
"Apa, kamu yang memesan ini semua?" Setelah meredam emosinya, Lion memberikan pertanyaan kepada Lolly.
Wanita itu menggelengkan kepalanya dengan wajah terlihat bingung dan pandangannya mengelilingi deretan buket bunga yang begitu indah.
"Bukan?! Tanyanya lagi dengan menyakinkan pendengarannya.
Lolly lagi-lagi, menggelengkan kepalanya dan mencium aroma bunga mawar putih di tangannya. Seulas senyum indah terbit di kedua sudut bibir wanita bermata biru terang itu.
Tentu saja Lion menyaksikan itu dengan perasaan berdebar-debar, melihat senyum indah Lolly.
"Ini, yang terakhir nona," sela seorang pria muda yang merupakan seorang kurir.
Pria dengan seragam khas kurir itu, menyerahkan sebuah buket bunga mawar dengan beberapa warna. Sekilas, buket itu terlihat berbeda dari yang lain.
Ternyata buket bunga mawar dengan beberapa warna itu, dikhususkan untuk menyampaikan pesan singkat kepada Lolly yang kini sudah dikelilingi oleh puluhan buket bunga mawar.
Para karyawan yang berada di sana hanya bisa menganga melihat ruangan Lolly. Mereka pun penasaran dengan sang pengirim buket bunga itu.
Mungkin orang itu, akan memindahkan toko bunga di perusahaan agensi light Hugo. Bagaimana tidak, kalau semua jenis bunga mawar sekarang berada di ruangan Lolly.
Para karyawan pun, mulai berbisik-bisik dan melirik Lolly da Lion di dalam ruangan yang tidak terlalu besar itu.
"Dari siapa?" Tanya Lion dengan tatapan tajam penuh pengawasan.
Lolly yang selesai membaca sebuah lembaran cantik dengan wangi yang sangat lembut itu, memalingkan wajahnya ke arah Lion dan mengangkat kedua bahunya tidak acuh.
Sambil menghirup wangi bunga mawar di tangannya dan tersenyum. Sesekali Lolly membaca kembali lembar indah itu dengan tersipu malu.
Tentu saja kelakuan Lolly membuat mata sipit Lion menajam, dengan garis wajah mulai mengetat geram.
"Apakah, dari seorang pria?" Tanyanya lagi dengan berusaha menahan sebuah gejolak amarahnya.
Lolly menaikkan sebelah alisnya dengan tatapan heran ia tujukan kepada pria yang kini berdiri di depannya.
"Saya, rasa ini bukan urusan, anda," sahut Lolly dengan cibiran.
"Apa, anda lupa, kalau ini perusahaan saya," sentak Lion tidak suka dengan jawaban Lolly.
"Baiklah! Saya akan memindahkannya ke rumah saya," Seloroh Lolly dingin.
Lion pun dibuat semakin kesal atas jawaban Lolly, bagaimanapun ia merasa tidak rela, kalau semua buket bunga mawar itu dari seorang pria.
Lion menggelengkan kepalanya menepis pikirannya, kalau dibalik buket-buket ini adalah seorang pria.
Lion semakin memanas, saat pikirannya kini menguasai dirinya. Segera pria itu, memanggil para karyawan kebersihan membuang semua buket yang ada di ruangan Lolly.
"Buang! Semua ini. Aku, tidak ingin perusahaan ini menjadi sarang kupu-kupu," pekik Lion marah.
__ADS_1
"Apa, yang anda katakan, tuan," sahut Lolly dengan intonasi suara emosi.
Karyawan yang mendengar, perdebatan itu tidak percaya, akan reaksi Lolly yang menentang keputusan sang tuan muda Kato.
"Saya, akan memberikan kamu bunga seperti ini, bahkan kalau perlu, saya akan memberikan dengan toko-nya," imbuhnya tak kalah kesalnya.
"Tidak perlu!" Sentak Lolly.
"Tidak! Saya, akan memberikannya kepadamu, sepulang kita dari sini. Dan — buket-buket itu akan tiba di kediaman kita," jelas Lion, tanpa sadar mengatakan kepada seluruh karyawan lain, kalau dia dan Lolly tinggal bersama.
"What! Lolly dan tuan … tinggal bersama?" Bisik seorang karyawan yang sering menyindir Lolly. Wajahnya tampak sangat terkejut.
"Apakah, telinga saya salah menangkap?!
"Sepertinya, tidak. Tuan muda Kato mengatakan … kediaman kita."
"Apakah mereka memiliki, affair?"
"Bisa saja."
"SAYA TIDAK MAU TAHU. SEMUA INI HARUS DIBUANG."
