
"Clek! Pintu kamar pasien itu terbuka secara perlahan dan sangat hati-hati.
Tampak dua remaja wanita memasuki kamar tersebut dengan raut wajah sembab.
Namun seketika wajah mereka terlihat terkejut dengan kelopak mata terbelalak, saat melihat tampilan di dekat ranjang, terlihat kacau.
"Kakak!" Seru keduanya, segera memasuki kamar pasien dengan wajah panik.
Mereka tidak menyadari keberadaan sang kakak yang masih berdiri di area pembatas pagar besi balkon.
Keduanya kini memeriksa seluruh kamar mewah itu, yang layaknya seperti kamar suite room hotel terkenal.
"Kakak!" Pekik Liza dengan nada khawatir.
Sambil membuka pintu kamar mandi dan berjalan ke arah pantry di kamar itu. Namun kosong, tidak ada tanda-tanda, kalau sang kakak berada di kamar pasien.
"OH Tuhan!" Pekik kini terdengar di dekat ranjang.
"Ada apa, Luzi?" Tanya Liza saat berada di dekat adiknya dengan nafas memburu dan raut wajah panik.
"Lihatlah!" Tunjuk Luzi ke arah ranjang. Yang, terdapat noda darah.
Liza dan Luzi pun memindai bekas noda itu dengan lekat, dan kini, pandangan bingung mereka berpindah ke bawah lantai, yang terdapat jejak noda merah juga.
Keduanya lalu mengikuti jejak tersebut dengan jantung berdebar-debar tak beraturan.
Hingga kembali wajah mereka tampak pucat dengan mata dan mulut terbuka, saat berada di ambang pintu balkon.
"Kakak!" Gumam keduanya, menyaksikan sang kakak berada dalam bahaya.
Tubuh mereka menegang dengan wajah pias, bingung, cemas, takut, perasaan itu lah kini yang mereka rasakan.
"Tenang! Jangan mengejutkannya. Tetaplah diam. Aku, akan meminta bantuan," pinta Liza, berusaha untuk mengambil sikap tenang. Meskipun debaran jantungnya kini — memompa sangat kencang.
"B-ba-baik," jawab Luzi terbata.
"Cepatlah, kembali," sela Luzi yang menghentikan langkah Liza dengan, mata berkaca-kaca.
"Hm. Tetap awasi dia." Pesan Liza. Segera saja wanita itu, keluar dari kamar pasien, untuk meminta bantuan kepada pihak rumah sakit.
"Kakak," gumam Luzi sedih, melihat sang kakak tampak tak berdaya dengan pandangan kosong.
Gadis bertubuh mungil itu, mencoba lebih dekat, ke arah sang kakak. Tanpa menimbulkan suara sedikitpun.
_____________
Sementara Lion masih menapaki setiap anak tangga yang tersisa di lantai akhir dengan, suara nafas tersengal-sengal.
Wajah terlihat merah dan dibanjiri oleh keringat. Dadanya yang terekspos mengilat menggoda oleh keringat.
__ADS_1
Lion masih berjuang agar sampai ke tujuannya. Ia baru sadar, sebegitu melelahkannya menaiki setiap anak tangga. Ia baru merasakan ratusan anak tangga yang ia pijakan. Bagaimana dengan, wanita yang setiap hari melaluinya, tanpa mengeluh sedikitpun.
Lion menggelengkan kepalanya saat, sekelebat ingatnya melintas kepada Lolly yang setiap hari menjadi tempat mengeluarkan emosinya.
Ia baru sadar, sekuat dan setangguh itu kah, wanita itu dalam melakukan perintahnya setiap hari? Melewati ratusan susunan anak tangga secara bolak-balik.
Ia yang baru saja merasakannya dan sudah merasa jerah. Padahal dirinya adalah sosok laki-laki dengan tubuh berotot.
"Ternyata, benar. Aku hanyalah pria pecundang dan pengecut," gumam Lion yang berhenti sejenak sambil mengatur nafasnya.
Tidak ingin membuang waktu lama, Lion melanjutkan langkahnya untuk segera tiba ke tujuannya daruratnya saat ini.
____
Lolly kini menyandarkan tubuh rapuhnya di besi pembatas balkon, sambil pandang kosong terus mengarah ke depan.
Entah mengapa ia tiba-tiba tidak memiliki gairah untuk bangkit lagi. Ia merasa berada di dunia lain. Segala yang ada di sekitarnya terlihat tidak nyata.
Hanya hembusan angin sore hari yang dapat membuat perasaan hancur Lolly lebih membaik.
Ia betah berada di sana, di tengah bahaya yang kini menanti. Satu gerakan saja, maka dipastikan wanita menyedihkan itu, sudah berada di dasar sana.
Namun Lolly tampak menikmati suasana itu dengan masih memperlihatkan tatapan kosongnya.
Hanya ada tetesan air mata penyesalan yang terus membasahi pipinya.
Rasa penyesalan karena, tidak bisa menjaga kehormatan sebagai seorang wanita. Menyalahkan dirinya sendiri karena, gagal menjaga amanah sang ibu. Menyalahkan dirinya sendiri, karena tidak mampu melawan dan hanya diam dan seakan menikmati perbuatan itu.
