Emergency Bed Tuan Muda Kato

Emergency Bed Tuan Muda Kato
bab 16


__ADS_3

terdengar helaan nafas sesak, di ruang sempit yang berada di rumah kecil keluarga white. 


Kakak beradik itu, kini saling terdiam dengan sisa-sisa tangisan, masih terdengar dan terlihat di raut wajah keduanya.


Lolly melayangkan tatapan penuh kasih sayang kepada adik kecilnya, meskipun masih tersirat luka dan kerapuhan, Lolly berusaha menahannya, ia akan terus berjuang agar nasib kedua adiknya tidak seperti dirinya.


Agar kedua adiknya dapat di terima oleh orang lain dengan tangan terbuka dan dapat pengakuan yang membanggakan dari orang lain.


Bukan sebuah hinaan yang akan sang adik terima kelak, seperti dirinya. Lolly berharap, kehidupan sang adik begitu cerah dan maju kelak.


"Katakan, kamu berkerja di mana, hm?" Tanya Lolly lembut yang suaranya terdengar parau.


Luzi membalas tatapan lembut sang kakak dengan tersenyum lembut, ia mendekatkan sebelah tangannya ke pipi sang kakak, membelainya penuh sayang.


Luzi pun menjawab bertanya sang kakak dengan wajah cerah.


"Di tempat, paman Leo," jawab Luzi.


"Aku, membantunya menjaga toko, sepulang sekolah, hingga senja," terang Luzi lugas.


Lolly pun membawa kembali sang adik kepelukannya memberikan kecupan sayang di kening sang adik.


"Kakak tidak keberatan, selama itu tidak menggangu kegiatan sekolah, kamu," ucap Lolly sembari menjauhkan tubuh sang adik darinya.


Luzi menggelengkan kepalanya dengan yakin. " Tidak. Paman Leo pun sangat baik, kak. Beliau, selalu memberikan aku waktu untuk menyelesaikan tugas sekolah. Dan — mengantar aku pulang." Tutur Luzi dengan semangat.


"Syukurlah! Tapi … kamu harus tetap harus hati-hati dan — ingat, tetap utamakan pelajaran," pesan Lolly tegas.


"Hm! Gumam Luzi yang segera memberikan ciuman di pipi kiri sang kakak.


"Maaf! Aku menyembunyikan ini dari, kakak," sela Luzi dengan rasa bersalah.


"Aku, hanya ingin membantu kakak. Aku, tidak tega kakak, pulang larut malam demi menghidupi kami." Lanjutnya dengan tatapan kembali berkaca-kaca.


Lolly menangkup kedua sisi wajah manis sang adik dan memberikan kecupan di kening Luzi yang di tutupi poni.


"Semuanya sudah tanggung jawab kakak, sayang. Dan, kakak tulus melakukannya untuk kalian," ungkap Lolly dengan tersenyum lembut.


"Kakak, akan berjuang keras untukmu, untuk Liza dan ibu. Kakak, akan bertahan dan tetap semangat agar kelak kehidupan kalian berhasil." Ucap dan harapan Lolly kepada kedua adiknya.


"Aku menyayangimu, kak," lirih Luzi yang meneteskan kembali air matanya.

__ADS_1


Lolly menghapus tetesan hangat yang membasahi wajah manis adik kecilnya itu, lalu kembali membawanya kepelukan.


"Kakak pun menyayangi kalian." Lolly membalas perkataan sang adik dengan sangat lembut.


Keduanya lantas larut dari suasana hangat yang melegakan, sebagai anak tertua, Lolly berkewajiban menjadi pelindung dan menjadi sosok pengganti sang ibu dan mengganti peran sang ayah. Agar kedua adiknya merasa tidak tercampakkan atau terabaikan.


_______


"Sekarang, waktunya kamu berangkat ke sekolah," sela Lolly dengan senyum menawan.


Luzi melihat jam tua di atas dinding kayu yang tampak sudah tua dan terdapat beberapa lubang.


"Astaga!" Sentak Luzi kaget.


"Ada apa?" Tanya Lolly dengan alis mengkerut.


Luzi tidak menjawab, dia segera berlari memasuki kamarnya. Tidak lama kemudian, gadis berwajah manis itu keluar dengan sebuah tas lusuh di punggung.


"Kakak! Aku berangkat," pamit Luzi dengan terburu-buru. 


Gadis itu meninggal kecupan hangat di kedua pipi sang kakak dan menyambar roti gandum yang Liza hamburankan kelantai. Lolly mengambilnya kembali dan membersihkannya.


Lolly hanya menggeleng kepalanya dan sudut bibirnya tertarik melihat tingkah sang adik cerobohnya itu.


