Liza, meraih tubuh dingin Lolly dan membawanya keluar dari kamar mandi dengan susah payah.


Kedua adik Lolly itu, begitu kebingungan harus berbuat apa dengan raut wajah panik.


Luzi hanya bisa terisak dengan mencoba menyeka keringat dingin yang membasahi wajah imut — Lolly.


Sedangkan, Liza mondar-mandir dengan sebuah ponsel menempel di salah satu telinganya.


"Bagaimana, apa yang harus kita lakukan?" Tanya Luzi panik sambil menggosok-gosokkan telapak tangan sang kakak.


Liza hanya bisa berdecak kesal dengan raut wajah panik, saat mendapatkan pertanyaan seperti itu dari adiknya. Apa adiknya itu tidak melihat wajahnya yang juga kebingungan harus melakukan, apa?


"Coba, hubungi tuan muda Kato," timpal Liza berharap.


"Ck! Apa, kamu lupa? Dia, tadi berpamitan akan melakukan meeting di luar kota," jawab Liza dengan wajah kesal bercampur khawatir.


"Terus, kita harus apa?" Sentak, Luzi yang semakin panik saat — melihat sesuatu mengalir dari pangkal paha sang kakak.


"LIZA! pekik Luzi panik.


Liza pun berpaling, seketika, ponselnya terlepas dari tangannya dan benda itu jatuh ke lantai.

__ADS_1


"OMG!" Seru Liza dengan raut kaget dan panik.


Tanpa banyak bertanya lagi, Liza berteriak keluar rumahnya untuk meminta bantuan. Dan — terlihat dua orang pria bersetelan serba hitam mendatangi gadis itu dengan wajah datar dan juga khawatir.


"Ada apa, nona?" Tanya salah satu dari pria kekar itu, kepada Liza yang terkejut dengan kedatangan kedua sosok pria asing.


Liza menggelengkan kepalanya, bukan saatnya untuk berpikir tidak berguna, sekarang yang terpenting, adalah, menyelamatkan sang kakak.


"T-tolong!" Ucap Liza terbata dengan wajah pucat.


"Ada apa, nona. Apa yang terjadi dengan — nona Lolly," timpal salah satu pria itu.


"T-tolong dia," sahut Liza dengan wajah semakin khawatir, saat mendengar teriakkan histeris sang adik.


Salah satu dari pria asing itu, segera berlari memasuki rumah Lolly, tanpa — banyak bertanya.


Kedua pria itu terlihat membeku, saat melihat tubuh lemah Lolly, sudah mulai terlihat pucat dan darah terus mengalir deras dari pangkal pahanya.


"Cepat! Kita, harus membawa nona kerumah sakit," pekik salah satu pria itu, yang berpenampilan layaknya seorang bodyguard.


Pria lainnya, pun mengangkat tubuh lemas dan lemah Lolly, keluar dari rumah dan setengah berlari ke arah mobil mereka, yang tidak jauh dari kediaman sederhana Lolly.


Diikuti, Liza, Luzi dan juga pria asing satunya, yang memegang kemudi dan segera menancapkan gas mobilnya.


"Kakak, bangun lah' kak," ucap Luzi dengan menangis ketakutan, akan kondisi sang kakak.


"Diamlah, Luzi. Dia akan baik-baik saja," hibur Liza kepada sang adik, meskipun ia juga merasa ketakutan.

__ADS_1


Kedua adik Lolly kini, menahan tubuh Lolly di bagian atas dan bawah kakinya yang terbaring di kursi penumpang belakang.


Sedangkan kedua pria asing itu pun, mencoba memberikan laporan kepada, nyonya besarnya.


__ADS_2