Seharusnya dia, tidak melakukan kesalahan dan mendapatkan hukuman itu, seharusnya dia, meninggalkan saja tempat itu dan semua ini tidak akan terjadi kepadanya.
Lolly terus menyalahkan dirinya atas kejadian itu, merasa kecewa atas nasib hidupnya.
Sekarang pilih wanita itu adalah kematian. Ia belum sanggup menghadapi sang ibu, belum sanggup menghadapi orang lain dan belum sanggup menghadapi stigma orang-orang perusahaan agensi light Hugo yang selalu mengintimidasi dirinya.
Sudah dipastikan, mereka akan lebih menyalahkan dirinya notabenenya adalah korban. Mereka akan memberikan stigma, kalau dirinya lah yang berusaha menggoda tuan muda Kato, dengan berpura-pura melakukan kerja tambahan. Dan lebih menyedihkannya lagi, dirinya akan dituduh menjebak tuan muda itu.
Dalam suasana hening dengan derai air mata, Lolly menimbulkan senyum perihnya.
Rasa kecewa, menyesal dan rasa bersalah kini, memenuhi jiwa dan raga Lolly.
Kecewa pada dirinya sendiri yang begitu lemah. Menyesal karena tidak bisa menghindari kejadian pilu itu dan bersalah, karena tidak mampu menjaga kehormatannya.
"Aku sudah kotor, ibu. Tubuh ini sudah kotor. Aku, pendosa ibu, aku pendosa," racaunya dengan masih memperlihatkan tatapan kosongnya.
"Bukankah, bagi pendosa hukumnya adalah mati? Maka, biarkan hari ini aku memilih mati." Lirih Lolly yang kini mulai memejamkan matanya.
Luzi yang berada dekat dengan sang kakak mulai ketakutan saat, mendengar gumaman sang kakak.
Gadis itu berulang-ulang kali ingin menyentakkan tubuh sang kakak, tapi … dirinya ragu. Takut… usahanya akan menjadi sia-sia.
__ADS_1
Luzi hanya bisa bergerak gelisah dengan memasang wajah waspada. Ia mengerutut kesal bercampur gelisah, saat Liza tak kunjung muncul.
"Kemana, Liza," cicitnya sambil tetap mengawasi gerak-gerik Lolly.
Luzi bertambah ketakutan, saat Lolly menegakkan punggungnya dan menatap ke bawah.
"Kakak!" Pekik Luzi tanpa sadar.
"Kakak! Stop," tegurnya dengan nada gemetar.
"Please, jangan lakukan itu," mohon Luzi yang tangannya mulai meraih tubuh sang kakak.
Lolly tidak sedikitpun merespon ucapan sang adik, pada kenyataannya kini dirinya merasa berada di dunia lain.
"Kakak! Pekik gadis itu sekali lagi.
"Ingat lah ibu, kak. Ibu yang sekarang sedang terbaring koma. Ingat lah kami kak … adik-adik kakak, yang masih menyayangi kakak, masih membutuhkan kasih sayang, kakak," seru Luzi yang masih terus berusaha mencegah Lolly untuk melakukan tindakan bunuh diri.
Luzi masih terus berusaha menyadarkan kakak itu dengan terus memancing emosi sang kakak.
"Apa kakak tidak, menyayangi kami lagi? Apa kakak, sudah tidak menyayangi ibu? Kemana diri kakak yang tangguh dan pemberani. Yang tidak mudah rapuh dan terus berjuang untuk kami." Pekik Luzi yang masih mengeluarkan segala isi hatinya.
"Ayo kakak! Ikutilah." Ajak Luzi dengan menampilkan senyumnya. Ketika sang kakak menoleh ke arahnya. Luzi pun menyodorkan tangannya ke depan wajah Lolly.
Tapi, wanita itu seakan mengindahkannya, atau mengabaikannya.
Lolly kini menatap dalam mata indah Luzi dengan tatapan rapuh.
"Tidak! Jangan lakukan itu," cegah Luzi yang kini mencoba meraih pakaian sang kakak.
"Maaf!" Lirih Lolly dan mulai melepaskan dirinya.
"Kakak! Teriak Luzi yang berhasil menahan pakaian sang kakak.
"No! Bertahanlah kakak," pinta Luzi dengan tangisan sambil berjuang menyelamatkan sang kakak.
Lolly hanya bisa tersenyum pasrah dengan tatapan kosong.
"Tidak!" Pekik Luzi saat baju Lolly mulai tidak mampu menahan bobot tubuh Lolly.
"Aku mohon berusaha lah kak, aku mohon demi ibu dan demi kami," lirih, Luzi dengan isakan sesegukan.
"Bertahanlah kak!" Pintanya lagi sambil berusaha menarik pakaian yang digunakan sang kakak.
"Please, berikan tangan kakak," pinta Luzi yang pandangannya terhalang oleh derasnya air mata.
Lolly menggelengkan kepalanya dan memejamkan matanya pasrah.
"TIDAK!?
__ADS_1