
Lolly tersenyum lembut ke arah sang adik yang masih berusaha menyelamatkan dirinya.
Namun Lolly merasa jiwanya kini terpisah dengan raganya. Lolly memejamkan matanya dengan senyum terus tersungging di bibir.
"Selamat tinggal," ucapnya tanpa suara.
"Tidak!" Raung Luzi, melihat pakaian yang di genggamannya mulai sedikit demi sedikit rapuh.
"Tidak! Aku, mohon jangan lakukan itu," racau Luzi mulai tak terkendali.
"Tidak! Kakak." Kain pertahanan itu pun terlepas dari genggamannya dan sang kakak pun mulai melayang di udara.
"KAKAK!" teriak Luzi histeris.
"Kak —" ucapan gadis itu terhenti, saat sebuah tangan kekar menahan pergelangan tangan sang kakak.
"Apa, kamu sudah gila, akh!" Hardik pria itu geram.
Pria yang dipenuhi keringat itu, segera menarik paksa pergelangan Lolly kasar.
Kini tangan lainnya, meraih kasar telapak tangan Lolly, dengan beberapa tarikan kasar saja juga bantuan Luzi. Kini, wanita rapuh itu dapat diselamatkan.
Nafas mereka pertiga terdengar tersengal-sengal dengan raut wajah bercampur aduk.
Lolly kini berada di pelukan Luzi yang sudah tak sadarkan diri. Bertepatan, Liza datang dengan beberapa dokter dan perawat laki-laki.
"Kakak!" Tangis Luzi masih terdengar.
__ADS_1
Ia sangat bersyukur dengan kedatangan tuan muda Kato tepat waktu, kalau tidak, mungkin sang kakak tidak bisa diselamatkan.
"Cepat! Bawa dia ke atas tempat tidur pasien," Sentak dokter yang merawat Lolly khusus.
Luzi dan Liza mengikuti langkah beberapa perawat yang memindahkan tubuh lemah sang kakak, tanpa menghiraukan keberadaan Lion.
Pria itu, masih membatu dan bergeming di tempatnya semula. Tiba-tiba, tubuhnya lemas dan kedua telapak tangannya berpegangan di pagar besi.
Seruan nafasnya begitu kencang dengan detak jantung berdebar-debar, ia tidak menyangka, perbuatan yang ia lakukan kemarin malam sefatal itu, melukai batin dan fisik seorang wanita lemah.
Lion menyandarkan punggungnya yang lembab, di pagar pembatas dengan pandangan mendongak ke atas langit sore.
Terlihat pria tinggi itu, menarik nafas dan membuangnya secara kasar.
Perasaannya kini campur aduk, antara kekesalan dan penyesalan. Ia hampir saja membuat seorang wanita kehilangan nyawa atas perbuatan bejatnya.
Ternyata, sedalam itu kah, kehancuran wanita itu sehingga… ingin mengambil jalan kematian, untuk menghindari kehancurannya.
Lion sendiri dapat mendengar, racau wanita itu yang tidak ingin hidup lagi di dunia ini. Karena kondisi hidupnya yang dianggap kotor dan tidak suci lagi.
Pria itu merasa tertampar mendengar suara histeris Lolly, yang lebih menyalahkan dirinya. Bukannya menyalahkan perbuatannya yang sudah memaksakan kehendak kepada wanita itu.
Karena tidak sanggup melihat kondisi Lolly, pria kekar itu segera keluar dari kamar rawat Lolly dengan perasaan sulit diartikan.
_______
Lion menghempaskan tubuh tingginya di kursi tunggu, dan kembali meruap wajahnya sendiri dan mengusapnya kasar. Menyugar rambut panjangnya ke belakang dengan wajah frustasi.
__ADS_1
Kini ia setengah membungkuk badan atletisnya dan menumpuk kedua siku tangannya di atas paha. Menutup wajah dengan kedua telapak tangan, sambil memutar kembali memori ingatannya pada kejadian kemarin malam.
Dimana dirinya sedang, terpengaruh oleh alkohol juga obat perangsang, tanpa sadar dan terbawa pengaruh, Lion memaksakan kehendaknya kepada seorang wanita suci.
Ia juga bisa merasakan samar-samar bagaimana dirinya merusak kesucian wanita itu dan menikmatinya.
Lion mengepal kedua tangannya, saat menyangkal kejadian itu adalah kesalahannya, ia lebih menyalahkan Lolly yang sudah menggodanya dan menjebaknya.
"Brengsek!" Umpatnya kasar pada dirinya sendiri yang kini kembali mengacak-acak rambut panjangnya.
Ternyata kesalahan satu malam yang ia lakukan kini, membuat nyawa seseorang dalam bahaya. Dan, yang paling membuat Lion tercengang adalah kejiwaan wanita itu kini terganggu.
Lion pikir kejadian satu malam itu, tidak akan ada artinya bagi seorang wanita di negaranya yang notabene nya ia hidup di negara bebas. Ia pikir, dengan uang ia bisa membuat wanita itu bungkam.
Namun kenyataannya, ia menghancurkan hidup wanita itu dan kini jiwa diliputi rasa ingin mati.
Selama ini Lion menganggap tabiat wanita di negaranya sama saja, berhubungan se*s bebas dan mendapatkan kemewahan. Ternyata pikirannya kini salah, dan secara tidak sengaja ia juga menilai saudara kembar perempuannya, mommy dan granny wanita seperti itu.
Lion bangkit mendekati kaca besar yang bisa menembus pandangannya ke dalam kamar Lolly. Menempel kedua telapak tangan kekarnya dan menatap penuh sesal ke arah Lolly yang kini sudah mulai tenang, setelah mendapatkan suntikan penenang.
"Pantas, mommy mengambil keputusan sebesar itu kepadaku. Ternyata … aku begitu, bejatnya," gumamnya yang masih menatap tubuh Lolly yang terbaring lemah.
"Sebegitu hancurnya kah, dirimu? Sehingga, kamu menginginkan kematian?" Monolog Lion seakan mengajak bermonolog dengan Lolly.
"Seberapa hancurkah jiwamu dan seberapa besar luka yang ada di hatimu yang — telah aku berikan? Apa aku bisa memperbaiki semua — itu? Mendapatkan, maaf darimu?"
"Apa, katakan maaf bisa menyembuhkan semuanya?" Lion terus bergumam, sambil terus menatap lekat wajah Lolly.
__ADS_1
"Perasaanku, mengatakan tidak semudah itu," lirihnya yang kini membalikkan badan kekarnya sehingga memunggungi Lolly, punggung lebarnya ia sandarkan dengan tatapan mengarah ke bawah.
"Maaf!" Bisiknya.