
Lolly pagi ini terlihat panik. Ia keluar dari dalam kamar dengan raut wajah khawatir dan terburu-buru. Dia bahkan, mengabaikan panggilan sang adik. Dan — juga tatapan lekat Lion.
Wanita itu, sibuk membenahi isi tasnya. Sambil berjalan ke arah halte bus.
Lolly bahkan melupakan untuk sarapan, entah itu hanya sekedar minum air putih.
Karena terlalu memikirkan sikap dan perlakuan Lion kepadanya kemarin malam, membuat Lolly kurang tidur. Dan … akhirnya, dirinya pun kesiangan untuk berangkat bekerja.
Karena terlalu terburu-buru, Lolly pun tidak memperdulikan keselamatannya sendiri. Ia hampir saja tersenggol oleh pengendara motor, saat akan menyebrang menuju halte bus di depannya.
Untung saja, sebuah pergelangan tangan kekar menariknya ke sisi pria itu. sehingga, tubuh mungil Lolly menempel di dada bidang pria tersebut.
Wajah Lolly berubah pias dengan jantung berdebar-debar, tangannya pun mulai gemetar, karena kaget. Hampir saja dirinya kembali mengalami kecelakaan, karena tingkah cerobohnya.
"Kamu, tidak apa-apa?" Suara berat menyapa Indra pendengaran Lolly yang masih terlihat terkejut.
Lolly mendongakkan kepala, ia pun semakin terkejut dengan pria yang sedang ia peluk sekarang ini.
"Kamu, baik?" Sela Lion yang juga menata wajah pucat Lolly.
Keduanya kini berada di pinggir jalan, tepatnya di depan zebra cross. Beberapa pejalan kaki melirik mereka sejenak. Dan kembali melanjutkan langkah mereka.
Lolly tersadar dan melepaskan diri dari dekapan hangat dada Lion. Ia juga terlihat salah tingkah dengan berpura-pura membenahi penampilannya.
Lion hanya bisa tersenyum, memilih tingkah wanita mungil di hadapannya ini.
"Ayo!" Tanpa permisi, Lion menautkan jari-jari keduanya dengan lembut dan menarik, berjalan ke arah halte bus.
"T-tuan. T-tunggu," sentak Lolly terbata.
Sayang, Lion seakan menulikan teguran wanita mungil yang hanya sebatas dadanya itu. Ia, terus menarik Lolly lembut menyebrangi zebra cross.
Lion kini, merangkul pundak mungil Lolly, saat — seorang pria melirik Lolly penuh minat.
Tentu saja, Lion tidak akan pernah membiarkan satu orang pria manapun melirik wanita yang sudah di cap sebagai miliknya. Milik tuan muda Kato.
Sedangkan, Lolly hanya bisa menampilkan wajah kebingungan dan merasa tidak nyaman. Tapi … genggaman tangan Lion di pundaknya begitu posesif. Sehingga ia tidak bisa bergeming ataupun meronta.
Keduanya kini, sudah berada di halte bus, menunggu bus kota yang akan mengantar mereka ke perusahaan agensi light Hugo.
__ADS_1
Lion tidak sedikitpun, membiarkan Lolly lepas dari genggamannya.
Seperti sekarang ini, Lolly yang sedang duduk di bangku tunggu halte dengan beberapa orang yang juga sedang menunggu bus. Sementara, Lion berdiri di hadapan Lolly dengan genggaman tangannya masih melilit di telapak tangan lembut Lolly.
Wanita imut itu pun, hanya tersenyum kikuk kepada penunggu yang lain, saat melihat tingkah posesif Lion.
Pria itu terlihat begitu melindungi wanitanya dan seperti seorang pria yang sangat mencintai kekasihnya.
Lolly hanya bisa pasrah, meskipun ia merasa risih. Wanita itu menyibukkan dirinya dengan ponsel menggunakan tangan kirinya, sedangkan tangan kanannya kini masih berada di genggaman telapak tangan hangat Lion.
Lion menerbitkan senyum tipis, saat Lolly hanya bisa menahan rasa kesalnya dengan diam dan pasrah.
Pria yang kini menutupi seluruh tubuh Lolly dari pandangan pria lain itu — menarik kembali pergelangan wanitanya, saat dari jarak jauh bus yang mereka tunggu sudah terlebih.
_______
Seperti seorang pria sejati, Lion terus menuntut Lolly memasuki bus dengan hati-hati.
Pergerakan, pria itu terhenti. Saat, kursi di dalam bus sudah di penuhi oleh penumpang lainnya.
Kelopak mata sipit nan tajam Lion, terus merotasi setiap sisi bus, tapi… sialnya, tidak ada lagi kursi yang kosong.
