Emergency Bed Tuan Muda Kato

Emergency Bed Tuan Muda Kato
bab 43


__ADS_3

"Selamat makan!" Seru Luzi untuk membuat suasana kebingungan itu sedikit mencair.


Liza dan Lolly masih memperhatikan dengan serius, menu masakan mewah yang sudah tersaji diatas meja makan.


Sedangkan, Lion hanya menampilkan wajah biasa sembari melirik Lolly yang tertangkap beberapa kali menelan ludahnya, saat — memilih dessert buatnya.


"Ayo kakak, di makan," sela Luzi yang sudah menyuapkan makan di dalam mulut mungilnya.


Liza pun masa bodoh, yang terpenting, malam ini dirinya bisa menikmati menu makanan mewah dan — kelihatannya lezat.


Lolly sendiri masih terdiam dengan pandangan kini tertuju, kepada pria tampan di depannya. Yang — sedang menikmati makanan kesukaannya yaitu, menu masakan ala Jepang.


"Kakak! Makanlah. Bukankah, kakak sendiri yang mengatakan, kita tidak boleh menolak, sebuah kebaikan," Seloroh gadis manis itu dengan, mulut penuh makanan.


"Tapi …."


"Hust! Kakak, juga mengatakan. Kalau, kita tidak boleh bicara di depan makanan," sambung gadis itu, yang membuat, Lolly mengurungkan niatnya untuk berkomentar.


"Makanlah!" Tiba-tiba, Lion meletakkan sebuah daging steak yang sudah dipotong kecil-kecil di depan Lolly.


Lolly menatap hidangan yang diberikan pria itu dengan wajah bingung dan bergantian melihat Lion, yang kembali menyantap makan malamnya, dengan raut wajah biasa saja.


Dengan ragu, Lolly menyuap potong daging itu menggunakan garpu masuk ke dalam mulutnya. Mengunyah dengan pelan dan merasakan lezatnya masakan yang ia nikmati malam ini.


Lion tampak tersenyum tipis sambil, minum air putih di dalam gelas bening. Ia dapat melihat raut wajah binar kenikmatan Lolly — dari balik gelas.


Mereka berempat pun menikmati, menu hidangan makan malam dengan begitu berselera. Lolly bahkan tanpa sadar, mencicipi semua menu makan malam itu, dengan raut wajah kagum dan menikmati.


______


"Apa, kamu menyukainya?" Suara berat yang berasal dari hadapannya, membuat Lolly menjeda menikmati dessert lezat itu.


Lolly memandangi wajah Lion dengan heran, sambil menjilat pinggir bibirnya dengan lidahnya. Ia melakukan itu, tanpa sadar.


Sedangkan, Lion memalingkan wajahnya dan berusaha menahan nafas, saat melihat tingkah Lolly.


"Saya, akan membuatnya lagi untukmu," timpal Lion, saat bisa mengenali sisi kejantanannya.


"A-apa?! Tanya Lolly pelan dengan wajah melongo.


"Dessert-nya! Saya, akan membuatnya lagi besok," timpal Lion.

__ADS_1


Langsung saja, Lolly melirik Luzi yang ternyata sudah menghilang, meninggalkan, Lolly dan Lion saja di ruang makan.


Lolly yang menyadari itu, mulai terlihat waspada dan gugup. Ia melirik Lion, yang masih setia melihatnya.


"Apa, kamu sudah, selesai?" Tanya Lion tiba-tiba.


Lolly hanya mengangguk dengan wajah mulai terlihat waspada.


"Biarkan, saya yang membersihkannya," sela Lion, yang lagi-lagi membuat Lolly kebingungan.


"Tidak! Biarkan, saya saja yang melakukannya," sentak Lolly, berdiri dari kursi makan dan mendekati Lion, tanpa sadar, Lolly merebut, Piring kotor yang berada di tangan Lion.


"Hati-hati!" Ujar Lion, dengan sigap, Menangkap, gelas kotor yang lepas dari genggaman tangan mungil gadis itu.


"Duduklah' biarkan saya yang melanjutkannya," tawar Lion yang mengambil alih kembali peralatan kotor yang berada di tangan Lolly.


Lion segera membawa perlengkapan kotor itu di — wastafel cuci piring Dan mencucinya dengan begitu cekatan.


Lolly sendiri masih membatu di tempatnya, yang memandangi punggung lebar Lion yang begitu cekatan dalam mengerjakan pekerjaan seorang pelayan.


Wanita itu, lantas membersihkan, sisa makanan yang ada di atas meja dan membawanya ke arah dapur. Lolly akan memindahkan, menu masakan yang tidak tersentuh itu, ke dalam wadah kering.