"TIDAK! APA HAK ANDA MELAKUKAN ITU. APA, ANDA BISA MENGHARGAI SESEORANG! BAGAIMANA PERASAANNYA KALAU MELIHAT INI SEMUA BERADA DI TEMPAT SAMPAH."
teriakkan perdebatan di ruangan asisten ceo itu, membuat pembicaraan mereka terhenti, dan mencuri dengar perdebatan keduanya yang semakin memanas.
Lion semakin menggeram kesal. Kedua tangannya kini mengepal dengan sorotan mata menghunus tajam. Lolly membalas tatapan Lion dengan sorotan mata tidak terima. Buket-buket itu di buang begitu saja.
"Siapa, yang mengirimnya?" Tanyanya dalam hati, sambil berjalan ke arah ruangan Ceo.
Para karyawan terus memperhatikan interaksi antara Lolly dan Lion. Mereka terdengar, seperti pasangan suami-istri yang sedang berdebat.
Mereka masih memandangi ruangan Lolly dan Lion bergantian. Di mana Lion masih terlihat memandangi Lolly dengan wajah merah padam dan mata menajam lekat.
Mereka juga menata reaksi Lolly yang tidak acuh, kepada Lion. Biasanya wanita itu, paling patuh kepada sang ceo dan paling takut akan kemarahan Lion. Tapi … sekarang sangat berbeda. Sifat Lolly seakan-akan berubah menjadi penantang sengit.
"Apakah, mereka benar-benar memiliki, affair?"
"Entahlah! Walaupun benar, berarti ini keberuntungan untuk, Lolly," timpal karyawan lainnya.
"Cih! Keberuntungan, untuk seorang upik abu yang akan bertransformasi menjadi Cinderella," cibir seorang wanita seksi yang sangat tidak menyukai Lolly. Karena posisi Lolly sekarang adalah miliknya dulu.
"Kamu benar!" Karyawan lain membenarkan dan kekehan mengejek terdengar dari mereka.
______________
Sementara di kediaman besar keluarga Kato.
__ADS_1
"Jadi, dia sudah mulai beraktivitas lagi?" Pertanyaan muncul dari seorang wanita berwajah anggun dan menawan.
Sosok pria dengan tubuh tegak atletis berdiri di hadapannya dengan wajah datar sambil menundukkan kepalanya.
"Benar, nyonya," jawab pria tersebut yang merupakan orang suruhan Kimberly.
"Syukurlah!" Timpal seorang pria setengah baya yang masih terlihat gagah.
"Bagaimana dengan anak, itu," suara wanita lain menyela ucapan mereka.
"Tuan muda masih tetap menjaganya, nyonya besar," terang pria itu dengan wajah datar.
"OH, cucuku yang manis!" Seru granny Gabriela.
"Cih!" Cibir Arthur saat mendengar pujian sang mommy kepada putra satu-satunya.
"Apa dia masih bersikap, dingin?" Tanya Kim lagi.
"Tidak, nyonya. Tuan muda bahkan, bersikap posesif," lapor orang suruhan Kim.
"Benarkah?! Timpal Arthur tidak percaya.
Kim hanya biasa saja menanggapi ucapan orang suruhannya, karena ia sendiri sudah menduga ini terjadi, putranya itu pasti akan merasakan
Kepemilikan akan seorang Lolly white.
"Hm! Pergilah, awasi terus mereka," pinta Kim tegas dengan raut wajah datar.
Pria itu pun, membungkukkan badannya dan berlalu dari hadapan tuan besar dan nyonya besar Kato.
"Mom, merindukannya," tiba-tiba granny Gabriela berkeluh sendu kepada, Kim dan Arthur.
Arthur merangkul pundak tua mommynya dan mendaratkan kecupan sayang. Begitupun dengan Kim. ia meraih telapak tua granny dan menggenggamnya lembut.
"Suatu hari, pasti semua cucu mom akan berkumpul," hibur Kim kepada granny yang sedang merindukan para cucu-cucunya.
"Tidak bisakah, mereka mengunjungiku? Walaupun, hanya sebentar," granny berkata lirih.
Arthur sekali lagi mengecup puncak kepala mommy Gabriela sayang dan mengusap lengan tua granny Gabriela.
"Sabar! Bisik Arthur.
"Apakah, aku harus meninggal terlebih dahulu. Agar mereka mempunyai waktu untuk berkunjung," celetuk granny dengan wajah sedih.
"MOM!" Sentak Kim dan Arthur bersamaan.
"Lihatlah! Kalian sudah mulai kesal kepadaku," ujar granny yang mulai kembali merajuk.
__ADS_1
Granny pun memerintahkan perawat yang menjaganya, untuk membawanya ke halaman belakang. Di ruangan kaca miliknya yamg ditumbuhi oleh berbagai tanaman langka.
Arthur dan Kim hanya bisa menghembuskan nafas berat keduanya. Mungkin karena usia, granny terkadang bertingkah layaknya seorang anak kecil, yang sering merajuk.