Lolly yang di berada di balik punggung lebar Lion hanya menukik alisnya heran. Namun, wanita itu lebih memilih masa bodoh. Dan — terus menatap ponselnya.
Wanita dengan dandanan layaknya wanita penghibur itu, membenahi pakaiannya yang terlihat terbuka.
Wanita bersurai panjang merah itu, mendorong teman duduknya dengan kasar ke samping. Temannya hanya bisa memasang wajah menahan rasa malu dan marah.
Namun wanita berdandan penuh dramatis itu, tidak menghiraukannya. Ia malahan berdehem dan menegur Lion yang masih berdiri di tempatnya semula.
"Permisi, tuan!" Sapa wanita itu dengan suara di buat menggoda.
Wajah, wanita itu tampak mengkerut. Saat… tak mendapatkan sahutan dari Lion.
"Tuan!" Serunya kali ini wanita itu berdiri dan melambaikan tangan kepada Lion.
Lion akhirnya menoleh dengan raut wajah datar dan jijik.
Wanita dengan bibir full volume itu, tersenyum sukses, ia mengibas rambutnya kebelakang dan kembali duduk, matanya yang menggoda melirik di kursi sebelahnya yang kosong.
__ADS_1
Lion yang paham dengan maksud wanita itu pun, mendekat. Dengan setia menarik Lolly lembut.
Sementara, sang wanita seksi merasa puas karena bisa mendapatkan perhatian si pria tampan dan macho.
Kini ia meraih, cermin kecil di dalam tasnya, menelisik penampilan wajahnya yang dipenuhi make up tebal.
Wanita itu, sibuk memperbaiki penampilannya, sehingga tidak menyadari, kalau pria yang menjadi incarannya kini, memperlakukan seorang wanita mungil yang tersembunyi di balik punggung lebarnya, layaknya seorang tuan putri.
"Duduklah," perintah Lion lembut kepada Lolly sambil membantu wanita itu duduk dan menyakinkan wanitanya sudah merasa nyaman.
Lion tidak menghiraukan tatapan syok wanita yang menawarkan bangku kepadanya, ia hanya sibuk memperhatikan Lolly yang tangannya masih setia berada di telapak tangan mungil Lolly.
Lion sendiri kembali, berdiri di hadapan wanitanya, sehingga Lolly tidak terlihat sedikitpun. Sebelah tangannya berpegangan di besi yang ada di atas kepalanya.
Lolly sendiri masa bodoh, yang terpenting dia sudah nyaman dan tidak merasa kelelahan di kedua kakinya.
Lolly bahkan tidak menghiraukan tatapan permusuhan di sebelahnya dan juga decakan, cibiran dan juga kesinisan wanita itu.
Bagi, Lolly adalah, segera sampai ke perusahaan agensi light Hugo.
Wanita di sebelah Lolly merasa tidak terima dengan sikap Lion kepada wanita mungil yang — menurutnya sangat jauh berbeda dari segi penampilan dan kecantikannya.
Wanita dengan dada membusung tumpah itu, menyeringai licik, ketika, mendapatkan ide untuk menyingkirkan Lolly dari sebelahnya.
Ia pun berpura-pura bergerak gelisah, hingga mengenai punggung Lolly. Dan — dengan sengaja, wanita itu, menyenggol kuat pundak Lolly, sehingga wanita mungil itu hampir terjeramba ke depan.
Untung saja, Lion lagi-lagi, dengan sigap menarik tubuh Lolly yang kini wajah wanitanya, sudah berada di perut kerasnya.
Wajah, wanita yang berbuat licik kepada Lolly, berubah pucat dan ketakutan, saat… mendapatkan tatapan tajam dari Lion.
"Kamu tidak apa-apa, baby?" Tanya Lion lembut sambil berjongkok di depan Lolly.
Lolly menggeleng dengan rona wajah merah. Antara malu dengan sikap Lion dan juga kesal dengan sikap pria tampan di depannya.
"Kamu, yakin?" Tanya Lion dengan wajah begitu khawatir.
"Hm!" Gumam Lolly dan diikuti anggukan kepala.
Lion yang tidak percaya pun memeriksa setiap permukaan kulit di wajah dan kedua tangan pun kaki Lolly.
__ADS_1
Setelah merasa wanitanya tidak lecet sedikitpun. Lion kembali, menghunus tatapan tajam kepada, wanita yang beringsut ketakutan di sebelah Lolly.
"Cup" Lion menitipkan sebuah kecupan manis di bibir mungil nan lembut Lolly, sebelum … pria itu kembali berdiri.