Lolly berjalan mendekat kepada Lion yang masih memunggunginya. Lolly pun ragu ingin mengucapkan sesuatu, meskipun itu, hanya permisi.


Sehingga, tubuh keduanya kini menempel. Dengan posisi Lolly seakan-akan berada di dalam pelukan dada hangat Lion.


Kedua tangan Lolly kini hampir menyentuh dada keras Lion, Lolly bahkan memejamkan matanya saat… menghirup wangi maskulin pria di depannya ini.


"Kamu, memerlukan sesuatu?" Tanya Lion pelan, yang menyerupai bisikan lirih di atas puncak kepala wanita itu.


Lolly pun tersadar, dan menjaga jarak dari Lion. Tanpa banyak berkata-kata, Lolly mencoba membuka laci dapur yang berada di atasnya.


Lolly mengambil sebuah wadah berwarna hitam, namun saat ingin menutup kembali, pintu laci dapur. Kening wanita itu, terbentuk oleh ujung pintu laci tersebut.


Membuat, Lolly mendesis kesakitan, sambil mengusap keningnya yang begitu sakit.


Lion menarik kembali Lolly ke sisinya, menangkup kedua sisi wajah imut Lolly, memaksanya mendongak dan mendekatkan bibirnya di kening Lolly.


Wanita itu, hanya bisa terdiam dengan wajah bingung dan entah mengapa ia seperti terhipnotis. Apalagi, ia bisa merasakan sapuan nafas hangat Lion di keningnya yang terbentur tadi, mungkin meninggalkan bekas merah.


Lion sendiri, terus meniup kening Lolly yang tampak merah, dengan wajah khawatir dan panik. Pria itu, bahkan memberikan kecupan lembut di kening Lolly yang merah.

__ADS_1


"Apa, masih sakit, hm?" Bisik Lion dengan tatapan mata mereka yang bertemu.


Lolly secara refleks menggeleng, dengan raut wajah linglung. Matanya pun tidak hentinya berkedip-kedip lucu dengan mulut mungilnya terbuka, membentuk huruf O.


Kedua telapak tangan Lion masih bertengger lembut di kedua sisi wajah imut Lolly. Dengan, pandangan terus menilai setiap sisi wajah wanita di depannya.


Dengan kepala menunduk, Lion lebih mendekatkan wajahnya ke wajah melongo Lolly. Hidung mancung keduanya kini, sudah saling bertemu.


Lion bahkan memiringkan sedikit kepalanya, saat melihat Lolly memejamkan mata. Semakin dekat, sampai akhirnya bibir mereka pun menempel. Lion terdiam sejenak. Ia ingin melihat reaksi Lolly, namun — wanita itu, tidak mengeluarkan reaksi apapun. Entah, itu penolakan atau mendamba.


Lion masih menatap wajah imut Lolly, ia pun menjauhkan bibirnya dari bibir mungil Lolly, setelah mengecupnya sekilas.


"Istirahatlah! Biarkan, saya yang melanjutkan," bisik Lion di atas bibir merekah Lolly.


Sekali lagi, Lion meninggalkan kecupan manis di bibir Lolly. Setelah itu, ia pun berjalan ke meja makan.


Lolly, memegang tepi wastafel cuci piring dengan kuat, menyentuh bibirnya. Dengan debaran jantung yang begitu kencang.


Lolly melihat ke depan. Di mana, Lion dengan serius membersihkan meja makan.


Lolly segera, berjalan ke kamarnya dengan wajah merah. Antara malu dan juga marah pada dirinya sendiri.


"Apa yang terjadi tadi. Kenapa, aku hanya diam," gumam Lolly mengerubuti dirinya sendiri.


"Akh! Dasar Lolly, munafik," maki wanita itu, sambil memukuli kepalanya.


"Menyebalkan!" Gerutunya, yang kini membaringkan tubuh mungilnya di atas ranjang sederhananya.


"Tuhan! Aku, pasti, sudah gila," gumam Lolly lirih.


Tidak lama, sebuah ketukan pintu membuat, wanita itu tersentak kaget. Ia melihat ke arah pintu kamar dengan wajah heran.


"Siapa? Tanya pada dirinya sendiri. "Apakah, Luzi?" Tanyanya lagi, sembari menjauh dari ranjang dan mendekat ke arah pintu kamar.


"Clek!"


"A-anda?"


"Biarkan, saya mengobati luka, kamu."


mampir yuk! di novel baru uma_bhie☺️🤭

__ADS_1



__ADS_2