Kini Lolly kembali membereskan meja makan dengan memunggungi letak pintu rumah. 


Meskipun tubuhnya masih terasa sakit dan lemah, Lolly berusaha memasak untuk menyiapkan makan siang kedua adiknya.


Hari ini, Lolly tidak dapat masuk ke kantor, karena kondisinya tidak sehat dan ia masih trauma atas kejadian kemarin malam.


Lolly masih membutuh banyak istirahat dan untuk menyembuhkan sejenak rasa takutnya.


Bagaimanapun ia masih membutuhkan perkerjaan itu, untuk kehidupan sehari-hari mereka.


Meskipun nyonya Kim menawarkan pengobatan terbaik untuk sang ibu dengan gratis, namun Lolly menolak dan berusaha mencicilnya.


Ia tidak ingin di cap sebagai benalu yang memanfaatkan kedekatannya dengan nyonya Kim. Seperti yang di tuduhkan oleh para karyawan lain di perusahaan agensi light Hugo.


Lolly yang asyik dalam lamunannya, tidak menyadari seseorang mengetuk pintu sejak tadi. 


Sosok yang berada di luar pintu pun membuka pintu rapuh rumah Lolly tanpa, seizin sang penghuni rumah.

__ADS_1


Sosok itu kini berada di dalam rumah Lolly dengan wajah tak terbaca, yang pandangannya kini merotasi seisi rumah sederhana Lolly.


Dengan tubuh tegak atletisnya yang di balut dengan setelan rapi, sosok pria itu menatap sinis keadaan rumah Lolly. Ia memasang wajah tidak suka berada di lingkungan rumah sederhana itu.


Lolly menyengit heran saat samar-samar mendengar pintu rumah terbuka dan mendengarkan langkah kaki seseorang. 


Ia pun tersenyum, saat mengira sang adik lah yang kembali dan ketinggalan sesuatu, seperti yang selalu ia lakukan.


"Kamu ketinggalan sesuatu lagi, Lu …." Segera saja Lolly memutar tubuhnya ke arah pintu sambil memberikan pertanyaan, namun pertanyaannya terhenti saat melihat sosok yang berada di sana. Yang hanya berjarak 3 meter darinya.


"Prang" tanpa sadar Lolly menjatuhkan piring yang ia pegang dan kembali berserakan di lantai.


Tiba-tiba wajah Lolly berubah pucat dengan tubuh mulai gemetar takut. Bayang-bayang kejadian tadi malam, membuat seluruh tulang di dalam tubuh Lolly melinglai. serasa seluruh pembuluh darahnya berhenti mengalir. 


Jantungnya kini mulai berdetak kencang, keringat dingin pun mulai membasahi kening dan telapak tangan wanita malang itu.


Lolly memundurkan tubuhnya yang gemetar takut ke belakang. Kelompok mata indahnya kini mulai memanas dan berembun. Mulutnya sekuat tenaga menahan pekikan histerisnya.


Kini Lolly semakin memundurkan tubuhnya, ketika sosok pria arogan itu berjalan mendekatinya dengan dahi mengerut.


"P-pergi!" Pekik Lolly dengan nada gugup ketakutan.


"J-jangan mendekat. Pergi!" Pekiknya lagi takut, tubuhnya semakin gemetar dengan wajah pucat.


"A-aku mohon, pergilah! Jangan lakukan itu kepadaku," racau Lolly yang kini meringsut di bawah meja.


"Pergi!" Teriaknya histeris dengan nada gemetar ketakutan.


"PERGI! JANGAN SENTUH AKU, AKU MOHON JANGAN SENTUH AKU," teriak Lolly lagi.


Tubuh gemetar hebat, wajah pucat ia sembunyikan di atas lututnya yang ia peluk di depan dada. Air mata tidak hentinya mengalir membasih kedua pipi pucat wanita malang itu.


Lion hanya bisa membeku dan bergeming di tempatnya. Ia tidak menyangka, segitu brengsek nya kah, perbuatannya kemarin malam, sehingga membuat wanita di sana ketakutan dengan hebatnya saat melihatnya.


Kemana sosok wanita yang selalu berani menghadapinya setiap hari, kemana wanita yang selalu menatapnya penuh kekaguman setiap waktu. Kemana wajah lugu yang selalu wanita itu perlihatkan kepadanya.


Kemana wajah menyebalkan itu, yang selalu menjadi bahan hinaannya.


Sekarang, wajah itu terlihat ketakutan seakan-akan sedang melihat malaikat kematian.


"Keluarlah! Aku tahu, kamu hanya berpura-pura, saja!" Seru Lion dingin.

__ADS_1


__ADS_2