Emergency Bed Tuan Muda Kato

Emergency Bed Tuan Muda Kato
bab 28


__ADS_3

Sunyi, begitu gambaran kamar VVIP yang digunakan wanita yang kembali tenang, setelah mendapatkan kembali suntikan penenang dari dokter.


Pihak rumah sakit, terpaksa memberikan kembali suntikan penenang agar sang pasien tenang. Tidak histeris dan meronta-ronta yang membuat seluruh tubuhnya kesakitan.


Apalagi sang pasien melakukan tindakan melukai dirinya sendiri dengan memberi cakaran di beberapa permukaan kulitnya.


Kini wanita yang divonis menderita depresi serius itu, sudah terkulai lemah kembali di atas ranjang pasien.


Wajahnya masih meninggalkan jejak air mata dan sesekali terdengar suara sesegukan lirih.


Kedua adiknya kini duduk diam di kedua sisinya, menatap dalam dan sedih, akan kondisi sang kakak.


Adik terkecilnya bahkan tak hentinya terisak tertahan, sambil membelai puncak kepala sang kakak.


Sedangkan adik lainnya hanya diam dengan tatapan sulit diartikan. Ia kini melirik, sosok pria yang menatap ke arah mereka lewat jendela kaca besar.


Wanita cantik itu menggeser kasar kursi yang ia duduki, bangkit dengan wajah emosi. Melangkah ke arah pintu sambil kedua tangan terkepal erat.


Gadis itu berjalan dengan raut marah, ke arah pria yang masih terdiam, menatap ke dalam kamar.


Dengan kasar, gadis itu meraih pundak kekar pria tersebut dan memberikan satu pukulan keras di wajah sang pria yang terlihat terkejut, atas tindakan gadis itu tiba-tiba.


Dengan wajah penuh dendam, gadis itu kembali menggenggam kuat, bagian atas kaos polos pria itu dan membentaknya dengan makian dan umpatan.

__ADS_1


"Apa anda, sudah puas, akh! Lihat. Lihat kondisi psikis dan kejiwaan kakak, kami yang sudah hancur. Lihatlah. Hasil perbuatan bejat anda. Apa, anda bisa mengembalikan kondisi kakak kami, hm? Apa, anda bisa mengembalikan kakak kami yang selalu, penuh semangat. Apa, yang harus kami lakukan, tanpa sosok kakak yang selalu berjuang untuk kami. Katakan, kami harus apa!" Raung gadis itu sambil menggenggam erat kaos yang pria itu kenakan.


Sang tuan muda itu hanya bisa terdiam dengan wajah penuh sesal. Benar, apakah ia bisa mengembalikan semangat hidup wanita yang menjadi korban kebejatannya itu? Apa ia sanggup. Sedangkan mendekat saja ia sudah merasa berat.


Lion memberanikan dirinya menatap wajah sembab gadis di depannya ini. Ia ingin mengeluarkan sepatah kata, namun… entah dirinya merasa berat mengakui kalau dirinya sanggup mengembalikan kondisi wanita malang itu.


"Kami, masih membutuhkannya. Kami, masih sangat membutuhkan sosok keibuan yang ada pada dirinya, yang selalu menjadi obat kerinduan kami kepada sosok ibu. Menjadi obat kerinduan kami kepada sosok ayah. Dia, hanya lah, wanita rapuh yang setiap malam menangis, akan kejenuhan dan lelah yang ia simpan sendiri dengan bersikap baik-baik saja di depan kami. Dia, sosok wanita hebat, sangat… hebat untuk kami. Pelindung dan tulang punggung kami. Wanita rapuh yang mencoba mengganti peran ibu dan ayah buat kami." Jelas gadis itu, yang genggaman kedua tangannya terlepas di kaos pria tinggi itu.


"Kami, harus bagaimana tanpa dia. Apa, kami sanggup menghadapi hari esok tanpa pribadinya, yang penuh kasih sayang dan semangat." Lanjut gadis itu yang yang kini terduduk di lantai. Menangis pilu, akan kondisi sang kakak tercinta.


Lion pun mendaratkan tubuhnya di kursi tunggu dengan kasar dan menundukkan wajah yang terlihat bersalah.


Gadis mungil yang di dalam kamar pun ikut menangis pilu di balik pintu kamar. Ia kini sesenggukan menangis dengan memeluk kedua kakinya.


Mereka sudah sangat tergantung dengan sang kakak, perlakuan lembutnya, sikap penyayang nya, sikap tegasnya dan kebiasaan kakak mereka apabila berada di rumah. Menyiapkan sarapan, makan malam, siang, membangun mereka, memarahi mereka dan mengkhawatirkan mereka.


Apa keduanya sanggup memulai hari esok dengan sosok kakak mereka yang dulu?


Melihat dan mendengar penjelasan kondisi serius kakak tertua, membuat gadis mungil itu menangisi kehidupan mereka yang penuh cobaan dan ujian.


____________


Angin berhembus kencang menerpa wajah pucat pria yang sedang menghayati semua kesalahannya.

__ADS_1


Setelah mendengar segala penuturan gadis yang memberikan bekas memar lagi di wajah tampannya, pria itu, mendatangi rooftop rumah sakit yang terlihat sunyi.


Menikmati penyesalannya dalam diam dan di selimut kesunyian, tatapan terus berpusat kepada keramaian kota Los Angeles pada tengah malam.


Dirinya yang biasa menghilangkan kepenatan dan rasa risau dengan bersenang-senang bersama para sahabatnya.


Menghabiskan waktu senggang dengan menikmati minuman beralkohol, menikmati indahnya dunia malam di beberapa bar terkenal di kotanya.


Menghabiskan puluhan atau ratusan dollar hanya semalam, demi menikmati kesenangannya bersama para sahabat.


Namun kini, ia hanya sendiri berteman oleh sepi dan hembusan angin malam, yang menusuk-nusuk seluruh tulang yang terbalut oleh — kulit kecoklatannya.


Membuat seluruh tubuhnya kedinginan yang hanya mengenakan kaos polos dan celana rumahan sederhana.


Lion membiarkan hembusan angin kencang menerpa seluruh tubuhnya, ia ingin menghukum dirinya sendiri dan merasakan segala penderitaan yang dijalani oleh seorang Lolly white.


"Masih, pantaskah diri ini mendapatkan, maaf? Kalaupun tidak, izinkan aku berusaha mengejar maaf darimu," menolongnya pilu, yang disertai wajah penyesalan mendalam.


"Ayo, brengsek. Kamu, pasti bisa," pekik Lion yang suaranya menggema di atas puncak gedung rumah sakit.


Ia bertekad, akan berusaha sepenuh hati untuk mendapatkan maaf dari Lolly dan mencoba mengembalikan pribadi ceria wanita itu.


"Aku pasti bisa."

__ADS_1


"Semangat lah, Lion! Ingat, kamu adalah Lion Light Kato." Gumammya halus.


__ADS_2